Berita Viral

MOTIF Siswa SMK di Karawang Bunuh Adik Kelas Gegara Terlilit Utang, Pengamat Soroti Psikologis Anak

Peristiwa tragis dialami siswa SMKN Batujaya. Korban siswa kelas 1 SMKN Batujaya Karawang tewas ditikam kakak kelasnya.

Tayang:
HO
Ilustrasi pembunuhan. Peristiwa tragis dialami siswa SMKN Batujaya. Korban siswa kelas 1 SMKN Batujaya Karawang tewas ditikam kakak kelasnya. 

TRIBUN-MEDAN.com - Peristiwa tragis dialami siswa SMKN Batujaya. Korban siswa kelas 1 SMKN Batujaya Karawang tewas ditikam kakak kelasnya. 

Kasus ini menjadi sorotan publik. Kekerasan di lingkungan sekolah masih terjadi, bahkan korban sampai meninggal dunia. 

Tragedi ini dinilai menjadi alarm serius bahwa persoalan kesehatan mental di lingkungan sekolah tak lagi bisa diabaikan.

Pemerhati pendidikan yang fokus pada isu kesehatan mental anak dan remaja, I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya, menilai peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa persoalan kesehatan mental di lingkungan sekolah sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan.

Menurut Dewa, ruang kelas saat ini bukan lagi sekadar tempat transfer ilmu, tetapi juga menjadi ruang yang menyimpan persoalan besar terkait kondisi psikologis para siswa.

“Seperti contoh belum lama ini kasus yang terjadi di Karawang, kakak kelas menghabisi nyawa adik kelasnya. Kondisi ini sudah melampaui batas toleransi,” kata Dewa, Senin (18/5/2026).

Baca juga: SeaBank Resmikan Kantor Cabang Medan, Langkah Perluas Akses Layanan Keuangan Digital

Baca juga: Curi Motor Sport Milik Pemburu, 2 Remaja di Tapteng Ditangkap Sebelum Jual Hasil Kejahatan

Ia menegaskan, persoalan kesehatan mental siswa tidak lagi sebatas stres menghadapi ujian atau tekanan akademik, melainkan sudah menyangkut keselamatan jiwa peserta didik.

Keprihatinan tersebut, kata Dewa, diperkuat hasil Survei I-NAMHS 2022 yang mengungkap satu dari tiga remaja Indonesia, atau sekitar 15,5 juta jiwa, mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir.

Menurutnya, angka tersebut seharusnya menjadi alarm bagi seluruh pihak, terutama pembuat kebijakan pendidikan dan para guru yang setiap hari berinteraksi langsung dengan siswa.

Namun, ia menilai banyak guru belum dibekali kemampuan memadai untuk menangani persoalan psikologis siswa.

"Beban mengajar, tekanan administrasi, dan minimnya bekal penanganan psikologis membuat banyak guru mundur ke zona aman, sekadar menjadi fasilitator belajar,” ujarnya.

Sebagai solusi, Dewa mendorong adanya pelatihan hipnoterapi bagi para guru agar mereka memiliki kemampuan mengenali dan menangani masalah psikologis siswa sejak dini.

Ia mencontohkan program pelatihan yang dilakukan Indonesian Hypnosis Centre bagi guru dan remaja di Jakarta dan sekitarnya.

Menurut Dewa, melalui pelatihan tersebut, guru dibekali kemampuan menangani konflik batin, terapi gangguan psikologis, hingga teknik terapi massal yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah.

“Kalau guru bisa mengenali dan menangani lebih awal, kita bisa mencegah banyak tragedi,” pungkasnya.

Baca juga: Komisi IX dan BGN Gelar Sosialisasi Program MBG di Desa Pertumbukan Langkat Dorong Generasi Sehat

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved