Sedih Dua Minggu Tak Bisa ke Gereja, Yustina: Baju Kami Habis karena Longsor 

Padahal, sudah mulai mendekati  Hari Natal dan Tahun Baru. Tak banyak yang ia bisa buat untuk menyambut Natal tahun ini.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Yustina Jay saat menunjukkan area rumahnya yang hancur dan dipenuhi lumpur akibat bencana longsor dan banjir di Jalan Perjuangan Kelurahan Aek Parambonan, Sibolga Selatan, Kamis (11/12/2025). Dikatakannya, pasca bencana ini, ia akan merayakan Hari Natal dengan suka cita. 

TRIBUN-MEDAN.com, TAPTENG - Perempuan berdaster merah yang tinggal di Jalan Perjuangan, Kelurahan Aek Parombunan, Sibolga Selatan, terlihat perlahan-lahan membersihkan rumahnya dari lumpur dan longsor yang menghantam rumahnya pada Selasa (25/11/2025).  

Berkali-kali ia meluruskan foto keluarga dan salib yang sudah miring dan retak di area ruang tamu yang masih dipenuhi lumpur.

Sementara, sang suami sibuk membereskan area dapur karena dinding dapur yang jebol akibat longsor dan banjir yang menimpa rumah mereka.

Saat Tribun Medan masuk ke rumahnya langsung terdapat area kamar. Namun kamar itu dipenuhi lumpur setinggi setengah meter dan jendela kaca yang sudah hilang akibat longsor tersebut.

Bagaimana tidak, longsor itu datang persis di depan rumahnya. Hanya saja, rumahnya tetap tegak dan tidak tumbang karena longsor menghantam rumah tetangga yang berada di depan rumahnya.

Ibu rumah tangga itu bernama Yustina Jay (45). Dengan nada bergetar dan menangis, Tina mengatakan, sudah dua minggu tak bisa ke gereja karena tidak memiliki baju.

Baca juga: Sekolah Penuh Lumpur setelah Kebanjiran, Siswa SD di Tapteng dan Guru Berpelukan Saling Menguatkan

"Memang sedih kali sudah dua minggu nggak bisa ke gereja karena kami nggak ada pakaian, barang dapur udah hancur  semua. Memang rumah masih berdiri, tapi peralatan nggak ada  lagi. Itulah jadi gimanalah," ucapnya sambil menangis.

Padahal, sudah mulai mendekati  Hari Natal dan Tahun Baru. Tak banyak yang ia bisa buat untuk menyambut Natal tahun ini.

"Tapi kami sambut Natal dengan suka cita. Karena Puji Tuhan masih dikasih selamat dan sehat," katanya.

Diceritakannya, ia bersama suami sudah membangun rumah ini dengan hasil kerja keras. Namun, kini harus kembali mengulang pembangunan dari awal.

"Rumah ini sudah ada sertifikatnya, kami beli dengan hasil kerja keras kami. Tapi apalagi yang mau dibilang. Kalau Tuhan sudah berencana seperti ini," ucapnya.

Diakuinya, ada rasa trauma mendalam jika kembali ke rumahnya dalam keadaan hancur seperti ini.

"Kalau di posko kita nggak gimana-mana. Tapi kalau sudah lihat rumah ini ke sini kami trauma, rasanya sedih kali. Tetangga hilang. Kami nggak bisa apa-apa. Syukur masih ada posko jadi asal malam kami kembali ke posko. Karena kata Babinsa dan Kepling kami, jangan pulang dulu di malam hari," tuturnya.

Untuk itu, ia memohon pada pemerintah agar ada bantuan pembangunan rumah untuk korban bencana longsor dan banjir.

"Kami mohon sama pemerintah tapi nggak kami paksa. Kalau bisa membantu sedikit untuk membetulkan rumah kami ini," ucapnya penuh harap.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved