Terkendala Pemeriksaan Air dan Pengolahan Sampah, 252 SPPG di Sumut Belum Dapat SLHS 

Hamid mengatakan, kebanyakan 252 SPPG ini terkendala saat pemeriksaan air dan pengolahan sampah makanan.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/Indra Gunawan
SPPG DELI SERDANG - Pagar gerbang SPPG Lubuk Pakam Pekan 2 Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang terlihat terbuka, Senin (9/3/2026). Saat ini SPPG ini termasuk yang dihentikan sementara operasionalnya. 

TRIBUN–MEDAN.com, MEDAN - Dinas Kesehatan Sumut, menyoroti soal 252 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) belum mendapatkan Sertifikasi Laik Hygiene Sanitasi (SLHS) padahal sudah beroperasi lebih dari 30 hari. Akibatnya SPPG tersebut ditutup sementara sampai memenuhi persyaratan.

Sekretaris Dinkes Sumut Hamid Rijal Lubis mengatakan, 252 SPPG tersebut sebenarnya sebagian sudah mengajukan sejumlah persyaratan untuk mendapatkan SLHS. Namun ada banyak kendala pada saat proses pemenuhan syarat.

Hamid mengatakan, kebanyakan 252 SPPG ini terkendala saat pemeriksaan air dan pengolahan sampah makanan.

"Jadi mereka sudah mengajukan, tapi belum memenuhi syarat. Misalnya sumber airnya belum memenuhi persyaratan. Nah, jadi kita minta supaya airnya itu dirapikan dulu, karena kita mau aman tadi kan,” katanya.

Menurutnya, kebanyakan dapur SPPG itu airnya melebih ambang batas yang telah ditetapkan.

"Yang paling sering itu terkendala di air biasanya. Kan ada ambang-ambang batas dari air yang harus dipenuhi ya. Kan dari pemeriksa kimiawi, pemeriksaan airlah, intinya ya kan, itu sering kami menemukan terkendala di pemeriksaan airnya. Airnya belum memenuhi persyaratan yang ditetapkan begitu," jelasnya kepada Tribun Medan, Selasa (10/3/2026).

Baca juga: SPPG Yayasan Kemala Bhayangkari Polres Binjai Dihentikan BGN, Warga: Mau Kerja Aja di Sini Payah

Selain air, kata Rijal, juga terkendala di pengolahan sampah, pengolahan makanan, dan hal lain sebagainya.

"Persyaratan yang belum terpenuhi ada juga berkaitan dengan pengelolaan sampah. Ada juga banyak sekali soal pengolahan makanan dan ampah makanan. Tapi, secara umum air," katanya.

Menurutnya, masih banyak SPPG yang belum membuat sumur pengolahan sampah sendiri. Bukan hanya itu dari hygiene makanan juga belum banyak yang lulus.

"Sebagian besar ada di pengolahan sampah makanan, tetapi sebagian juga ada di pengolahan makanan. Kita tidak bisa menggeneralisasi, sebenarnya, karena setiap SPPG memiliki masalah yang berbeda," ucapnya.

Namun, untuk mendapatkan SLHS sudah memiliki dasar surat dari BGN itu sendiri. Dan harus dipenuhi oleh SPPG.

"(Penutupan sementara ini) ya, tentu, ini dasarnya adalah surat dari Badan Gizi Nasional tentang SPPG yang dinilai telah beroperasi dalam kurun waktu tertentu, namun ternyata belum juga memenuhi ketentuan penerbitan SLHS. Bagi kami, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara tentu mendukung langkah yang dilakukan oleh SPPG ini," ucapnya.

Menurutnya, SLHS ini bagian atau pun tahapan dalam rangka mengamankan program makan bergizi gratis ini.

"Sehingga produk yang dihasilkan oleh SPPG itu sampai kepada sasaran dalam wujud yang sehat, hygien, dan, dapat terjamin keamanannya," jelasnya.

 Menurutnya, pasca ditutup sementara, saat ini sudah banyak SPPG yang mulai mengajukan pengecekan untuk mendapatkan SLHS tersebut.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved