Nekat Renangi Sungai Cari Bantuan, Gunakan Tali dan Bambu Selamatkan Ibu dan Bayi 

ia mendapatkan kabar keluarganya dari sang adik yang nekat berenang ke sungai, satu hari setelah kejadian banjir bandang terjadi.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
Tribunnews.com
Viral di sosial media video, sejumlah korban bencana alam di Tapteng terlihat sedang berada di pertengahan hutan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Rosmawati akhirnya bernapas lega karena telah mendengar kabar keluarganya  yang terjebak di hutan Hutanabolon Kecamatan Tukka Kabupaten Tapanuli Tengah, selamat dari bencana banjir dan longsor pada Selasa (26/11/2025).

Diceritakan Rosmawati, ia mendapatkan kabar keluarganya dari sang adik yang nekat berenang ke sungai, satu hari setelah kejadian banjir bandang terjadi.

Rosmawati mengatakan, adiknya itu berenang menyeberangi sungai agar bisa mencari makan untuk ibu dan keponakannya yang masih bayi serta mencari jaringan menghubungi dirinya.

"Keluarga saya sudah bisa dihubungi hari Minggu kemarin. Adik saya yang nelepon. Dia cari jaringan ke Kecamatan Pandan. Adik saya bilang keluarga selamat dari banjir dan longsor," katanya, Rabu (3/12/2025).

Berdasarkan cerita dari sang adik, kata Rosma, mereka berhasil keluar dari hutan pada Kamis (28/11/2025). Adiknya memberanikan diri berenang melewati sungai untuk mencari bantuan.

Baca juga: Cerita Warga Garoga, Berlarian Menghindari Banjir, Kini Menunggu Uluran Tangan dari Pemerintah

"Mereka keluar itu hari Kamis yang ngirim video itu, dia memberanikan diri berenang untuk nyari bantuan ke seberang. Memang belum surut, tapi dia nyobain saja, karena nggak ada sama sekali yang tahu keadaan mereka di sana kan. Apalagi ada ponakan saya yang masih bayi dan ibu saya," ucapnya.

Dikatakannya, adiknya tersebut melakukan evakuasi  secara mandiri. Tidak ada bantuan dari pihak pemerintah atau pun BPBD.

"Iya dia sendiri melewati sungai itu, adik saya umurnya 25 tahun.  Setelah berenang nyebrang sungai, adik saya ke Kecamatan Hutanabolon, dia ngelewati ke bawah, dia cari makanan, mereka semua kelaparan dan meminta pertolongan untuk evakuasi yang utama ponakan kami yang masih bayi dan mamak saya," jelasnya.

Setelah berhasil menyeberangi sungai, kata Rosmawati, ia mencari  tali dan meminta warga turut membantunya.

"Adik saya menyelamatkan dengan tali dibantu oleh warga. Dari situ mereka mencari bambu disambung-sambung akhirnya ibu, ponakan saya yang masih bayi berhasil dievakuasi," jelasnya.

Dikatakannya,  setelah berhasil meminta pertolongan untuk menyelamatkan Ibu, adik saya pun sempat meminta beras ke kedai yang masih buka.

"Dia minta beras dan mengutang ke kedai yang masih ada karena semua sudah kelaparan," katanya.

Diceritakannya, selama dua hari terjebak di hutan, mereka pun bertahan hidup dengan memakan nangka muda yang besar bijinya seperti kelereng.

"Makan nangka muda katanya, sebiji kelereng (besarnya) mereka panggang, itulah yang mereka makan. Tapi pada saat kejadian sampai besok itu enggak makan sama sekali. Sementara minumnya, minum air hujan itu," katanya.

Diterangkannya, saat ini kodisi bayi  dalam keadaan selamat. Namun memang kondisinya sempat tidak bisa menangis.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved