Sumut Terkini

Perjalanan Hery Terajana, Dari Jurnalis ke Penggiat Sejarah Kabupaten Asahan

Suheri atau kerap disapa Heri Terajana (41) merupakan seorang konten kreator Facebook yang memiliki tema storytelling sejarah dan misteri lokal.

Penulis: Alif Al Qadri Harahap | Editor: Ayu Prasandi
IST
Suheri atau Hery Terajana (41) dari mantan wartawan kini penggiat story telling sejarah dan misteri lokal Kabupaten Asahan. Berfoto di makam keluarga Kesultanan Asahan di belakang Masjid Raya Kota Tanjungbalai. 

TRIBUN-MEDAN.COM, KISARAN - Lebih layak di sebut penggiat Sejarah dibandingkan konten kreator Facebook Pro.

Suheri atau kerap disapa Heri Terajana (41) merupakan seorang konten kreator Facebook yang memiliki tema storytelling sejarah dan misteri lokal.

Konten-konten mengupas sejarah dan misteri yang ada di sekitar Kabupaten Asahan, selalu ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya.

Terbukti di kanal Facebook Hery Terajana, kini sudah memiliki pengikut lebih dari 56 ribu, dan tak hanya warga Kabupaten Asahan, Labuhanbatu, Batubara, hingga Medan juga banyak yang menjadi pengikutnya.

Konten-konten yang memiliki narasi rapih dan tertata, itu bukan hal yang harus dipertanyakan. Pasalnya, pria yang memiliki perawakan jenaka ini pernah menulis di sejumlah media tersohor di Indonesia.

Harian Berita Medan, Sumut24, hingga pada 2018 ia berlabuh di Harian Orbit.

Namun, pada April 2025 menjadi akhir karir jurnalistik Suheri setelah menjalani perawatan di RSUP H Adam Malik Medan.

Terbiasa di dunia jurnalistik, Suheri memilih jalur digital sebagai konten kreator di Facebook dan membentuk karakter tulisannya di media sosial berbasis riset, data lapangan, dan kelengkapan terhadap narasi masyarakat lokal.

Konten yang diunggahnya kerap mendapatkan kritikan pedas dari sejumlah orang yang tidak sependapat dengannya.

Teranyar, dari konten asal usul dan Identitas Kabupaten Asahan yang dikuliti habis oleh Heri, mendapatkan kritikan pedas.

Dalam narasinya, Heri menyatakan bahwa Kabupaten Asahan tak hanya tertulis pada peta Indonesia, melainkan Kabupaten yang layak diperhitungkan karena membantu Indonesia meraih saham 51 persen milik tambang emas raksasa Free Port.

Saham tersebut diambil alih oleh Inalum yang merupakan perusahaan yang memanfaatkan sungai Asahan

Bukan kucuran dana yang turun, Kabupaten Asahan dan Kota Tanjungbalai kerap mendapatkan banjir kiriman dari Toba apabila Bendungan sigura-gura dibuka.

Selain itu, Suheri juga mengungkap adanya titik Tangkahan Sampan di tengah hiruk pikuknya Kota Kisaran yang menjadi ibu Kota Kabupaten Asahan.

Dalam narasinya, bahwa Kabupaten Asahan dahulu merupakan salah satu wilayah jajahan Belanda yang memiliki pabrik Batu Kapur dengan kualitas terbaik di dunia.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved