Ramadan 2026

Kisah Hidup Eko Sopianto, Tobat dari Dunia Hitam dan Kini Miliki Sekolah Gratis

Sulitnya ekonomi keluarga saat masih kecil mengantarkan Eko Sopianto dekat dengan dunia hitam.

|
Penulis: Indra Gunawan | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Indra Gunawan
DIRIKAN SEKOLAH - Ketua Umum Pujakesuma, Eko Sopianto saat mengumpulkan anak yatim piatu di sekolahnya beberapa waktu lalu. Saat ini Eko sudah bertaubat dari dunia hitam dan mendirikan sekolah gratis buat yatim piatu. 

TRIBUN-MEDAN.com,LUBUKPAKAM - Sulitnya ekonomi keluarga saat masih kecil mengantarkan Eko Sopianto dekat dengan dunia hitam.

Aksi-aksi kriminal pernah dijelajahi dan bahkan tidak segan untuk melukai lawan.

Hal itu jugalah yang akhirnya mengantarkan dirinya merasakan dinginnya lantai semen kamar berjeruji besi penjara. 

Nama Eko Sopianto kini lebih dikenal sebagai Ketua Umum Pujakesuma yang merupakan singkatan dari Putra Jawa Kelahiran Sumatera.

Karena posisinya ini membuat pria berusia 49 tahun ini banyak kenal dan akrab dengan pejabat-pejabat negara. Selain itu pria berusia ini juga pernah menduduki kursi Ketua DPC PDI Perjuangan. 

Saat diwawancarai Tribun Medan, Eko yang merupakan warga Tanjung Morawa Deli Serdang ini menyebut ia mulai meninggalkan dunia hitam sejak tahun 2012.

Disebut saat itu ia baru saja keluar dari penjara setelah divonis 9 bulan karena membacok orang sampai setengah mati.

Saat itu posisinya sebagai orang yang mengadvokasi penggarap lahan tanah garapan PTPN masyarakat di kampungnya yang di Desa Dagang Krawan Kecamatan Tanjung Morawa dan kemudian terjadi konflik dengan oknum mafia tanah.

Disebut anaklah yang membuatnya berubah untuk kemudian bisa lebih mendekatkan diri lagi kepada Allah SWT. 

"Mulai dari mukuli orang saat SMA, kemudian bacok orang sampai masuk penjara hingga jadi mafia sawit saya lakuin dulu. Ya karena ekonomi dan bergaul dengan orang yang salah makanya bisa seperti itu. Tapi karena sudah punya anak takut dikasih makan yang nggak benar makanya saya tinggalin," ujar Eko, Senin (16/3/2026). 

Eko masih mengingat saat masih menjadi mafia dirinyalah yang kemudian mengorganisir masyarakat untuk mencuri sawit dari perkebunan-perkebunan yang ada di Deli Serdang.

Nyalinya semakin besar saat itu karena pengalamannya masuk penjara sudah capek dirasakan. 

Ia mengatakan saat duduk di bangku kuliah di salah satu perguruan swasta yang ada di Medan Eko sudah berulang kali dijebloskan ke sel. Namun itu semua karena resiko sebagai aktivis. 

"Kalau tukang demo ya dari dulu saat mahasiswa  tahun 1996. Demo 97 dan 98 ya ikut juga makanya sering masuk (penjara) tapi ya sebentar aja bebas," kata Eko. 

Sebandit-banditnya bapak yang sekarang punya 4 anak ini dirinya tidak pernah menyentuh narkoba. Ia amat begitu benci dengan yang namanya narkoba.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved