PDI Perjuangan Sumut

Ketua PDIP Sumut Serahkan Ratusan Paket Sembako di Sibuntuon, Pelosok Kabupaten Toba

Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara Rapidin Simbolon (kanan) menyerahkan bantuan sembako kepada warga saat kunjungan ke Desa Sibuntuon

Tayang:
Editor: Arjuna Bakkara
TRIBUN MEDAN/Arjuna Bakkara
Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara Rapidin Simbolon (kanan) menyerahkan bantuan sembako kepada warga saat kunjungan ke Desa Sibuntuon, Kecamatan Habornas, Kabupaten Toba, Kamis (30/4/2026). Dalam kunjungan tersebut, Rapidin juga berdialog dengan masyarakat dari tujuh desa yang menyampaikan aspirasi terkait sengketa kawasan hutan, rumah tidak layak huni, dan kerusakan jalan penghubung desa. 

TRIBUN-MEDAN.COM, TOBA-Kunjungan Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara Rapidin Simbolon ke Desa Sibuntuon, Kecamatan Habornas, Kabupaten Toba, Kamis (30/4/2026), tak hanya menjadi agenda serap aspirasi politik.

Di desa yang dikenal terpencil dengan akses jalan panjang, berliku, dan sebagian rusak itu, Rapidin juga menyerahkan bantuan sembako kepada warga.

Bantuan berupa beras, gula, susu, dan kebutuhan pokok lainnya dibagikan kepada masyarakat usai dialog bersama warga dari tujuh desa sekitar.

Penyerahan dilakukan sederhana di halaman rumah warga, namun disambut antusias masyarakat yang telah menunggu sejak pagi.

Rapidin datang bersama Ketua Komisi B DPRD Sumut Sorta Ertary Siahaan serta Wakil Ketua Bidang Komunikasi Politik DPD PDIP Sumut Sutrisno Pangaribuan.

Perjalanan dari Balige menuju Sibuntuon memakan waktu beberapa jam karena kondisi jalan yang menanjak dan sebagian mengalami kerusakan.

Di sela pembagian sembako, warga memanfaatkan kesempatan untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi.

Kepala Desa Sibuntuon Sarto Tampubolon mengatakan, masalah status kawasan hutan menjadi salah satu hambatan utama masyarakat.

Sebagian lahan yang selama ini dikelola warga untuk bertani, kata dia, masuk dalam klaim kawasan hutan negara sehingga masyarakat merasa khawatir mengembangkan usaha pertanian.

“Masalah kehutanan ini sudah bertahun-tahun. Masyarakat takut mengolah lahan, padahal harga kopi sedang bagus. Kami butuh kepastian agar bisa bertani dengan tenang,” ujar Sarto.

Selain persoalan lahan, warga juga mengeluhkan kondisi rumah tidak layak huni.

Menurut Sarto, masih ditemukan rumah dengan atap darurat, bahkan sebagian menggunakan plastik untuk menahan hujan.

“Masih banyak rumah tidak layak huni. Ada yang atapnya pakai plastik. Kami sangat berharap program bedah rumah,” katanya.

Keluhan lain datang terkait kerusakan jalan penghubung Lumban Balik menuju Sibuntuon.

Kepala desa dari wilayah sekitar menyebut akses tersebut menjadi jalur utama mobilitas warga sekaligus distribusi hasil pertanian.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved