Sumut Terkini
Dari Gerobak Lontong ke Tanah Suci, Perjuangan Sri Warsida Naik Haji di Usia 75 Tahun
Pedagang lontong asal Binjai itu berangkat ke Tanah Suci setelah menabung selama 13 tahun dari hasil jualan setiap hari.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Di usia 75 tahun, saat langkahnya tak lagi setegap dulu, Sri Warsida Isdaty akhirnya menuntaskan penantian panjang untuk menunaikan ibadah haji.
Pedagang lontong asal Binjai itu berangkat ke Tanah Suci setelah menabung selama 13 tahun dari hasil jualan setiap hari.
Semangatnya untuk bisa menuju tanah suci tak pernah surut. Sedikit demi sedikit, itulah prinsip yang menyertai langkah Sri untuk giat menabung hari demi hari dari hasil berjualan nasi gurih, nasi campur, dan lontong.
Sri yang tergabung dalam Kloter 2 manifest 252 itu setiap harinya berusaha menyisihkan sekitar Rp100 ribu untuk ditabung. Menurutnya, keinginan besar harus dibarengi niat dan kedisiplinan.
“Kalau ada rezeki lebih, saya tabung. Saya anggap seperti utang, jadi harus dibayar. InsyaAllah kalau sungguh-sungguh, bisa tercapai,” ujarnya menjelang keberangkatan.
Keinginan berhaji sebenarnya sudah lama tumbuh. Setelah pernah menunaikan umrah bersama suami, Sri ingin melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci untuk berhaji.
Namun saat itu sang suami enggan mendaftar karena masa tunggu yang panjang. Sri pun memutuskan mendaftar sendiri.
“Saya ajak suami daftar haji, tapi dia bilang lama kali menunggunya. Jadi saya daftar sendiri,” katanya sambil tersenyum.
Sehari-hari, Sri masih berjualan di kawasan Binjai. Dari usaha sederhana itulah ia mengumpulkan tabungan selama bertahun-tahun.
Rutinitasnya dimulai sejak dini hari. Setiap pukul 03.00 WIB, Sri bangun untuk salat tahajud, beribadah, lalu mulai memasak dagangan yang akan dijual pagi hari.
“Kalau enggak bangun jam tiga, enggak dapat nanti. Karena kita jualan, jadi rajin bangun,” ucapnya.
Sri mulai berjualan sejak tahun 2004 dan hingga kini masih tetap aktif berdagang. Anak-anaknya sudah berkeluarga, bahkan ia telah memiliki cucu.
Meski usianya tak lagi muda dan sesekali mengalami tekanan darah tinggi, Sri mengaku kondisinya cukup baik untuk berangkat haji. Ia hanya membawa obat sebagai persediaan.
Bagi Sri, perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar keberangkatan ibadah, tetapi buah dari kesabaran, kerja keras, dan kebiasaan menabung yang dijaga bertahun-tahun.
(cr26/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Dapatkan Info Dugaan KDRT di Porsea Melalui Call Center, Polisi Beberkan Kronologi Kejadian |
|
|---|
| Pemkab Dukung Penuh Perjuangan Memperoleh Bantuan Banjir, Bupati Langkat Ajak Masyarakat ke Pusat |
|
|---|
| PTAR Hasilkan 187.615 Bibit Tanaman Lokal dan Cepat Tumbuh Selama 2021-2025 |
|
|---|
| Kejari Binjai Buru Tersangka Dugaan Korupsi Kontrak Kerjaan Fiktif Dody Alfayed yang Tak Kooperatif |
|
|---|
| Junara Dituntut 8 Bulan Pasal Penganiayaan, PH: Fakta Sidang Kami Korban, Mohon Keadilan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/CERITA-HAJI-Sri-Warsida-Isdaty-75-pedagang.jpg)