Akhmad Yasyir Ridho Loebis Pengin Lahirkan Anak Idologis Sebelum Pensiun dari Dunia Politik
Anggota DPRD Sumut Fraksi Golkar, H. Akhmad Yasyir Ridho Loebis membeberkan mimpi besarnya sebelum pensiun dari dunia politik.
YASYIR RIDHO: Ketika saya terlahir sudah mengenal partai Golkar dan mungkin sampai mati saya tetap di Partai Golkar ini.
Dari sisi persahabatan dan perkawanan saya berkawan kepada semuanya. Tapi karakter dan prilaku saya ya Golkar.
Saya memahami sekali Golkar. Sebab saya dilahirkan dari organisasi yang punya hubungan sangat dekat dengan Golkar.
Sehingga mayoritas sabahat-sahabat saya ada di Golkar. Bukan karena fanatis-fanatis yang tidak masuk akal. Fanatis itu ada rasional dan irasional.
Kalau saya rasional karena sahabat-sahabat saya dari aktivitas sewaktu mahasiswa dan masyarakat sudah bersama orang-orang Partai Golkar.
TRIBUN: Jika mengikuti sepak terjang Abang di Golkar ini seperti roller coster. Bisa kita bilang ya naik dan turun. Ketika naik memipin Golkar dan menjadi pimpinan dewan. Kemudian turun, ada ditawari pindah ke partai lain?
YASYIR RIDHO: Kalau ditawari ya biasa, saya ditawari transfer sudah berkali-kali. Kalau saya ditawarkan itu. Biasa itu, kan biasa tapi enggak juga harus menerima, ada juga kelemahan diri saja karena lebih setia.
Nanti ketika aku pindah bagaimana perasaan kawan-kawan ini? Ada, mungkin juga itu habitat.
Mungkin sebagian dari perjalanan hidup sudah di partai itu sehingga sangat memahami ikrar panca bhakti partai Golkar dan menerjemahkan itu.
Saya yakini banyak yang tidak tahu. Bagaimana Golkar berjuang dengan kekaryaannya. Mungkin banyak enggak tahu sehingga jadi aneh prilaku partai Golkar itu.
Wajar orang tidak tahu, tidak bisa disalahkan tapi bagaimana orang enggak tahu itu bisa jadi sesuatu tersebut.
TRIBUN: Jadi tidak ada lagi transfer-transfer itu ya Bang?
YASYIR RIDHO: Tidak. Saya ini lahir besar tumbuh dan berkembang Insya Allah mati di Sumut dan Kota Medan. Mungkin berbeda dengan orang lain.
Saya ini lahir, besar dan tumbuh serta berkembang dan Insya Allah meninggal dunia di Kota Medan.
Saya besar dan kuliah di sini dibangdikan orang-orang lain. Kalau saya sudah menjalaninya sudah pernah dua kali maju dan dua kali menang. Tetapi, itu di Sumut-7 DPRD Sumut.
Dengan modalnya cekak tapi menang. Modal sosial saya lebih besar dari yang lain. Yakin saya punya kelebihan, apa itu?
Kenapa, calon itu waktunya payah tempat orang mati, kawin dll. Saya lebih banyak punya waktu dibanding yang lain. Saya lebih banyak punya waktu dari kegiatan ini. Kalau dibilang pengangguran ya pengangguran intelektual karena anggota DPRD Sumut.
Kalau setelah anggota DPRD saya bisa duduk duduk dimana-mana, kalau orang lain terbatas protokoler.
Kalau saya tidak. Kalau adinda mau ketemu jam 3 pagi, saya siap. Itukan kelebihan saya dibandingkan orang lain.
Jadi aktivitas dan kreativitas saya dalam berintegraksi dengan masyarakat lebih banyak dibandingkan orang lain. Kemudian, dorongan kawan-kawan, saya merasa dan meyakini kawan-kawan menginginkan saya untuk maju jadi anggota DPR RI.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/HAkhmad-Yasyir-Ridho-Loebis.jpg)