Banjir dan Longsor Tapsel

Terbawa Arus dan Terlepas dari Genggaman, Cerita Pilu Risna Berpisah dari Cucu karena Banjir Bandang

Begitu melihat tubuh kecil itu, Risna mencoba berdiri tegak, seolah menahan seluruh dunia yang runtuh di pundaknya.

Penulis: Azis Husein Hasibuan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Azis Husein Hasibuan
DIEVAKUASI - Seorang bocah korban tewas banjir bandang Batangtoru berhasil dievakuasi, Jumat (28/11/2025). Kini sudah 31 korban jiwa dalam musibah ini. 

TRIBUN-MEDAN.com,BATANGTORU- Total 31 korban meninggal dunia akibat banjir bandang di Batangtoru.

Dari 31 korban meninggal tersebut, satu di antaranya adalah seorang bocah berusia 5 tahun yang sudah 3 hari dicari keluarga dengan penuh harap.

Setiap hari, Risna, sang nenek dan putrinya datang ke Puskesmas Batangtoru untuk menanyakan kabar, memeriksa daftar korban selamat, lalu pulang dengan hati yang semakin berat.

Hari ini, langkah mereka terhenti bukan karena jawaban yang mereka inginkan, tetapi karena kenyataan yang paling mereka takuti.

Begitu melihat tubuh kecil itu, Risna mencoba berdiri tegak, seolah menahan seluruh dunia yang runtuh di pundaknya.

Berbeda dengan putrinya yang langsung terpaku, wajahnya kaku, matanya sembab menahan tangis yang tak lagi punya kata.

"Iya, itu cucuku. Sabar ya, nak. Sabar. Mudah-mudahan bisa kita makamkan dengan layak," kata Risna sembari menepuk-nepuk bahu putrinya.

Baca juga: Buntut Tol Amblas, PT Jasamarga Alihkan Lalu Lintas Arah Medan ke GTO Kemiri dan Kualanamu

Baca juga:  Salurkan Bantuan ke Daerah Terisolir Bencana di Taput, Ini Kata Anggota DPRD Taput Jimmy Tambunan 

Baca juga: Korban Tewas Banjir Bandang Batangtoru Bertambah Jadi 24 Orang, Ada 3 yang Baru Masuk Puskesmas

Suaranya bergetar, tetapi ia tetap berusaha menjadi tempat bersandar bagi anaknya, meski dirinya sendiri hampir roboh.

Di sudut ruang puskesmas, Risna duduk memeluk erat sehelai kain gendongan, kain yang dulu dipakai menggendong cucunya, kini ia persiapkan untuk membawa pulang tubuh mungil itu untuk terakhir kalinya.

Ia menunduk lama, seakan berbicara diam-diam dengan cucunya, seakan ingin meminjam kembali waktu yang sempat terlepas bersama derasnya banjir bandang.

Risna kini menunggu proses serah terima jasad cucunya.

Sebelumnya Risna bercerita saling berpegangan tangan saat banjir bandang terjadi. 

Saat itu mereka sedang berusaha menyelamatkan diri dengan keluar dari rumah. Situasi air sangat deras. 

Di kondisi ini, mereka semakin menguatkan pegangan tangan.

"Kami keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri karena air sudah sangat deras. Kami sama-sama saling pegangan tangan," ujar Risna kepada Tribun Medan, Rabu (27/11/2025) kemarin.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved