Banjir dan Longsor di Sumut
Cerita Warga Garoga, Berlarian Menghindari Banjir, Kini Menunggu Uluran Tangan dari Pemerintah
Ratusan pengungsi dari Desa Batu Horing dan Hutagodang Kecamatan Garoga masih mengungsi di posko bencana alam Sopo Daganak
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Ratusan pengungsi dari Desa Batu Horing dan Hutagodang Kecamatan Garoga masih mengungsi di posko bencana alam Sopo Daganak, di Desa Napa Kecamatan Batang Toru hingga hari ini, Rabu (3/12/2025).
Pantauan Tribun Medan, di posko tersebut sejumlah warga terlihat mengungsi di sana. Hanya ada satu ambal panjang di bagian depan selebihnya tidak memakai ambal.
Banyaj warga yang tidur di sana. Bahkan anak-anak juga terlihat bermain di posko bencana tersebut. Posko ini cukup luas dan cuaca matahari pun cukup cerah dimana para pengungsi sebagian ada yang mengecek rumahnya. Ada yang menjemur pakaian. Dan ada yang belum berani pulang ke rumahnya.
Satu di antara warga yang belum berani pulang ke rumahnya adalah, Rahmadoni warga Desa Batu Horing Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Selatan.
Rahmadoni bercerita, ia bersama sang keluarga masih takut dan trauma mendatangi desa tersebut.
Diceritakan warga yang sudah 45 tahun tinggal di desa tersebut, ini kali pertama banjir bandang sampai menghanyutkan desa di Kecamatan Garoga.
Pada saat bencana banjir, Doni bercerita ia bersama keluarga berlari dengan cepat agar air banjir tidak menenggelamkan mereka.
"Hari Selasa minggu lalu kejadiannya, awalnya memang sudah banjir tapi sempat surut di hari Senin. Namun, di hari Selasa banjir datang tiba-tiba pada pukul 07.00 WIB. Akhirnya melihat arus banjir besar kami pun berlarian menjauh dari air ke Atas Desa Batu Horing yang paling tinggi," jelasnya saat ditemui Tribun Medan di Posko tersebut
Doni menjelaskan, setelah air surut, ia pun bersama keluarga di evakuasi. Pada saat itulah ia melihat mayat yang banyak, rumah warga sudah tidak ada, bangunan pasar pun rata dengan tanah.
"Terus terang masih trauma dan takut sekali ke rumah. Memang rumah kami hanya rusak setengah. Tapi sampai sekarang trauma dan ketakutan jika ke rumah, kejadian itu terjadi lagi. Akhirnya, saya memutuskan, agar keluarga menginap di Sopo ini saja," ujarnya.
Apalagi, alasan ia menetap di posko lebih lama, karena area di tempat tinggalnya masih rawan longsor.
"Alhamdulillah semua keluarga selamat. Penyelamatan ayah yang buat was-was. Karena pas mau menyelamatkan ayah, itu air sudah dekat. Ayah saya naik ke seng. Tapi akhirnya berhasil dievakusi," ucapnya.
Sejauh ini, kata Doni sudah 8 hari pasca banjir bandang terjadi, tetapi belum ada bantuan pemerintah yang datang ke pihaknya.
"Bantuan dari perusahaan swasta ada. Tapi dari pemerintah mau itu dari Pemprov Sumut atau dari Pemkab Tapsel. Bantuan yang kami terima ini juga datang dari bantuan bantuan sosial dari orang-orang," katanya.
Saat ini yang dibutuhkan pihaknya adalah memberikan pangan, air bersih dan bantuan bencana sewajarnya.
"Sudah 8 hari menahan banjir bantuan yang dibutuhkan saya minta air pasokan makanan walaupun sederhana bencana air sewajarnya aja (bantuan rumah)," katanya.
(cr5/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Puasa Tinggalkan Kampung Halaman, Curhat Warga Korban Banjir Garoga: Gak Perlu Kami Baju Lebaran |
|
|---|
| AKHIRNYA Kementerian Lingkungan Hidup Gugat 6 Perusahaan di Sumut Rp 4,8 Triliun |
|
|---|
| Data BNBA Korban Bencana Sumut Rampung, Gubsu Bobby: Tinggal Tunggu Realisasi Anggaran |
|
|---|
| DAFTAR 6 Perusahaan di Sumut Digugat Kementerian LH Imbas Banjir Sumatera, Dua di PN Medan |
|
|---|
| Bupati Tapteng Masinton Normalisasi Sungai dan Sawah di Tukka, Akui Bona Lumban Paling Parah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pengungsi-Korban-Banjir-dari-Kecamatan-Garoga_Kabupaten-Tapsel_.jpg)