Ramadan 2026

Masjid Nurul Iman Laguboti: Simbol Kegigihan dan Keteduhan Iman

Suasana dalam masjid tersebut sejuk dan teduh. Rasanya ingin tinggal berlama-lama dalam masjid tersebut.

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/MAURITS
Umat muslim perdana di Masjid Nurul Iman Laguboti, Haji Tongku Simatupang (77) bersama Ustad Sayful Bahri yang kini menjadi pengajar iman di mesjid yang berada di Desa Auan, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba. Wawancara berlangsung hari ini, Sabtu (14/3/2026). 

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE- Masuk dalam gang kecil yang beralamat di Desa Aruan, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba, sebuah mesjid tua berdiri kokoh.

Masjid yang bermula dari langgar ini telah berdiri sebelum tahun 1965. 

Suasana dalam masjid tersebut sejuk dan teduh. Rasanya ingin tinggal berlama-lama dalam masjid tersebut.

Walau tak berada di pinggir jalan protokol, masjid ini kerap menjadi tempat musafir berdoa dan beristirahat.

Seorang umat muslim sekitar, Haji Tongku Simatupang (77) mengisahkan perjuangan iman umat muslim di Laguboti.

Mereka mayoritas datang dari daerah Padang, Tapsel, Tapteng, Pematangsiantar dan Pulau Jawa.

Bekerja sebagai pedagang dan pegiat kuliner, kini umat muslim di mesjid ini berkisar 180 kepala keluarga (KK). 

Haji Tongku Simatupang mengisahkan, kedatangannya dari Sipirok ke Laguboti pada tahun 1965 bertujuan membantu saudarinya menjual emas.

Dibalik kesibukannya sebagai penjual emas, ia juga menimba pengalaman rohani melalui aneka kegiatan di langgar yang saat ini sudah menjadi masjid.

"Aku datang ke Toba ini pada tahun 1965. Pada saat itu, saudariku dan suaminya meminta agar aku sekolah di Toba ini sambil membantu mereka di toko emasnya," ujar Haji Tongku Simatupang (77) saat berada di Mesjid Nurul Iman, Sabtu (14/3/2026).

Langgar berdinding seng menjadi tempatnya bersama beberapa umat muslim lainnya berdoa dan mendapatkan pengetahuan iman.

Diketahui, pembangunan langgar setelah adanya lokasi yang diwakafkan warga sekitar, termasuk umat muslim awal.

"Aku datang ke sini dan pada waktu itu sudah ada langgar yang kemudian menjadi mesjid. Umat pertama yang ada di sekitar ini ada sebanyak 6 KK, satu diantaranya yang mewakafkan tanah ini ke masjid. Beberapa diantara umat muslim pertama di sini datang dari daerah Sipirok," sambungnya.

Umat muslim pertama adalah mereka yang merantau dari berbagai daerah ke Toba.

Mengadu nasib sebagai pedagang. Walau relatif sedikit, semangat kebersamaan tetap lestari.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved