Banjir dan Longsor di Sumut
Kisah Sopir Truk Terjebak Belasan Hari Akibat Bencana Taput, Makan Kentang Bakar dan Minum Air Parit
Belasan hari bertarung dengan kondisi mencekam, Sopir truk ceritakan makan kentang bakar dan minum air parit.
Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Tria Rizki
Kisah Sopir Truk yang Terjebak Belasan Hari Akibat Bencana Taput, Makan Kentang Bakar dan Minum Air Parit
TRIBUN-MEDAN.com, TARUTUNG - Timbunan longsor di Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Taput membuat sejumlah sopir barang dan travel harus membuat posko darurat. Sejumlah truk barang dan sembako terlihat berbaris.
Mereka tak kuasa menahan penjarahan masyarakat sekitar. Barang barang yang mereka bawa akhirnya ludes. Hanya bisa berpasrah akan keadaan.
Makanan yang tidak tersedia membuat mereka mencari akal agar bisa bertahan hidup. Sejak hari pertama setelah kejadian pada Selasa (25/11/2025), mereka memakan kentang bakar.
Tanpa lauk dan sayur, mereka lahap menyantapnya agar bisa bertahan hidup. Sekitar 30 orang, mereka berbagi tugas dalam posko darurat. Sebuah kontainer menjadi tempat mereka merebahkan badan saat malam hari.
Api tak bisa padam karena mereka perlu penerangan di malam hari. Mereka berbagi tugas, ada yang mempersiapkan kayu bakar, ada juga yang mempersiapkan makanan dan ada juga yang bertugas menjemput makanan ke desa terdekat.
Pantauan Tribun Medan, bau menyengat pun selimuti kawasan tersebut akibat ikan yang dibawa sudah membusuk. Tampaknya mereka sudah berdamai dengan kondisi tersebut.
Persaudaraan terbentuk secara alami, tak saling kenal namun saling memperhatikan. Orang muda sangat santun pada kaum tua yang tengah bersama mereka sebagai orang yang terjebak bencana.
Mereka tetap semangat dan penuh harapan, jalan bakal segera bersih dari material longsoran. Sebagian kendaraan yang sempat dijarah kini sudah ditinjau aparat dan garis polisi dibentangkan.
Jalanan terjal dan dipenuhi material longsoran menjadi tantangan setiap harinya bagi mereka yang akan mengambil pasokan sembako dari posko terdekat.
Pakaian yang mereka gunakan tak bisa berganti, hanya sebatas bekal biasanya yang mereka. Tak hanya itu, komunikasi dengan keluarga sempat terputus hampir 10 hari. Akhirnya, kabar mereka sampai kepada keluarga setelah adanya bantuan akses internet starlink yang dibawa TNI ke posko terdekat. Kekhawatiran keluarga bisa terjawab.
Kondisi mereka masih sehat dan masih bisa berbagi cerita walau dalam musibah. Tak ada lagi sekat diantara mereka. Sama-sama merasakan betapa sakitnya tak bertemu keluarga dan berjuang bertahan hidup selama belasan hari.
Belasan hari bertarung dengan kondisi mencekam. Air dan makanan hanya bisa digunakan dari sekeliling mereka. Mereka juga berupaya mencari jalan menuju desa terdekat, yakni Desa Sibalanga yang memakan waktu 3 jam perjalanan tiba di lokasi.
"Kami di sini, ada 11 hari. Kami bakar kentang supaya bisa bertahan hidup. Kalaupun kades bilang bahwa bantuan sudah datang, kami pergi ke posko," tutur Runggu Simanungkalit (65).
Awal kejadian, mereka hanya bisa mengonsumsi sayur kentang bakar. Alat masak pada saat itu belum ada. Mereka membuat api unggun dan memanggang beberapa kentang yang saat itu ada pada truk mereka.
| Derita Warga Garoga Puasa Sahur Makan Mi Instan |
|
|---|
| Kunjungi Tapteng, Titiek Soeharto dan Kapolri Bawa Bantuan 16 Truk: Semoga Bisa Bermanfaat |
|
|---|
| 33 Korban Banjir dan Longsor Tapanuli Tengah Masih Belum Ditemukan, Begini Kata Basarnas |
|
|---|
| Kepastian Akan Ada Tersangka Banjir Bandang Garoga, Kejagung Terus Dalami Keterlibatan PT TBS |
|
|---|
| Dana Bansos dari Kemensos Tak Kunjung Cair, Warga Hutanabolon Tapteng Masih Tunggu Janji Pemerintah |
|
|---|