Kunjungan Tribun ke Tiongkok
Lebih 50 Ribu Arca Memukau di Dazu Rock Carvings, Kisahkan Karma hingga Bakti kepada Orang Tua
Ribuan arca batu memenuhi dinding tebing di kawasan Dazu Rock Carvings, Chongqing, Tiongkok.
Penulis: Muhammad Tazli | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.com, CHONGQING – Ribuan arca batu memenuhi dinding tebing di kawasan Dazu Rock Carvings, Chongqing, Tiongkok.
Bukan sekadar karya seni, setiap pahatan menyimpan pesan moral tentang kehidupan, mulai dari hukum karma, pentingnya berbakti kepada orang tua, hingga ajaran tentang kebajikan yang tetap relevan hingga saat ini.
Keunikan tersebut disaksikan langsung delegasi media arus utama dari berbagai daerah di Indonesia saat mengunjungi Dazu Rock Carvings, Rabu (24/6/2026). Kunjungan itu merupakan bagian dari program pertukaran media yang difasilitasi Konsulat Jenderal Tiongkok di Medan untuk mempererat hubungan budaya Indonesia dan Tiongkok.
Dazu Rock Carvings merupakan situs warisan budaya dunia yang ditetapkan UNESCO pada 1999. Kompleks pahatan batu ini menyimpan lebih dari 50.000 arca serta sekitar 100.000 karakter prasasti yang dipahat langsung pada tebing batu.
Delegasi mengunjungi kawasan Baodingshan atau Gunung Baoding, bagian paling terkenal dari kompleks Dazu Rock Carvings. Di lokasi inilah tersimpan deretan pahatan yang menggambarkan perpaduan ajaran Buddha, Taoisme, dan Konfusianisme.
"Ukiran Batu Dazu adalah harta karun budaya yang memadukan ajaran Buddha, Taoisme, dan Konfusianisme secara harmonis," kata pemandu wisata, Carrie.
Menurut Carrie, pembangunan Dazu Rock Carvings dimulai pada masa Dinasti Tang dan berkembang pesat pada masa Dinasti Song. Pengembangan situs tersebut dipelopori oleh Biksu Zhao Zhifeng yang menjadikan pahatan batu sebagai media menyampaikan ajaran moral kepada masyarakat, terutama pada masa ketika banyak orang belum dapat membaca dan menulis.
Berbeda dengan situs gua keagamaan lainnya, Dazu Rock Carvings tidak hanya mengangkat satu ajaran. Ribuan relief yang terpahat justru menggambarkan nilai-nilai universal tentang kehidupan, seperti kasih sayang, kesetiaan, tanggung jawab, hingga hukum sebab-akibat atau karma.
Salah satu relief yang paling menarik perhatian adalah kisah tentang bakti kepada orang tua atau xiao. Melalui rangkaian pahatan, pengunjung diajak memahami pentingnya menghormati dan merawat orang tua sebagai salah satu kebajikan utama dalam kehidupan.
Tak jauh dari relief tersebut, terdapat pula pahatan yang menggambarkan balasan atas setiap perbuatan manusia. Visualisasi tentang surga, neraka, serta hukum karma disampaikan melalui ukiran yang detail sehingga mudah dipahami oleh masyarakat pada zamannya.
"Beragam pelajaran kehidupan dan ketuhanan ada di sini. Termasuk cara membesarkan dan mendidik anak dengan baik, pelajaran tentang berbakti kepada orang tua, hingga kisah tentang surga dan neraka," ujar Carrie.
Kompleks Dazu Rock Carvings tersebar di lima kawasan pegunungan, yakni Baodingshan, Beishanshan, Nanshan, Shimenshan, dan Shizhuanshan. Seluruh kawasan dibangun secara bertahap selama lebih dari seribu tahun sejak Dinasti Tang hingga Dinasti Song.
Di kawasan Baodingshan, pengunjung juga dapat melihat berbagai pahatan berukuran besar, di antaranya arca singa sepanjang 3,5 meter sebagai simbol pelindung, arca kerbau, relief lambang shio, hingga patung Buddha berbaring sepanjang sekitar 30 meter yang diapit para pengikutnya.
Carrie menjelaskan pembangunan kawasan Baodingshan berlangsung selama sekitar 70 tahun. Pada 2014, pemerintah Tiongkok memperluas kawasan wisata hingga lima kali lipat untuk memberikan ruang yang lebih nyaman bagi wisatawan sekaligus mendukung upaya pelestarian situs bersejarah tersebut.
Kunjungan delegasi media Indonesia turut didampingi Konsul Konsulat Jenderal Tiongkok di Medan, Yu Lei. Melalui program pertukaran media ini, para jurnalis diajak melihat secara langsung berbagai perkembangan di Tiongkok, mulai dari kemajuan teknologi hingga upaya pelestarian warisan budaya yang telah bertahan selama berabad-abad.
| Tembok Besar China: Benteng yang Menembus Gunung, Sejarah yang Menembus Zaman |
|
|---|
| Mengejar Teknologi, Chongqing tak Pernah Melupakan Luka Sejarahnya |
|
|---|
| Hubungan Indonesia-Tiongkok Disebut Terbaik Sepanjang Sejarah, Medan Masuk dalam Potensi Kerja Sama |
|
|---|
| Jejak 800 Tahun Sejarah Islam di Beijing, Alquran Kuno dan Ukiran Kaligrafi Terjaga di Masjid Dongsi |
|
|---|
| Gandeng IShowSpeed dan Stephen Curry, Cara Jitu WCICO Promosikan Chongqing lewat Media Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pengunjung-meyaksikan-maha-karya-arca-batu-memenuhi-dinding-tebing1.jpg)