Warga Beli Air Rp 1.000 Per Jerigen, Berharap Layanan Perusahaan Air Minum Segera Pulih   

polytank (tangki air) sudah diletakan di sejumlah titik. Polytank itu berwarna biru bertuliskan Kementerian PUPR

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Sejumlah warga sedang mengisi air bersih ke jerigen yang mereka bawa dari rumah, Kamis (18/12/2025). Hal itu dikarenakan sudah tiga minggu air mati di rumahnya pasca bencana banjir dan longsor di Kabupaten Tapteng. 

TRIBUN-MEDAN.com, TAPTENG - Jerigen-jerigen plastik berwarna putih kini menjadi pemandangan sehari-hari yang dilihat di Kabupaten Tapanuli Tengah khususnya di Kecamatan Pandan dan Tukka usai bencana banjir dan longsor yang menerpa sejak tiga minggu atau, Selasa (25/12/2025) lalu. 

Pasca bencana banjir dan longsor, mereka juga harus berjuang berburu tetes demi tetes air bersih untuk melanjutkan hidup. Karena jika air tersedia, rumah mereka yang dipenuhi lumpur tak akan bisa dibersihkan. Selain itu, tentu saja untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK). 

Pantauan Tribun Medan, polytank (tangki air) sudah diletakan di sejumlah titik. Polytank itu berwarna biru bertuliskan Kementerian PUPR. Dari polytank itu, di bawahnya terdapat lima keran air. 

Sehingga sebagian warga banyak yang mengambil air di polytank itu. Namun, memang polytank itu tidak setiap hari diisi. Polytank itu baru diletakkan beberapa hari belakangan.

Tak banyak warga yang mengambil air di polytank yang disediakan oleh Kementerian PUPR.

Baca juga: Warga Pengungsi di Batangtoru Mulai Terserang Penyakit, Kondisi Diperparah Krisis Air Bersih

Sebagian antrean jerigen terlihat di sepanjang jalan di depan SMPN 2 Pandan Nauli, Kelurahan Sibuluan Indah Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapteng. Gerigen putih ini ikut mengantre bersama tuannya. Ada yang naik becak, mobil, dan motor. Mereka mengantre bak sedang menunggu minyak di SPBU-SPBU. 

Bahkan bukan hanya jerigen saja utuk menampung air, mereka juga membawa alat masak dangdang yang juga dipakai untuk menampung air. Untuk mengambil air di sini, mereka harus merogoh kocek sebesar Rp 1.000 per satu gerigen. 

Sementara di sisi kanannya, terdapat masjid yang menyediakan pengambilan air bersih dengan sistem pembayaran infaq atau seikhlasnya untuk pembangunan masjid.

Imam, warga Kecamatan Pandan, terpaksa mengambil air di depan SMPN 2. "Gimana lagi, kalau enggak gini, nggak ada air di rumah untuk MCK, bahkan air minum pun kita harus ngambil di sini. Karena itu tadi sulit dapat air bersih. Air di rumah sudah mati hampir sebulan," jelasnya saat ditemui Tribun Medan, Kamis (18/12). 

Ia berharap, air segera hidup. Sebab, air adalah kebutuhan utama masyarakat.

"Lumayan juga Rp 1.000 satu giregen. Kita sekali beli 10 jerigen dikali 30 hari. Kalau bisa dipercepat perbaikannya. Kita juga nggak bisa bilang apa-apa ya karena ini bencana. Tapi kita minta segeralah air bisa hidup lagi," jelasnya. 

Hal senada disampaikan, warga Jalan Matauli Kecamatan Pandan Zulfikar. Menurutnya, meski bisa mendapatkan air dengan mudah tetap saja membuatnya jenuh.

"Gimana ya, tiap hari kita mengantre mengambil air, angkat air. Capek juga. Paling lama itu pernah saya mengantre air setengah jam. Dan pernah juga mengambil air subuh-subuh, biar nggak mengantre," ucapnya. 

Untuk itu ia berharap agar air di rumahnya bsa hidup seperti sebelum bencana.

"Kita berharaplah air cepat hidup. Biar nggak ngantre lagi. Tapi gimana lagi, ini bencana.  Kita harap sebelum tanggal 25 Desember sudah hiduplah air ini," jelasnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved