Jamuan Makan Siang Bersama Jurnalis, Konjen Huang He Cerita Persahabatan Panjang Indonesia-Tiongkok
Ia berharap pengalaman selama perjalanan dapat menjadi jembatan untuk memperkuat saling pengertian antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok.
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai jamuan makan siang yang digelar Konsulat Jenderal (Konjen) Republik Rakyat Tiongkok di Medan bersama rombongan jurnalis dari Sumatra yang telah melakukan kunjungan ke Chongqing dan Beijing, Tiongkok, pada 21 hingga 28 Juni 2026 lalu.
Pertemuan yang berlangsung di rumah dinas Konjen Tiongkok itu menjadi ruang dialog antara para jurnalis dengan Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan, Huang He, Kamis (26/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Konjen Huang He menyampaikan apresiasi kepada para jurnalis yang baru kembali dari Negeri Tirai Bambu. Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama perjalanan dapat menjadi jembatan untuk memperkuat saling pengertian antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok.
"Banyak teman yang baru saja balik dari Tiongkok sepuluh hari lalu. Saya ingin memanfaatkan momen ini untuk menyambut kedatangan Bapak/Ibu sekalian dengan santapan ringan, seraya melepas penat. Selamat kembali di Indonesia," ujarnya membuka sambutan.
Konjen Huang He mengajak para jurnalis melihat hubungan Indonesia dan Tiongkok dari perspektif sejarah yang panjang. Menurutnya, hubungan kedua bangsa tidak hanya dibangun melalui perdagangan, tetapi juga melalui pertukaran budaya, agama, hingga peradaban yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Ia mencontohkan keberadaan peninggalan sejarah di Jambi yang pernah menjadi persinggahan biksu asal Tiongkok, Yijing, serta peninggalan armada Laksamana Cheng Ho di Aceh sebagai bukti eratnya hubungan kedua bangsa sejak masa lampau.
"Peristiwa ini hanyalah salah satu dari sekian banyak bukti bahwa persahabatan antara Tiongkok dan Indonesia telah berlangsung sangat panjang dan mendalam," katanya.
Menurut Konjen, fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Tiongkok sejak dahulu memiliki peradaban yang terbuka dan mampu menerima berbagai pengaruh dari luar, termasuk agama Buddha dan Islam.
"Yang ingin saya tekankan adalah, baik di masa lalu maupun saat ini, peradaban Tiongkok selalu terbuka dan inklusif," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Konjen Huang He juga menjelaskan perjalanan modern Tiongkok, mulai dari masa sulit akibat kolonialisme hingga kebijakan reformasi dan keterbukaan yang diterapkan sejak akhir 1970-an.
Menurutnya, keterbukaan menjadi salah satu faktor utama yang membawa Tiongkok menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia saat ini.
"Meninjau kembali perjalanan perkembangan peradaban Tiongkok dan sejarah modern Tiongkok, dapat kita lihat bahwa Tiongkok senantiasa berkembang melalui keterbukaan dan terus maju melalui kerja sama," katanya.
Ia menegaskan, Tiongkok akan tetap berpegang pada prinsip pembangunan damai dengan menghormati kedaulatan setiap negara, tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, serta membuka ruang kerja sama yang saling menguntungkan.
"Tiongkok akan tetap teguh menempuh jalan pembangunan yang damai, menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah setiap negara, serta berbagi peluang pembangunan dengan seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia," ucapnya.
Baca juga: Wabup Deli Serdang Sebut Sudah Tak Nyaman Tinggal di Rumah Dinas, Ini Penyebabnya
Hubungan Indonesia-Tiongkok Semakin Erat
| Ribuan Wisatawan Padati Yiheyuan, Istana Musim Panas Dinasti Qing yang Dibangun untuk Sang Ibu |
|
|---|
| Singgah di Aula Musyawarah Warga Qianmen, Wadah Diskusi Akar Rumput di Beijing Memecahkan Masalah |
|
|---|
| Lebih 50 Ribu Arca Memukau di Dazu Rock Carvings, Kisahkan Karma hingga Bakti kepada Orang Tua |
|
|---|
| Tembok Besar China: Benteng yang Menembus Gunung, Sejarah yang Menembus Zaman |
|
|---|
| Mengejar Teknologi, Chongqing tak Pernah Melupakan Luka Sejarahnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Rombongan-jurnalis-dari-Medan-Sumateragfd.jpg)