Banjir dan Longsor di Tapteng
3 Minggu di Pengungsian Tapteng, Penyintas Banjir Masih Menanti Pasokan Air dan Nutrisi yang Layak
Pengungsi banjir di Tapteng blak-blakan tiga minggu bertahan dalam kepungan mi instan.
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Tria Rizki
Nestapa Pengungsi Banjir di Tapteng, Tiga Minggu Bertahan Dalam Kepungan Mi Instan Penyintas : Bantuan Mulai Berkurang
TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN - Rasa jenuh dan khawatir mulai menyelimuti para penyintas banjir yang mengungsi di Masjid Al-Musanif Syariful Hasanah Kelurahan Sibuluan Raya Kecamatan Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah.
Pasalnya, mereka terpaksa tetap berada di pengungsian setelah 22 hari atau tiga minggu lebih satu hari pasca bencana banjir dan longsor yang mengakibatkan rumah mereka belum bisa ditempati sementara waktu karena dipenuhi lumpur.
Kekhawatiran itu muncul sebab, selama 22 hari, mereka hanya makan mi instan saja. Tanpa ada sayur dan protein. Mereka terpaksa menyantap mi instan setiap hari demi menyambung hidup di tengah sisa-sisa bencana banjir yang melanda.
Minimnya variasi bantuan logistik membuat penyintas mulai mengkhawatirkan kondisi kesehatan mereka. Hal itu karena, tidak adanya asupan makanan bergizi lainnya.
Penyintas banjir Syarifah dewi panjaitan (33) hanya pasrah melihat anaknya terus-terusan menyantap indomi.
Dikatakannya, Mi instan ini akan dimakan dengan nasi, apabila stok beras bantuan masih tersedia. Namun sudah memasuki minggu ketiga, stok bantuan mulai berkurang.
Bahkan, katanya sempat beberapa hari, tak ada bantuan dari relawan yang menghampiri posko pengungsian mereka.
Menurutnya, bantuan logistik dari pemerintah tidak dibagikan secara merata. Bantuan dari pemerintah, hanya dibagikan di Posko Pengungsian Gor Pandan, Tapteng.
"Tiga minggu ini pagi siang malam ya makan indomi saja. Tanpa telur. Kalau ada nasi, kita makan pakai nasi. Mau gimana lagi, harus disyukuri karena bantuan yang datang mereka berikan indomie berkardus-kardus, itulah yang kami olah sampai saat ini," ucapnya kepada Tribun Medan, Rabu (17/11/2025).
Dikatakannya, akibat mengkonsumsi mi instan selama tiga minggu, penyakit mulai bermunculan. Seperti gatal-gatal, dan diare.
"Anak-anak mulai gatal-gatal. Kami pun mulai diare. Kami mau bersihkan rumah juga belum bisa air belum hidup. Sementara bersihkan lumpur itu harus pakai air," terang warga Jalan AR Surbakti, Kelurahan Sibuluan Nauli Kecamatan pandan.
Kebutuhan popok anaknya pun juga harus dipikirkannya pasca keuangan yang mulai menipis.
"Kalau ada yang ngasih bantuan popok bayi senang rasanya. Walaupun kadang ukuran gak pas dengan anak. Tapi, kalau gak ada ya beli per biji. Gak kayak dulu, karena usaha es saya sudah hancur karena banjir, suami belum kerja di gudang ikan, karena enggak ada masuk ikan,"katanya.
jumlah korban banjir dan longsor Tapteng
Pengungsi di Tapteng
Tapanuli Tengah
mi instan
Tribun Medan
| Tangis Penyintas Banjir Tirawan Pecah, Lemang Jadi Penawar Lara Lebaran dan Bangun Huntara Mandiri |
|
|---|
| Pembangunan Huntara Tak Kunjung Selesai, Korban Banjir di Tapteng Bangun Rumah Mandiri |
|
|---|
| Hutanabolon Kembali Banjir, Bupati: Tanggul yang Telah Dibangun Jebol, Warga Mengungsi Kembali |
|
|---|
| Dua Bulan Usai Banjir, Begini Kondisi Belajar Mengajar di MAN 1 Tapteng |
|
|---|
| Bupati Tapteng Masinton Pasaribu Minta Mendagri Batalkan Pemangkasan Dana Transfer setelah Bencana |
|
|---|