Akhmad Yasyir Ridho Loebis Pengin Lahirkan Anak Idologis Sebelum Pensiun dari Dunia Politik

Anggota DPRD Sumut Fraksi Golkar, H. Akhmad Yasyir Ridho Loebis membeberkan mimpi besarnya sebelum pensiun dari dunia politik.

Tayang:
Editor: Jefri Susetio
TRIBUNMEDAN.COM/JEFRI SUSETIO
Anggota DPRD Sumut Fraksi Golkar, H. Akhmad Yasyir Ridho Loebis membeberkan mimpi besarnya sebelum pensiun dari dunia politik. 

TRIBUNMEDAN.COM, MEDAN - Anggota DPRD Sumut Fraksi Golkar, H. Akhmad Yasyir Ridho Loebis membeberkan mimpi besarnya sebelum pensiun dari dunia politik.

Satu di antaranya ia pengin melahirkan anak idiologis untuk memimpin Partai Golkar maupun pejabat publik.

Oleh karena itu, ia tidak akan mengizinkan anak-anak kandungnya terjun ke dunia politik seperti dirinya.

Baca juga: Sekretaris Golkar Sumut Minta Rizki Tidak Lagi Jadi Anggota DPRD Karena Sudah Mundur dari Partai

 

Cita-cita politiknya itu ia sampaikan saat wawancara eksklusif dalam program Jumpa Tengah bersama Manager Liputan Tribun Medan/Tribun-Medan.com, Tengku Agus Khaidir.

Berikut rangkuman wawancara eksklusif dalam program Jumpa Tengah di studio-1 Harian Tribun Medan/Tribun-Medan.com, Jumat (4/8/2023).

TRIBUN: Sekilas pintas Bang Yasyir Ridho bergelar SH dan ST. Sarjana hukum dan sarjana teknik. Dan, tidak bisa dipungkiri juga Abang tidak bisa dipisahkan dengan dunia politik.

Orang-orang Medan dan Sumut mengenal Abang sebagai politisi. Pertanyaan saya ini, dari ST dan SH pada titik mana pergeseran, kenapa tidak masuk pengacara atau arsitek saja?

YASYIR RIDHO: Ya, itu perjalanan hidup saya dari organisasi saat sedang kuliah hingga tamat kuliah. Saya dulu aktif di KNPI Sumut. Saya Ketua KNPI Sumut terlama. Saya tujuh tahun menjadi Ketua KNPI Sumut tepatnya dari 2008 sampai 2015.

Tapi saya berorganisasi KNPI itu dari bawah, saya pengurus dari bawah. Saya tidak pernah tiba-tiba menjadi ketua dan sekretaris. Saya kader dari bawah bukan kadal.

Saya memulai di KNPI dari biro kemudian naik menjadi wakil sekretaris, wakil ketua lalu menjadi sekretaris. Dan menjadi ketua. Pengalaman itu menjadi modal saya masuk ke partai politik.

Sedangkan, akademik saya bergelar SH dan ST itu bagian dari literasi saya. Dan pembuktikan saya punya kemampuan secara intelektual.

Kemudian, saya lanjut sekolah pascasarjana juga bagian menambah kapasitas intelektual saya.

Saat ini saya ditawari kawan-kawan untuk lanjut ambil doktor alias S3. Tapi saya tolak. Sebab, saya takut anak-anak saya tidak mampu melebihi saya. Saya takut menjadi orang yang gagal.

Kenapa gagal? Anak saya lebih rendah intelektualnya dan pendidikannya dari saya. Belum tentu anak-anak saya melebih saya.

TRIBUN: Jadi kalau Bapak Magister, anak-anak harus doktor begitu?

YASYIR RIDHO: Ya benar saja. Kalau anak saya tidak mampu mengimbangi pendidikan saya bukan anaknya saya saja yang gagal. Tapi saya sebagai orangtua ikut gagal.

Jadi harus hati-hati. Keberhasilan saya sebagai orangtua apabila anak saya lebih dari saya.

Bapak saya sudah berhasil lantaran melahirkan saya. Bapak saya tamat SMA sedangkan saya sudah magister. Saya melampaui Bapak saya. Jadi yang berhasil itu Bapak-ku bukan aku.

Bapak saya dulu bekerja sebagai PNS tapi PNS masa lalu bagian dari partai politik yakni Partai Golkar. Bapak saya juga punya kartu Golkar. Lalu pada 1971 sampai 1977 aktif di Partai Golkar.

Kemudian, Bapak saya mencalonkan diri sebagai anggota DPRD pada 1977 tapi belum berhasil karena nomor urut sepatu. Dan, sekarang saya menang sehingga saya nyatakan yang sukses itu Bapak-ku.

Saya anggota DPRD Sumut dua periode dan semua jabatan sudah pernah saya lalui. Seperti menjadi ketua fraksi serta pimpinan dewan. Saat ini, saya tidak jadi apa-apa. Artinya, yang sukses itu orangtua saya bukan saya.

TRIBUN: Jadi kalau anak Abang bagaimana?

YASYIR RIDHO: Anak-anak saya larang masuk politik. Saya tidak mau mereka masuk ke dunia politik. Politik ini bukan bagian dari hidup mereka.

TRIBUN: Apa Abang rasa mereka tidak mampu mengiktui dinamika politik ini?

YASYIR RIDHO: Pasti-pastilah dinamika kehidupan dunia politik tidak sama dengan kehidupan lainnya. Kalau dia jadi PNS dan wirausaha tidak ada hubungan trik dan intrik politik.

Kalau kita di politik inikan berbeda. Hari demi hari itu harapan demi harapan. Tidak ada yang pasti, kepastian setelah diputuskan Allah SWT.

TRIBUN: Andai kata nanti ada baru menemukan passion ketika tamat kuliah.

YASYIR RIDHO: Saya tidak yakin karena passion. Tidak. Saya yakin itu karena didesain orangtuanya, mungkin takut anak-anaknya jadi pengangguran makanya dibuat jadi calon anggota DPRD.

Kalau saya, saya rasa tidak. Saya tidak pengin anak-anak saya terjun ke dunia politik. Mungkin yang akan saya lakukan melahirkan kader-kader idiologis bukan kader biologis.

Bukan mesti anak saya menjadi anggota DPRD Sumut, mungkin anak orang tapi pikirannya itu pikiran saya. Kader idiologis. Bukan mesti keluarga kita, bukan mesti anak tulang, nangboru yang harus jadi pemimpin.

Saya tidak pernah punya keluarga di partai yang sama seperti abang dan adek saya.

Abang dan adik tidak harus menjadi pemimpin di partai politik ketika saya jadi pemimpin di partai itu.

Saya juga pernah berkuasa di partai politik, tapi tidak pernah menggunakan kekuasaan yang saya miliki untuk mendudukan keluarga saya. Dan, marga-marga lubis itu. Padahal bisa saya lakukan.

Saya sudah tidak melakukan KKN sedari saya menjabat Ketua KNPI Sumut. Selama tujuh tahun menjadi Ketua KNPI Sumut tidak pernah ada marga lubis menjadi ketua. Yang ada marga Nasution, Siregar.

Bisa juga sesama marga Lubis saya perjuangkan atau kader tetapi harus punya potensi. Jangan pula biar keluargaku saja. Yang menjadi persoalan di republik ini ya KKN.

Pada masa lalu, orang-orang berkuasa di republik ini banyak melahirkan orang-orang. Dan saya dilahirkan oleh senior-senior saya. Bukan Bapa saya yang melahirkan saya (artian bukan kader orangtua ke politik).

Bapak saya PNS, pensiunan enggak punya apa-apa. Enggak mungkin saya jadi kakrena harta warisan Bapak-ku. Bapak-ku tidak ada harta warisannya. Tidak punya harta warisan.

Ada orang-orang dimasa saya dulu mendukung sehingga saya dibesarkan oleh orang. Tapi sekarang bergeser. Pergeseran nilai ini saya anggap tidak sehat.

Tidak sedikit senior kami itu melahirkan anak dan istrinya untuk ditempatkan ke dunia politik. Itulah disebut anak biologis bukan idiologis.

Saya ini anak idiologis orang juga. Nah saya akan melahirkan anak-anak idiologi. Itulah mimpi saya.

Baca juga: Golkar Sumut Kuningkan Kota Medan, Target 24 Kursi DPRD

 

TRIBUN: Tetap dipartai yang sama ?

YASYIR RIDHO: Ya tetap dipartai yang sama karena dari lahir saya di partai yang sama.

TRIBUN: Bagaimana penjelasannya idiologis juga atau biologis?

YASYIR RIDHO: Ketika saya terlahir sudah mengenal partai Golkar dan mungkin sampai mati saya tetap di Partai Golkar ini.

Dari sisi persahabatan dan perkawanan saya berkawan kepada semuanya. Tapi karakter dan prilaku saya ya Golkar.

Saya memahami sekali Golkar. Sebab saya dilahirkan dari organisasi yang punya hubungan sangat dekat dengan Golkar.

Sehingga mayoritas sabahat-sahabat saya ada di Golkar. Bukan karena fanatis-fanatis yang tidak masuk akal. Fanatis itu ada rasional dan irasional.

Kalau saya rasional karena sahabat-sahabat saya dari aktivitas sewaktu mahasiswa dan masyarakat sudah bersama orang-orang Partai Golkar.

TRIBUN: Jika mengikuti sepak terjang Abang di Golkar ini seperti roller coster. Bisa kita bilang ya naik dan turun. Ketika naik memipin Golkar dan menjadi pimpinan dewan. Kemudian turun, ada ditawari pindah ke partai lain?

YASYIR RIDHO: Kalau ditawari ya biasa, saya ditawari transfer sudah berkali-kali. Kalau saya ditawarkan itu. Biasa itu, kan biasa tapi enggak juga harus menerima, ada juga kelemahan diri saja karena lebih setia.

Nanti ketika aku pindah bagaimana perasaan kawan-kawan ini? Ada, mungkin juga itu habitat.

Mungkin sebagian dari perjalanan hidup sudah di partai itu sehingga sangat memahami ikrar panca bhakti partai Golkar dan menerjemahkan itu.

Saya yakini banyak yang tidak tahu. Bagaimana Golkar berjuang dengan kekaryaannya. Mungkin banyak enggak tahu sehingga jadi aneh prilaku partai Golkar itu.

Wajar orang tidak tahu, tidak bisa disalahkan tapi bagaimana orang enggak tahu itu bisa jadi sesuatu tersebut.

TRIBUN: Jadi tidak ada lagi transfer-transfer itu ya Bang?

YASYIR RIDHO: Tidak. Saya ini lahir besar tumbuh dan berkembang Insya Allah mati di Sumut dan Kota Medan. Mungkin berbeda dengan orang lain.

Saya ini lahir, besar dan tumbuh serta berkembang dan Insya Allah meninggal dunia di Kota Medan.

Saya besar dan kuliah di sini dibangdikan orang-orang lain. Kalau saya sudah menjalaninya sudah pernah dua kali maju dan dua kali menang. Tetapi, itu di Sumut-7 DPRD Sumut.

Dengan modalnya cekak tapi menang. Modal sosial saya lebih besar dari yang lain. Yakin saya punya kelebihan, apa itu?

Kenapa, calon itu waktunya payah tempat orang mati, kawin dll. Saya lebih banyak punya waktu dibanding yang lain. Saya lebih banyak punya waktu dari kegiatan ini. Kalau dibilang pengangguran ya pengangguran intelektual karena anggota DPRD Sumut.

Kalau setelah anggota DPRD saya bisa duduk duduk dimana-mana, kalau orang lain terbatas protokoler.

Kalau saya tidak. Kalau adinda mau ketemu jam 3 pagi, saya siap. Itukan kelebihan saya dibandingkan orang lain.

Jadi aktivitas dan kreativitas saya dalam berintegraksi dengan masyarakat lebih banyak dibandingkan orang lain. Kemudian, dorongan kawan-kawan, saya merasa dan meyakini kawan-kawan menginginkan saya untuk maju jadi anggota DPR RI.

(*)

 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved