Iran Vs Amerika Serikat
Deadline 3 Hari, Trump Ancam Iran Jika Gagal Damai, Bakal Siapkan Serangan Besar
Trump kini memberi tenggat waktu yang sangat singkat kepada Teheran untuk segera mengajukan proposal perdamaian.
TRIBUN-MEDAN.com - Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump melontarkan ultimatum keras yang mengejutkan dunia internasional.
Trump kini memberi tenggat waktu yang sangat singkat kepada Teheran untuk segera mengajukan proposal perdamaian.
Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran baru akan potensi pecahnya konflik besar di kawasan Timur Tengah.
Trump hanya memberikan waktu dua hingga tiga hari sebelum Washington kembali mempertimbangkan opsi serangan militer besar-besaran terhadap Iran.
Baca juga: Laporkan Dokter dan RS ke Kemenkes, Pasien Korban Angkat Rahim Tanpa Izin Belum Dapat Keadilan
Pernyataan tegas itu disampaikan Trump pada Selasa (19/5/2026) di dekat lokasi pembangunan ballroom baru Gedung Putih.
Dalam keterangannya di hadapan wartawan, Trump bahkan mengklaim bahwa militer Amerika Serikat sebenarnya sudah berada di ambang peluncuran operasi militer terhadap Iran.
“Rezim Iran tahu saya sedang bersiap untuk menyerang,” kata Trump kepada wartawan seperti dilansir dari laman theepochtimes.com.
Ucapan tersebut sontak menjadi perhatian dunia karena menggambarkan betapa dekatnya keputusan perang yang hampir diambil Washington.
“Saya tidak memberi tahu siapa pun kapan. Tapi mereka tahu kami sudah sangat dekat. Saya hanya satu jam lagi dari membuat keputusan untuk menyerang hari ini,” lanjutnya.
Baca juga: Prabowo Sebut Dirinya Merasa Sangat Dihormati Negara Lain Sampai Banyak yang Minta Bantuan
Trump bahkan menyebut situasi dunia saat ini mungkin sudah berubah drastis apabila keputusan serangan itu benar-benar dijalankan beberapa jam sebelumnya.
Di tengah meningkatnya tekanan diplomatik, Trump mengatakan dirinya sudah memberi sinyal langsung kepada pejabat Iran bahwa waktu menuju kesepakatan damai kini semakin sempit.
“Saya memberi mereka dua atau tiga hari, mungkin Jumat, Sabtu, Minggu, atau awal pekan depan. Jangka waktunya terbatas,” ujar Trump.
Menurut Trump, apabila Iran gagal memberikan kesepakatan yang dianggap memuaskan Washington, maka opsi militer tidak akan ragu untuk kembali dijalankan oleh Amerika Serikat.
Trump juga kembali menegaskan sikap kerasnya terkait program nuklir Iran yang selama ini menjadi sumber ketegangan global.
Baca juga: Kejanggalan Wagub Babel Hellyana Tak Bayar Tagihan Hotel, Padahal Punya Harta Rp 5 Miliar
“Kita tidak bisa membiarkan mereka memiliki senjata nuklir. Jika mereka punya, mereka akan mulai dengan Israel. Mereka akan menghancurkannya dengan cepat,” katanya, seraya menuduh Iran juga berpotensi menyerang negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Qatar apabila konflik terus membesar.
Serangan AS Sempat Disiapkan
Sehari sebelumnya, Trump mengejutkan publik setelah mengungkap dirinya menunda serangan militer terhadap Iran yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung Selasa.
Melalui unggahan di Truth Social pada 18 Mei 2026, Trump mengatakan keputusan itu diambil karena sedang berlangsung “negosiasi serius” untuk mengakhiri perang.
Ia juga mengaku mendapat permintaan langsung dari para pemimpin Arab Saudi, UEA, dan Qatar agar tidak meluncurkan serangan baru terhadap Iran demi mencegah kawasan Timur Tengah jatuh ke konflik yang lebih luas.
Namun di balik penundaan itu, Trump mengaku militer AS sebenarnya telah siap tempur sepenuhnya.
“Kami semua sudah siap. Kapal-kapal perang sudah penuh persenjataan. Kami siap memulai,” kata Trump.
Meski demikian, Trump tidak mengungkap detail target maupun bentuk operasi militer yang sebelumnya direncanakan.
Ancaman “Big Hit” Baru terhadap Iran
Situasi memanas kembali setelah Trump pada Selasa malam kembali membuka kemungkinan serangan baru terhadap Iran.
“Saya berharap kita tidak perlu perang. Tapi mungkin kami harus memberi mereka pukulan besar lagi,” ujar Trump.
Ia menambahkan keputusan final akan segera diketahui dalam waktu dekat.
Pernyataan itu mempertegas bahwa meski jalur diplomasi masih dibuka, opsi militer tetap berada di atas meja Gedung Putih.
Iran Ajukan Proposal Perdamaian
Di tengah tekanan AS, media pemerintah Iran melaporkan Teheran telah menyiapkan proposal kesepakatan baru.
Isi proposal itu disebut mencakup:
Penarikan pasukan dari wilayah dekat Iran,
Penghentian perang di semua front termasuk Lebanon,
Kompensasi kerusakan akibat konflik,
Pencabutan sanksi ekonomi,
Penghentian blokade maritim AS.
Namun, pejabat tinggi Iran tetap menegaskan bahwa hak Teheran untuk memperkaya uranium tidak dapat dinegosiasikan.
Sikap keras Iran juga disampaikan Jenderal Ali Abdollahi melalui kantor berita Tasnim News.
“Jika musuh melakukan kesalahan lagi, kami akan menghadapi mereka dengan kekuatan jauh lebih besar dibanding konflik sebelumnya,” tegas Abdollahi.
Iran juga memperingatkan akan membuka front perang baru jika AS kembali melancarkan serangan.
Timur Tengah Kian Membara
Konflik antara AS-Israel melawan Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026 kini semakin meluas dan memicu ketegangan regional.
Iran dan kelompok sekutunya di Irak dilaporkan beberapa kali melancarkan serangan drone ke negara-negara Teluk Arab.
UEA bahkan baru-baru ini menuding Iran berada di balik serangan drone dan rudal meski gencatan senjata sempat diumumkan.
Pada Minggu lalu, sebuah serangan drone memicu kebakaran di dekat satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir milik UEA. Pemerintah Emirat menyebutnya sebagai “serangan teroris tanpa provokasi.
Harga Minyak Melonjak Tajam
Ketegangan di kawasan Teluk juga mulai mengguncang ekonomi global.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan terganggu sejak awal konflik. Jalur strategis pengiriman minyak dunia itu kini mengalami pembatasan lalu lintas.
Dampaknya, harga minyak mentah Brent melonjak menembus 110 dolar AS per barel. Harga bensin di Amerika Serikat juga terus naik dan kini rata-rata berada di atas 4,50 dolar AS per galon.
Kondisi ini mulai memicu tekanan politik domestik terhadap Trump.
Sejumlah survei terbaru menunjukkan hampir dua pertiga warga Amerika menilai perang melawan Iran sebagai keputusan yang salah. Sementara lebih dari separuh warga mengaku kenaikan harga bahan bakar telah menjadi beban ekonomi serius.
Dunia Menanti Langkah Trump
Kini dunia menunggu keputusan akhir Gedung Putih. Apakah ultimatum tiga hari Trump akan berujung pada kesepakatan damai, atau justru membuka babak baru perang besar di Timur Tengah.
Dengan armada militer AS yang disebut sudah siaga penuh, ancaman terhadap Iran bukan lagi sekadar retorika politik.
Satu keputusan dari Washington dalam beberapa hari ke depan berpotensi menentukan stabilitas kawasan, harga energi global, hingga arah geopolitik dunia.
(Tribun-Medan.com)
Artikel ini telah tayang di TribunNewsmaker.com
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
Trump Ancam Iran Jika Gagal Damai
Trump Beri Deadline 3 Hari ke Iran
Donald Trump
Iran
Amerika Serikat
| Trump Menolak Proposal Damai Iran yang Minta Ganti Rugi Rp 4.000 Triliun, Timur Tengah Panas Lagi |
|
|---|
| Iran Akhirnya Ungkap Kondisi Terbaru Mojtaba Khamenei secara Rinci |
|
|---|
| Donald Trump Ragu Iran Ajukan 14 Syarat Damai Akhiri Konflik Secara Permanen, Dunia Menahan Napas |
|
|---|
| Selat Hormuz Dibuka, Harga Minyak Langsung Anjlok, Pasar Global Bereaksi Cepat |
|
|---|
| Hizbullah Serang Israel, Gempuran Roket Lebanon Dipakai untuk Balas Dendam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Donald-Trump-as-muka.jpg)