Taliban Berhasil Kuasai Afghanistan, Terkuak Masuknya Aliansi China
Pergerakan cepat Taliban untuk menguasai Afghanistan ini rupanya tak lepas dari peran Donald Trump saat dirinya masih menjabat sebagai Presiden AS.
Kemungkinan besar Ashraf Ghani akan membuka pembentukan pemerintahan transisi.
Sedangkan perwakilan negara-negara NATO menggelar pertemuan membahas masa depan Afghanistan di Brussels, Jumat 13 Agustus 2021.
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg dan 30 duta besar negara anggota ikut serta dalam pertemuan di Brussels, menurut seorang pejabat NATO yang berbicara dengan syarat anonim.
“Sekutu terus-menerus berkonsultasi tentang situasi di Afghanistan,” kata pejabat itu, seraya menambahkan bahwa Stoltenberg “secara teratur berhubungan dengan sekutu dan pihak berwenang Afghanistan.”
“NATO memantau situasi keamanan dengan sangat cermat. Kami terus berkoordinasi dengan pihak berwenang Afghanistan dan komunitas internasional lainnya,” kata pejabat itu.
Serangan kilat Taliban, membuat Amerika Serikat mengirimkan 3.000 tentara baru ke bandara Kabul untuk membantu evakuasi sebagian staf Kedutaan Besar AS.
Pertempuran itu telah menimbulkan kekhawatiran akan terjadi krisis pengungsi dan kemunduran dalam hak asasi manusia sejak Taliban digulingkan.
Sekitar 400.000 warga sipil telah dipaksa meninggalkan rumah mereka sejak awal tahun, 250.000 di antaranya sejak Mei, kata seorang pejabat PBB.
"Situasinya memiliki semua ciri bencana kemanusiaan," kata Thomson Phiri dari Program Pangan Dunia PBB, WFP dalam sebuah pengarahan. WFP khawatir tentang "gelombang kelaparan yang lebih besar," katanya.
Di bawah pemerintahan Taliban, perempuan tidak bisa bekerja, anak perempuan tidak diizinkan bersekolah dan perempuan harus menutupi wajah mereka dan ditemani oleh kerabat laki-laki jika mereka ingin keluar dari rumah.
Pada awal Juli, pejuang Taliban memerintahkan sembilan wanita untuk berhenti bekerja di bank.
Prediksi Sebelumnya, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani Akan Turun Tahta
Dikutip dari siaran Kompas TV, Presiden Afghanistan diperkirakan akan turun takhta dalam beberapa jam ke depan, menyusul Taliban yang telah memasuki ibu kota Kabul pada Minggu (15/8/2021).
Hal itu diungkapkan sejumlah sumber seperti dikutip dari Al Arabiya.
Menurut Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, peralihan kekuasaan akan dilakukan secara damai tanpa peperangan.
Bentrokan antara pasukan nasional Afghanistan dan Taliban berlangsung di kawasan selatan dan utara pinggiran kota Kabul. Bentrokan tetap terjadi kendati sebelumnya juru bicara Taliban menyatakan, kelompok pemberontak itu telah diperintahkan untuk tak menyerbu ibu kota yang merupakan benteng terakhir pemerintah di Afghanistan.
Ia menambahkan, Taliban tak berniat membalas dendam pada siapa pun. Taliban juga mengklaim akan memberi pengampunan pada mereka yang telah bekerja melayani pemerintah dan militer Afghanistan.
Sejauh ini, kepresidenan Afghanistan di Kabul masih menegaskan bahwa situasi di ibu kota masih terkendali.
Di Kabul, warga tampak mengantri di bank-bank untuk menarik seluruh simpanan uang mereka sebelum bank tutup karena kurangnya likuiditas.

Sebuah helikopter Chinook milik militer Amerika Serikat (AS) tampak mengudara di atas kota Kabul, Afghanistan, Minggu (15/8/2021). Helikopter ini diperkirakan mengevakuasi para diplomat Amerika Serikat (AS) dari kedutaan besar (Sumber: AP Photo/Rahmat Gul)
Melansir Associated Press, warga yang panik pula bergegas menuju bandara internasional Kabul untuk meninggalkan Afghanistan.
Para pegawai pemerintah juga melarikan diri dari kantor-kantor pemerintah Afghanistan.
Para diplomat Amerika Serikat (AS) dievakuasi dari kedutaan besar menggunakan helikopter.
Seorang sumber pejabat AS menyebut, kurang dari 50 petugas akan tetap berada di Kabul.
Sejumlah anggota staf Uni Eropa juga telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman di Kabul.
Menurut seorang pejabat NATO, lokasi evakuasi tak diungkap demi alasan keamanan.
Kantor Dalam Negeri Inggris menyatakan tengah bekerja untuk melindungi warga negara Inggris di Afghanistan dan membantu mantan staf serta mereka yang memenuhi syarat untuk dievakuasi ke Inggris.
Sebaliknya, Rusia menyatakan tak berniat mengevakuasi para pejabatnya dari Kabul.
Kantor berita Tass melaporkan, Taliban juga telah memastikan keselamatan Kedutaan Besar Rusia di ibu kota Afghanistan itu.
Situasi keamanan terkini di Kabul berubah cepat, menyusul jatuhnya beberapa kota utama ke tangan Taliban pada pekan lalu. Sebagian besar kota itu dikuasai Taliban tanpa pertempuran.
Milisi Taliban kuasai Istana Presiden Afghanistan, Senin (16 Agustus 2021). (AP Photo/Zabi Karimi/Via CNN)
Milisi Taliban kuasai Istana Presiden Afghanistan, Senin (16 Agustus 2021). (AP Photo/Zabi Karimi/Via CNN)
Milisi Taliban kuasai Istana Presiden Afghanistan, di Kabul, Senin (16 Agustus 2021). (AP Photo/Zabi Karimi/Via CNN)
Akhirnya Pemerintahan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani Tumbang
Terkini, Pada Senin 16 Agustus 2021, Presiden Ashraf Ghani meninggalkan Afghanistan setelah Taliban memasuki wilayah ibu kota Kabul.
Presiden Ghani mengatakan ia ingin menghindari pertumpahan darah, menandakan berakhirnya eksperimen Barat selama 20 tahun yang bertujuan untuk membangun kembali Afghanistan.
Taliban menyebar ke seluruh ibu kota pada Minggu (15/8/2021) dan menguasai istana kepresienan.
AlJazeera memperoleh rekaman eksklusif komandan Taliban di istana, terlihat pula puluhan pejuang bersenjata.
Kabul dicekam kepanikan, dengan helikopter berlalu-lalang di atas kota sepanjang hari untuk mengevakuasi anggota kedutaan Amerika Serikat (AS).
Foto selebaran ini diambil pada 23 Februari 2021 dan dirilis oleh Kantor Pers Presiden Afghanistan menunjukkan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani berbicara selama upacara di Istana Kepresidenan di Kabul, ketika Afghanistan meluncurkan kampanye vaksinasi Covid-19. (Kantor Pers Presiden Afghanistan / AFP)
Asap membubung di dekat kompleks kedutaan saat staf menghancurkan dokumen penting dan bendera AS diturunkan.
Beberapa negara Barat yang ada di Afghanistan juga bersiap untuk menarik orang-orang mereka keluar.
Orang-orang Afghanistan yang takut bahwa Taliban bisa menerapkan kembali aturan brutal yang menghilangkan hak-hak wanita, bergegas meninggalkan negara itu. Mereka mengantre di mesin ATM untuk menarik tabungan.
Orang-orang miskin - yang telah meninggalkan rumah di pedesaan demi keamanan ibu kota - tinggal di taman dan ruang terbuka di seluurh kota.
Saat Taliban mendekat ke arah Kabul, Presiden Ashraf Ghani terbang ke luar negeri.
"Mantan Presiden Afghanistan meninggalkan Afghanistan, meninggalkan negara dalam situasi sulit ini," kata Abdullah, Kepala Dewan Rekonsiliasi Nasional Afghanistan.
"Tuhan harus meminta pertanggungjawabannya."
Ghani kemudian mengunggah di Facebook bahwa dia memilih meninggalkan Afghanistan untuk mencegah pertumpahan darah di ibu kota, tanpa mengatakan ke mana dia pergi.
Media lokal melaporkan Ghani pergi ke Tajikistan.
Ribuan rakyat Afghanistan mengungsi dan tidur di pinggir jalan di ibu kota Kabul. Mereka melarikan diri setelah kampung halaman mereka yang diserang Taliban. (Sumber: BBC ) (Via Kompas.TV)
Dikutip dari Tribunnews.com, Ghani mengatakan dia yakin "patriot yang tak terhitung jumlahnya akan menjadi martir dan kota Kabul akan dihancurkan" jika dia tetap tinggal.
"Taliban telah menang dan sekarang bertanggung jawab atas kehormatan, properti, dan pemeliharaan diri warga negara mereka," ujarnya.
Meski Taliban telah menjanjikan transisi damai, kedutaan AS menangguhkan operasi dan memperingatkan orang Amerika pada Minggu sore, agar berlindung di tempat dan tidak mencoba pergi ke bandara.
Penerbangan komersial dihentikan setelah tembakan sporadis meletus di bandara, menurut dua pejabat senior militer AS yang berbicara pada kantor berita The Associated Press.
Evakuasi berlanjut dengan penerbangan militer, tetapi penghentian lalu lintas komersial menutup salah satu rute terakhir yang tersedia bagi warga Afghanistan yang melarikan diri.
Minggu malam, pejuang Taliban dikerahkan di Kabul, mengambil alih pos polisi yang ditinggalkan dan berjanji akan menjaga hukum dan ketertiban selama masa transisi.
Taliban telah merebut 26 dari 34 ibu kota provinsi Afghanistan sejak 6 Agustus.
Padahal, miliaran dolar dihabiskan oleh AS dan NATO selama hampir 20 tahun untuk membangun pasukan keamanan Afghanistan.
Hanya beberapa hari sebelumnya, penilaian militer AS memperkirakan perebutan wilayah yang dilakukan akan terjadi selama sebulan sebelum mereka tiba di ibu kota.
Sebaliknya, Taliban dengan cepat mengalahkan, mendorong pasukan keamanan Afghanistan melarikan diri, meski mereka mendapat dukungan udara dari militer AS.
Rob McBride dari AlJazeera, melaporkan dari Kabul, mengatakan itu adalah hari "perkembangan luar biasa", karena Ghani diperkirakan akan terlibat dalam negosiasi mengenai transfer kekuasaan.
"Saya pikir semua orang menerima, itu akan menjadi semacam kesepakatan yang tidak akan melibatkan Ashraf Ghani," ujarnya.
"Tapi, saya tidak berpikir ada yang mengantisipasi bahwa dia akan meninggalkan Afghanistan sepenuhnya dan begitu cepat," lanjutnya.
McBride mengatakan secara umum Taliban diterima, selama mereka memasukkan beberapa elemen dari pemerintah sebelumnya dalam perjanjian apapun untuk mendapat leitimasi dan diterima oleh komunitas internasional lebih luas.
"Banyak orang yang tidak menginginkan kembalinya gaya pemerintahan Taliban," ungkapnya.
Tak akan Pakai Kekerasan
Seorang pejuang Taliban memegang granat berpeluncur roket (RPG) di Herat, kota terbesar ketiga di Afghanistan Jumat (13/8/2021), setelah pasukan pemerintah ditarik keluar sehari sebelumnya setelah berminggu-minggu dikepung. (AFP)
Sebelumnya pada Minggu, Taliban merilis pernyataan yang mengatakan mereka telah menginstruksikan pasukan mereka untuk tidak melintasi gerbang Kabul dan merebut kota itu dengan paksa.
Sebaliknya, mereka mengatakan, negosiasi sedang berlangsung untuk memastikan bahwa proses transisi selesai dengan aman dan selamat, tanpa mengorbankan nyawa, properti dan kehormatan siapa pun, dan tanpa mengorbankan kehidupan warga sipil di Kabul.
Mereka juga merilis pernyataan lain yang mencoba meyakinkan bank, pedagang, dan pengusaha lain bahwa properti, uang, dan institusi mereka tidak akan diganggu oleh kelompok bersenjata.
Terlepas dari jaminan tersebut, orang-orang terus meninggalkan jalan-jalan kota dan mencoba mencari cara untuk pulang.
Sementara itu, Pakistan telah menutup persimpangan Torkham dengan Afghanistan setelah Taliban mengambil alih sisi perbatasan Afghanistan, kata Menteri Dalam Negeri Pakistan Sheikh Rashid Ahmad.
Sumber Keuangan Taliban
Jika diperhatikan dengan teliti, penampilan Taliban tahun 2021 terlihat sangat berbeda dari Taliban akhir 1990-an.
Senjata mereka terlihat baru dan bersinar; kendaraan jenis Humvee atau Humvee mereka berjalan dengan sempurna; pakaian yang mereka kenakan terlihat bersih dan baru; gaya rambut mereka yang rapi, perbedaan yang signifikan dari penampilan acak-acakan dahulu kala.
Secara keseluruhan, Taliban tahun 2021 tidak lagi terlihat fanatik; kasar; milisi acak-acakan mereka dulunya terlihat gemetar, mencambuk dan mengeksekusi perempuan (dan laki-laki), saat berkuasa pada akhir 1990-an.
Tim perunding Taliban dalam pertemuan di Qatar (afp)
Sekarang, Taliban terlihat sebagai pasukan disiplin yang terdiri dari pejuang yang cukup makan dan kaya dalam misi untuk mengambil alih Afghanistan.
Jadi berapa nilai pundi-pundi Taliban, dan dari mana uang mereka berasal?
Pada tahun 2016, Forbes menempatkan Taliban sebagai organisasi teroris terkaya kelima dari 10 kelompok teroris.
Saat itu ISIS didaulat yang terkaya dengan omzet 2 miliar dolar AS, Taliban di nomor lima memiliki omzet tahunan sebesar 400 juta dolar AS.
Forbes menyebut sumber pendapatan utama Taliban dari perdagangan narkoba, uang perlindungan dan sumbangan, dan saat itu 2016, Taliban bukan kekuatan dominan di Afghanistan.
Menurut laporan rahasia NATO yang diakses oleh Radio Free Europe/Radio Liberty, anggaran tahunan Taliban pada tahun keuangan 2019-2020 adalah 1.6 miliar dolar AS, meningkat 400 persen dalam empat tahun jika dibandingkan dengan angka Forbes tahun 2016.
RFE/RF memberikan rincian pendapatan yang mencantumkan kepala yang berbeda di mana Taliban mendapatkan dolar mereka.
- Pertambangan: 464 juta dolar AS
- Narkoba: 416 juta dolar AS
- Sumbangan Asing: 240 juta dolar AS
- Ekspor: 240 juta dolar AS
- Pajak: 160 juta dolar AS (Uang Perlindungan/Pemerasan)
- Real Estat: 80 juta dolar AS
Laporan rahasia NATO menyoroti fakta bahwa kepemimpinan Taliban mengejar swasembada untuk menjadi entitas politik dan militer yang independen.
Selama bertahun-tahun organisasi tersebut telah mengurangi ketergantungannya pada sumbangan dan kontribusi asing.
Pada 2017-18 dilaporkan Taliban telah menerima sekitar 500 juta dolar AS atau sekitar setengah dari total pendanaannya dari sumber asing; ini telah berkurang menjadi sekitar 15 persen dari total pendapatan mereka, pada tahun 2020.
Pada tahun fiskal yang sama, anggaran resmi Pemerintah Afghanistan mencapai 5.5 miliar dolar AS, dan dari jumlah ini hanya kurang dari 2 persen untuk pertahanan.
Namun, sebagian besar pendanaan 'menjauhkan Taliban dari proyek Afghanistan', diambil oleh Amerika.
AS, yang sekarang mundur dari Afghanistan setelah 20 tahun, menghabiskan hampir satu triliun dolar selama 19 tahun dalam pengeluaran militer baik secara langsung memerangi Taliban atau dalam melatih pasukan Afghanistan untuk memerangi Taliban. Kini, Taliban sudah siap memainkan peranan sebagai penguasa Afghanistan.
Terkuak Kesepakatan China dengan Taliban yang Dianggap Saling Menguntungkan
KERJA SAMA CHINA-TALIBAN: Menurut 24h.com.vn, pada Kamis (29/7/21) Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada 28 Juli mengungkapkan pandangannya tentang Taliban. (24h.com.vn)
Menurut 24h.com.vn, pada Kamis (29/7/21) Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada 28 Juli mengungkapkan pandangannya tentang Taliban setelah melakukan pertemuan resmi dengan Taliban, dan mencapai suatu kesepakatan.
Menurutnya Taliban "memainkan peran penting dalam proses rekonsiliasi dan rekonstruksi perdamaian di Afghanistan".
Dalam pertemuan resmi itu, ada 9 orang penting di Taliban yang melakukan pertemuan dengan China.
Sembilan perwakilan Taliban, termasuk salah satu pendiri kelompok itu, Mullah Abdul Ghani Baradar.
Mereka bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di kota Tianjin, kata juru bicara Taliban Mohammed Naeem.
"Isu-isu yang dibahas meliputi politik, ekonomi, keamanan nasional serta situasi saat ini dan proses perdamaian di Afghanistan," kata Naeem, menurut Sputnik.
Juru bicara Taiban menambahkan bahwa pemimpin organisasi itu, Baradar, juga bertemu dengan perwakilan misi khusus China di Afghanistan.
"Taliban menjamin tidak akan membiarkan siapa pun menggunakan wilayah Afghanistan untuk menargetkan China," kata Naeem.
"Sementara China juga menunjukkan komitmennya untuk mendukung rakyat Afghanistan dan tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Afghanistan," kata Naeem.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China pada 28 Juli mengkonfirmasi bahwa Menteri Luar Negeri Wang Yi telah bertemu dengan delegasi Taliban di Tianjin.
Mengkritik penarikan AS dan NATO, melihatnya sebagai kegagalan kebijakan AS, Wang mendesak Taliban untuk berperan dalam proses perdamaian di Afghanistan.
"Taliban di Afghanistan adalah kekuatan militer dan politik yang akan memainkan peran penting dalam proses perdamaian, rekonsiliasi dan rekonstruksi negara," kata Wang.
China juga meminta Taliban untuk memutuskan semua hubungan dengan Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM).
"ETIM adalah organisasi yang terdaftar sebagai teroris internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang secara langsung mengancam keamanan nasional China," kata Wang, merujuk pada aktivitas aktif gerakan Islam di Xinjiang barat China.
"Memerangi ETIM adalah tanggung jawab bersama komunitas internasional dan saya berharap Taliban akan sepenuhnya memutuskan hubungan dengan kelompok teroris ini," kata Wang.
"Taliban juga dapat berkontribusi pada upaya untuk menindak ETIM, berpartisipasi dalam mendukung perdamaian dan pembangunan regional," jelas Wang.
Peran Penting China di Balik Kerjasamanya dengan Taliban dan Pakistan
Dilaporkan CBNC dan Anadolu Agency, kantor berita Turki, dalam kesempatan itu, China dan Taliban juga membahas AS dan sekutunya (NATO) dengan menyebut sebuah kegagalan di Afghanistan.
Lantas apa sebetulnya niat pemerintahan Xi Jinping di Afghanistan? Ya faktor ekonomi.
Afghanistan memiliki cadangan sumber daya alam terbesar di dunia yang belum dieksploitasi seperti tembaga, batu bara, kobalt, merkuri, emas, dan lithium, senilai lebih dari US$ 1 triliun.
Selain itu, China ingin mengunci musuhnya (India)---sekutunya AS-----yang merupakan investor asing terbesar di negara Afghanistan. Dimana, di masa pemerintahan Ashraf Ghani, para penguasa di Kabul memiliki hubungan kuat dengan India.
India telah mengucurkan dana bantuan rekonstruksi senilai US$3 miliar atau setara Rp 45 triliun yang merupakan terbesar di kawasan.
Pada November 2020, India mengumumkan 150 proyek baru senilai USD 80 juta atau setara Rp 1,16 triliun di Afghanistan. Bahkan sebelum Presiden Ashraf Ghani berkuasa, mantan kepala eksekutif Abdullah Abdullah atau mantan presiden Hamid Karzai, semua telah tinggal di India selama bertahun-tahun di beberapa titik dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, China berambisi mengunci stabilitas Afganistan dengan mengajak kerja sama Taliban untuk kelanjutan keberhasilan proyek-proyek utama China di Asia Selatan dan Tengah.
Sebelumnya, tetangga India, selain Afghanistan, yaitu Pakistan telah berhasil bekerjasama dengan China. Deal yang disepakati China dan Pakistan bernilai US$ 46 miliar atau setara dengan Rp 667 triliun (kurs Rp 14.500/US$) atau setara dengan 20% dari PDB Pakistan.
Oleh karena itu, alih-alih menjadi konflik antara Taliban dan Afghanistan, situasi di negara Asia Tengah itu telah berubah menjadi pertarungan kawasan dengan melibatkan aliansi Rusia-China dan AS-India.
Koridor Ekonomi China-Pakistan adalah proyek unggulan China di kawasan itu dan kedua negara ingin melibatkan Afghanistan melalui jalur jalan raya dan kereta api.
Oleh karena itu, China bersama Pakistan menekan koridor ekonomi (CPEC) yang merupakan bagian dari Belt Road Iniative (BRI). Inisiatif ini dibentuk sejak tahun 2013.
Di sisi lain, CPEC tidak hanya akan menguntungkan China dan Pakistan tetapi akan jauh berdampak positif juga bagi Afghanistan, dan kawasan. Strategi China ini diduga juga untuk merintangi manuver ekonomi India di kawasan dan memastikan Taliban-Pakistan tidak menyerang proyek CPEC.
"Pakistan adalah sekutu China yang paling kuat, dan China akan sangat bergantung pada Pakistan untuk memastikan proyek-proyeknya di Afghanistan dan secara regional aman. Hal itulah sebabnya China telah menekan Pakistan untuk meyakinkan Taliban untuk lebih fleksibel, seperti yang dimanifestasikan oleh saran Wang bahwa China dan Pakistan harus terus memperkuat strategi koordinasi untuk memberikan pengaruh yang lebih positif pada proses perdamaian di Afghanistan," demikian laporan CNBC.
Kini, India bersiap untuk masa-masa yang penuh gejolak. Ongkos mahal yang sudah dikeluarkan India tidak akan mereka biarkan begitu saja untuk membiarkan aliansi China-Pakistan menguasai Afghanistan.
Sementara, Pemerintah Rusia (sekutu China-Pakistan) mengatakan tak berencana untuk mengevakuasi staf dan diplomatnya dari Kedutaan Besarnya di Kabul, meski Taliban telah mengambilalih kekuasaan di Afghanistan.
"Tidak ada evakuasi yang direncanakan," kata pejabat Kementerian Luar Negeri Rusia, Zamir Kabulov seperti dilansir AFP, Minggu (15/8/2021).
Kabulov menambahkan bahwa pihaknya sudah berkomunikasi langsung dengan Duta besar Rusia di Kabul.
Para staf Kedutaan Rusia juga tetap bekerja dengan tenang seperti baiasa.
Bahkan selain Rusia, di luar negara-negara AS dan NATO, telah mendapat jaminan dari Taliban.
"Kami menerima jaminan ini beberapa waktu lalu. Ini bukan Rusia saja (di luar AS-sekutunya)," kata Kabulov.
Sikap Rusia berbanding terbalik dengan negara-negara lainnya.
Diketahui Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya telah bergegas mengevakuasi warganya dari ibu kota Kabul Afghanistan, usai Taliban mulai menguasai pemerintahan Afghanistan.
(*/Tribun-Medan.com/ indiatoday/ KompasTV/ Intisari)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/milisi-taliban-kuasai-istana-presiden-afghanistan.jpg)