Taliban Berhasil Kuasai Afghanistan, Terkuak Masuknya Aliansi China

Pergerakan cepat Taliban untuk menguasai Afghanistan ini rupanya tak lepas dari peran Donald Trump saat dirinya masih menjabat sebagai Presiden AS.

Editor: AbdiTumanggor
AP Photo/Zabi Karimi/Via CNN
Milisi Taliban kuasai Istana Presiden Afghanistan, di Kota Kabul, Senin (16 Agustus 2021). Taliban menyatakan perang di Afghanistan telah berakhir setelah gerilyawan menguasai istana presiden di Kabul. Pasukan pimpinan AS pergi dan negara-negara Barat bergegas mengevakuasi warganya Senin (16/8/2021). Sementara Presiden Ashraf Ghani melarikan diri dari negara itu pada hari Minggu (15/8/2021) dengan alasan untuk menghindari pertumpahan darah, dan warga Afghanistan meninggalkan bandara Kabul. 

"Selalu ada harapan bahwa China akan matang menjadi warga negara yang bertanggung jawab secara global dan berpartisipasi dalam standar dan nilai internasional kami," katanya.

"Apa yang kita lihat sekarang adalah China menulis ulang aturan global menjadi aturannya sendiri," imbuhnya.

"Hong Kong, aturan di sana adalah contoh yang bagus, perlakuannya terhadap penduduk Uyghur, contoh kontrolnya dan kemajuan masyarakat," jelasnya.

"Tentu saja kami melihat perluasan pengaruhnya di seluruh dunia, baik di bidang militer, teknologi, dan ekonomi," ungkapnya.

Ellwood juga menambahkan bahwa negara-negara lain dapat menggunakan agresi China terhadap dirinya sendiri dengan mempengaruhi perdagangan.

"China membutuhkan hubungan dengan seluruh dunia untuk berdagang, untuk memberi makan kelas menengahnya yang sedang tumbuh," katanya.

"Untuk memungkinkan ekonominya berkembang, tidak seperti Uni Soviet yang sangat mandiri dan bekerja sendiri," imbuhnya yang dikutip dari Intisari.

Kuasai Afghanistan

Kesempatan terbaik untuk menguasai Afghanistan terbukti. Sebelumnya, Taliban telah mengambil ali 18 ibu kota provinsi dari 34 provinsi di Afghanistan sejak Agustus. Bahkan, assesmen dari dinas intelijen AS mengatakan bawa Taliban dapat merebut ibu kota Afghanistan, Kabul, dalam waktu 90 hari, lebih cepat dari perkiraan semula.

Pada Kamis (12/8/2021), kota terbesar kedua dan ketiga Afghanistan, Herat dan Kahandar, sudah direbut Taliban setelah pertempuran selama lebih dari dua pekan.

Keberhasilan Taliban merebut dua kota tersebut membuat warga Herat dan Kahandar marah dengan sikap Pemerintah Afghanistan.

Mereka menilai usaha pemerintah untuk mempertahankan kedua kota penting tersebut tidaklah besar.

Kepada Al Jazeera, salah satu warga Kahandar mengatakan, "Mereka secara jelas telah menjual kami. Tak ada usaha perlawanan dari pemerintah."

"Saya tak pernah membayangkan Kahandar akan begitu mudahnya diambil alih," imbuhnya.

Hal itu juga diakui oleh pendukung miliki anti-Taliban yang dikenal sebagai "Kekuatan Pemberontakan" di sebelah barat Herat.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved