Sumut Terkini

Perang Timur Tengah Picu Antrean di SPBU, Pengamat: Panic Buying Perburuk Situasi

Menurutnya, masyarakat sebenarnya tidak perlu panik karena ketersediaan BBM nasional masih dalam kondisi aman.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Alif Al Qadri Harahap
ANTRE BBM- Antrean BBM di Jalan Cokroaminoto, Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Jumat (6/3/2026). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU belakangan ini mulai dikeluhkan masyarakat.

Situasi tersebut dipicu kekhawatiran warga terhadap ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai antrean panjang yang terjadi lebih disebabkan oleh kepanikan masyarakat yang melakukan pembelian berlebih atau panic buying.

Menurutnya, masyarakat sebenarnya tidak perlu panik karena ketersediaan BBM nasional masih dalam kondisi aman.

“Masyarakat tidak perlu panik. Selama ini ketersediaan pasokan BBM kita rata-rata untuk 20 hari ke depan, bahkan bisa sampai maksimal 25 hari,” ujarnya.

Ia menjelaskan, angka tersebut merujuk pada kapasitas maksimum daya tampung kilang atau gudang BBM.

Artinya, jumlah tersebut merupakan kemampuan penyimpanan maksimal yang dimiliki, bukan berarti setelah 20 hari stok akan habis.

“Ini bukan berarti setelah 20 hari BBM menjadi langka atau habis. Pasokan impor dari luar negeri akan terus masuk secara berkala,” katanya.

Gunawan menambahkan, setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran, pemerintah juga telah melakukan langkah antisipasi dengan mengalihkan sumber impor minyak dari kawasan lain, seperti Amerika dan Afrika.

Di sisi lain, aksi panic buying yang dilakukan masyarakat justru dinilai memperburuk situasi di lapangan. Hal ini memicu antrean panjang di SPBU, meningkatkan keresahan publik, serta berpotensi membuat distribusi BBM menjadi tidak merata.

“Kondisi ini juga bisa mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya kendaraan niaga yang bergerak di sektor barang dan jasa,” jelasnya.

Meski demikian, ia menilai fenomena panic buying tersebut tidak serta-merta memicu inflasi.

Pasalnya, harga BBM saat ini masih relatif stabil meskipun terjadi peningkatan permintaan di masyarakat.

Menurut Gunawan, kekhawatiran masyarakat muncul karena dua isu utama. Pertama, penutupan Selat Hormuz yang dianggap berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia dan memicu kelangkaan BBM.

Kedua, kenaikan harga minyak mentah dunia yang dikhawatirkan berdampak pada kenaikan harga BBM di dalam negeri.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved