Catatan Akhir Tahun

Mudah-mudahan Tahun Depan Lebih Mendingan

Apakah Anda sekalian bisa mencatat peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi sepanjang 2025, dari Januari sampai Desember?

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN JAKARTA/DWI PUTRA KESUMA
KERUSAKAN AKIBAT BENCANA - Foto pantauan udara di Kecamatan Tuka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang mengalami kerusakan cukup parah pasca dilanda banjir dan longsor. Tumpukan potongan kayu berukuran yang terbawa banjir dari perbukitan sekitar pun masih ada di lokasi ini, Kamis (4/12/2025). 

SEKALI lagi kalender berganti. Hari terakhir pada Desember 2025, Rabu, tanggal 31, bergeser ke Kamis, 1 Januari 2026. Sekali lagi, pergantian angka yang sudah menjadi rutin selama dua ribu dua puluh lima tahun.

Namun benarkah demikian? Benarkah pergantian hari pergantian tahun ini sekadar merupakan rutinitas yang berulang?

Untuk menjawabnya, di awal sekali, saya kutipkan puisi ini. Judulnya ‘Desember’, ditulis Joko Pinurbo tahun 1991 di Jogjakarta, jauh sebelum dia menuliskan puisi-puisi tentang celana.
 
Di musim yang rusuh ini, di musim yang resah ini
hangatkan hari yang sebentar lagi tanggal,
hangatkan hati yang tetap tinggal.
 
Musim yang rusuh, musim yang resah. Hal-hal apa sajakah yang terjadi pada tahun 1991 hingga membuat Joko Pinurbo menyimpulkannya sebagai musim yang rusuh dan resah? Tahun 1991, persis di Desember, Uni Soviet runtuh. Ini peristiwa geopolitik monumental. Upaya kudeta yang gagal oleh kelompok komunis garis keras empat bulan sebelumnya, melemahkan kekuasaan pusat secara drastis. Tanggal 25 Desember 1991, saat lonceng natal menggema dari gereja-gereja, Mikhail Gorbachev mengundurkan diri, dan persis esoknya, Uni Soviet yang raksasa pecah jadi 15 negara merdeka. 

Apa lagi? Di tahun 1991, satu prosesi pemakaman di Kota Dili, Timor Timur, meletup jadi kerusuhan massal, dan berdarah-darah, setelah ratusan mahasiswa dan aktivis pro-kemerdekaan Timor Timur, terlibat bentrok dengan tentara Indonesia.

Peristiwa yang dikenal sebagai ‘Insiden Santa Cruz’ ini kemudian memicu gejolak yang lebih besar dan membuat Indonesia jadi perhatian dunia internasional. Satu bulan kemudian, 27 Oktober 1991, secara formal, Pemerintah Indonesia melepaskan kendali administratif atas Timor Timur kepada pemerintahan transisi PBB.

Apakah kedua peristiwa ini? Atau ada peristiwa-peristiwa lainnya? Ataukah Joko Pinurbo tidak menjadikan Uni Soviet dan Timor Timur sebagai dasar pemikiran, melainkan merekam saja hari-hari yang dijalaninya pada masa itu, yang barangkali dirasakannya memang serba rusuh dan oleh sebab itu meresahkan.

Puisi ‘Desember’ ini dituliskan tanpa tahun. Bukan ‘Desember 1991’, katakanlah seperti ‘Dilan 1991’, misalnya. Jadi ia bukan merupakan penanda peristiwa yang spesifik. Tahun 1991 dituliskan di ujung puisi saja, sebagai semacam penanda titimangsa. Dengan demikian, ‘Desember’ memungkinkan untuk dibaca kapan saja. Terutama karena kata-kata yang menyusun baris-baris kalimat di dalamnya, justru makin relevan dengan keadaan. Termasuk sekarang, berselang 34 kali Desember setelah puisi itu dituliskan.

Apakah Anda sekalian bisa mencatat peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi sepanjang 2025, dari Januari sampai Desember? Barangkali agak sulit untuk merunut semuanya secara rinci. Tak seperti tahun 1991, tatkala surat kabar, majalah, tabloid, serta televisi dan radio menjadi tumpuan untuk mendapatkan kabar berita dan peristiwa, hingga di lain sisi membuatnya jadi sungguh rentan terhadap perlakuan represif sebangsa filter total, bahkan pembungkaman, sekarang segala sesuatunya tergantung [ter-, bukan ber-] pada ujung jari saja. Teknologi makin maju. Internet makin cepat. Kabar berita dan peristiwa dari ujung langit sekali pun bisa diakses sambil rebahan di kamar.

Secara umum tahun 2025 tercatat sebagai periode perubahan besar yang diwarnai gejolak geopolitik, transisi kepemimpinan, dan rentetan bencana alam yang dipicu krisis iklim. Secara spesifik? Kekecewaan publik atas kebijakan pemerintah yang dirasa serampangan. Kekecewaan ini, yang susul-menyusul saban hari, akhirnya terakumulasi dan melahirkan gelombang-gelombang aksi demonstrasi yang memuncak pada gerakan masif dengan hashtag (#) Indonesia Gelap di media sosial. Kekacauan merebak. Chaos di mana-mana. Penjarahan, yang entah liar entah terorganisir, menyasar rumah-rumah para petinggi negeri yang dituding sebagai biang kekacauan ekonomi, mulai Ahmad Syahroni sampai Sri Mulyani.

Lalu sebutlah MBG, program andalan sekaligus kesayangan Presiden Prabowo Subianto. MBG akronim 'Makan Bergizi Gratis', tapi publik mengganti kata 'Bergizi' menjadi 'Berbahaya'. Sebabnya dia: keracunan, yang terjadi bukan sekali dua kali, serta potensi korupsi. Zainal Abidin Mochtar, seorang pemikir yang sejauh ini juga seorang penentang, lewat akun media sosialnya, memaparkan perihal potensi ini. Berangkat dari hitungan matematika, dia memampangkan perbandingan, bahwa dengan anggaran Rp 331 Triliun, ketimbang memasok MBG dalam bentuk makanan jadi senilai Rp10 ribu sampai Rp15 ribu per-porsi, memungkinkan bagi pemerintah untuk memberikan Rp50 ribu tunai kepada orang tua siswa untuk menyediakan menu yang jauh lebih bergizi. 

RUSAK PARAH - Foto udara Desa Garoga yang tersapu banjir dan longsor di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, Sabtu, 6 Desember 2025. Terlihat gelondongan batang kayu memenuhi setiap sudut lokasi bencana.
RUSAK PARAH - Foto udara Desa Garoga yang tersapu banjir dan longsor di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, Sabtu, 6 Desember 2025. Terlihat gelondongan batang kayu memenuhi setiap sudut lokasi bencana. (TRIBUN JAKARTA/DWI PUTRA KESUMA)

Lalu datang pula bencana itu, menghantam tiga provinsi di Sumatra: Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat. Bukankah bencana merupakan perkara prerogatif Tuhan? Benar, tapi bencana ini berkaitpaut dengan ekologis, dan segala sesuatu yang menyangkut ekologis, terkhusus kerusakannya, tak dapat dilepaskan dari kelakuan manusia -kerakusan, ketamakan, kebengisan, yakni sifat-sifat yang sejatinya lebih identik dengan binatang.
Banjir menerjang. Bukan cuma air, tapi juga lumpur, batu, dan gelondongan-gelondongan kayu. Tak perlu menjadi pintar untuk tahu betapa kayu-kayu itu bukan kayu lapuk atau tercerabut dari akarnya seperti disebut oleh orang-orang yang ditugaskan negara untuk mengurus hutan dan bencana alam.

Namun yang paling menyesakkan, Lagi-lagi, adalah reaksi pemerintah. Bukan soal cepat atau lambatnya penanganan, tetapi sikap yang ditunjukkan dalam menanggapi inisiatif yang dilakukan rakyat untuk rakyat. Saat rakyat bergerak, justru mencuat narasi-narasi yang secara moral kesannya mendegradasi gerakan-gerakan tersebut.

Apa lagi? Untuk menyebut beberapa saja: represi aparat yang mulai terang-terangan, intoleransi menyangkut suku dan agama, silang-sengkarut ijazah mantan presiden. Juga keriuhan-keriuhan yang dipicu masalah orang-orang populer; Erika Karlina, Ammar Zoni, Raisa, Ridwan Kamil. 
 
Di musim yang rusuh ini, di musim yang resah ini
hangatkan hari yang sebentar lagi tanggal,
hangatkan hati yang tetap tinggal.

Begitulah, 'Desember' sesungguhnya tidak melulu muram. Puisi ini mencoba mengedepankan harapan juga. Dua kalimat terakhir bicara tentang kehangatan. Hari yang hangat, hati yang hangat. Dengan kata lain, segenap kekecewaan, bahkan kemarahan, hendaknya diredam agar segenap kesemrawutan dan kecentang-prenangan tidak malah jadi kian runyam. Mudah-mudahan nanti, tahun depan,  keadaan akan lebih mendingan.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved