Senyum Narendra Jadi Kebahagiaan Terbesar Ibu, Puluhan Anak-anak Jalani Terapi Psikososial
Ia berkali-kali menunjukkan ke ibunya, bahwa ia telah mendapatkan susu kotak tersebut.
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, TAPTENG - Puluhan anak-anak penyintas banjir dan longsor yang berada di Gor Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah mulai menjalani terapi psikososial Jumat (12/11/2025).
Pantauan Tribun Medan, sebagian wajah dari mereka ada yang menggambarkan siap dan semangat menjalani kegiatan terapi psikososial. Namun, ada anak yang kelihatannya tetap murung dan diam meski di sekelilingnya teman-temannya mulai bermain.
Satu diantara anak yang ikut terapi psikososial yang murung dan tetap diam adalah Narendra. Anak laki-laki ini mengenakan pakaian berwarna orange duduk dengan wajah yang murung dan diam di samping teman-temannya yang mulai asyik bermain, berlari dan aktivitas lainnya.
Berkali-kali Rendra, sapaan akrabnya itu, hanya memandang sang ibu dan enggan bergabung dengan anak-anak lainnya. Namun, saat tim relawan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Kementerian Sosial memulai kegiatan, secara perlahan senyum Rendra kembali muncul.
Senyum Rendra kembali merekah, saat Tim LDP mulai mengajak anak-anak menyanyikan berbagai lagu kebangsaan. Dia perlahan mengikuti dan akhirnya mau bergabung dengan kawan-kawannya.
Baca juga: Tim Trauma Healing Polres Sibolga Kunjungi Posko Pengungsian TK Negeri Pembina
Rendra semakin terlihat bahagia saat ia mendapatkan susu kotak dari tim LDP. Ia berkali-kali menunjukkan ke ibunya, bahwa ia telah mendapatkan susu kotak tersebut.
Melihat anaknya mau bergabung dengan teman-temannya, Janes Saragih mengucap syukur dan penuh haru. Sebab, anak pertamanya itu pada dasarnya adalah anak yang aktif dan ceria sebelum bencana banjir dan longsor menimpa mereka.
Dikatakan Janes, sudah 17 hari anak laki-lakinya itu hanya diam di area tempat pengungsian ini. Selama 17 hari, anaknya tersebut hanya mau dekat dengan dirinya saja. Sempat merasa khawatir, namun kini ia merasa lega.
"Ya alhamdulillah cukup senang, karena anak saya akhirnya terlihat sedikit bahagia. Jadi rasanya beban bencana ini sedikit berkurang dari kesedihan ini," ucapnya kepada Tribun Medan, Jumat (12/11).
Diakuinya, anak sulungnya tersebut sempat merasa shock dan menangis berhari-hari pasca bencana tersebut.
"Ya sempat shock, nangis gitu waktu beberapa hari mulai tinggal di sini. Tapi melihat caranya tadi (menunjukkan susu) dia bahagia tadi," ucap warga Kecamatan Tukka, Tapteng ini.
Janes bercerita, apalagi katanya saat banjir, ia hanya berdua bersama anaknya dibantu tetangga untuk menyelamatkan diri.
"Kondisi rumah semua terendam banjir. Baju habis semua. Hanya rumah tidak hanyut alhamdulillah. Tapi pada saat banjir kami evakuasi diri sendiri sama tetanggalah ke sini. Ayahnya lagi kerja di luar kota, belum pulang makanya mungkin agak shock anakku," jelasnya.
Apalagi, di hari pertama, ia bersama anaknya sempat terjebak banjir di rumah tetangga gedung dua lantai.
"Kita bermalam di sana. Pagi baru kita ke Gor Pandan ramai-ramai. Saat itu kami hanya bawa baju di badan. Dan kami sempat tidak makan semalaman. Jadi kelaparan satu malaman," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Janes-dan-Rendra-saat-berfoto-usai-mengikuti.jpg)