Pesan Ratna pada Anak di Pesantren, 'Hemat-hemat Ya Mang'          

Pasalnya, sudah dua minggu mereka harus jalan selama 2 jam menuju Kota Pandan untuk bisa menghubungi keluarganya.   

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Ratna, saat berkomunikasi dengan anaknya yang berada di Pesantren, Senin (8/12/2025). Ratna satu diantara korban banjir di Kecamatan Tukka Kabupaten Tapanuli Tengah. 

TRIBUN-MEDAN.com, TAPTENG - Senyum sumringah terpancar dari sejumlah warga Desa Aek Tolang Induk Kecamatan Tukka saat jaringan telekomunikasi kembali pulih. 

Pasalnya, sudah dua minggu mereka harus jalan selama 2 jam menuju Kota Pandan untuk bisa menghubungi keluarganya.   

Misalnya saja seorang ibu rumah tangga bernama Ratna. Dari  pantauan Tribun Medan, dia berteriak ke warga setempat bahwa jaringan telekomunikasi sudah kembali pulih. 
"Sudah ada jaringan wei, sudah ada jaringan," teriaknya girang. 

Tanpa berpikir panjang, ia pun terlihat langsung menelepon seseorang. Ada yang membuatnya pilu. Ia meminta sang anak untuk berhemat, sebab kondisi rumah masih dalam keadaan kurang baik.

"Sehat kau ya Mang, masih ada uang mu Mang, hemat-hematlah dulu ya Mang. Yang penting sekarang rumah sudah dibersihkan. Tapi masih mau datang banjirnya. Tanggal 20 mamak jemput ya Mang," ucapnya sambil menahan tangis. 

Baca juga: Kepedihan Elisabet Hutabarat, 13 Hari Cari Jasad Ayah dan Abangnya yang Tertimbun Longsor di Tapteng

Saat didekati Tribun Medan, Ratna bercerita, anaknya sedang sekolah di Pesantren Kota Padang Sidimpuan. 

Sejak kejadian sampai kemarin, ia cuma bisa berkomunikasi dengan anaknya melalui chat Whats App milik gurunya.

"Dari bencana nggak bisa komunikasi, tapi pas kabarnya di Pandan ada sinyal l, pergilah ke sana tapi nggak bisa nelepon, cuma di WA kan saja, kalau mamak ayah adek-deknya semua sehat, begitulah terus," katanya saat ditemui Tribun Medan.

Diceitakan ibu beranak empat ini, ia sempat khawatir sebab seharusnya anaknya sudah bisa pulang tanggal 5 Desember kemarin. Sementara kondisi rumah masih belum bisa ditempati. 

"Udah nekat kian kami tanggal 5 itu jalan kaki saja ke Padang Sidimpuan. Karena semua akses jalan tertutup kan kecuali dengan jalan kaki. Akhirnya ke Pandan lah kami untuk komunikasi dengan gurunya. Ternyata alhamdulillah ujian diperpanjang sampai tanggal 20 Desember," ucapnya.

Diceritakannya, pasca banjir terjadi yang mereka alami adalah krisis ekonomi. Semua yang dijual dengan harga tinggi.

Diketahui, Babinsa Kecamatan Tukka, Koptu Holmes Padang mengatakan, di Kelurahan Hutanabolon sebanyak 20 orang meninggal dunia. Sekitar 9 diantaranya sudah ditemukan dan 11 orang lagi masih hilang.

"Kalau korban jiwa di Kelurahan Hutanabolon korban jiwa 20 orang. Kemudian yang sudah ditemukan 9 orang," katanya, Sabtu (6/12/2025).

Kelurahan Hutanabolon kurang lebih dihuni 874 kepala keluarga, dengan jumlah warga sekitar 2.927 orang. Akibat bencana ini, warga mulai meninggalkan kampung, sebagian lagi ada yang mengungsi di posko darurat.

Koptu Holmes mengatakan sebanyak 301 rumah rusak berat seperti hilang, tinggal atap, atau tinggal lantai 2 saja.Kemudian yang rusak sedang sebanyak 54, dan rusak ringan 66 rumah.

Saat ini Kelurahan Hutanabolon Kecamatan Tukka juga masih terisolir. Listrik belum nyala demikian pula dengan air bersih.

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved