Berita Sumut

Bulog dan Petani Simalungun Menjaga Pangan di Tengah Sengatan Matahari dan Cuaca Tak Menentu

Sengatan matahari pada siang hari menjadi tantangan bagi masa depan tanaman sawah di Simalungun.

Tayang:
Penulis: Tommy Simatupang | Editor: Tommy Simatupang
TRIBUN MEDAN
Petani Azlan Hanafi merawat tanaman padinya di Desa Sigodang Timur, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun, Sumut, Sabtu (9/5/2026). Azlan mengungkapkan sejumlah tantangan petani sawah di tengah kondisi tak tentu. Dia turut menjalin komunikasi dengan Bulog agar penyerapan berjalan baik tiap tahun. 

Namun Berdia mengaku ada sejumlah tantangan yang dihadapi Bulog, yakni penjualan gabah ke tengkulak. Petani memilih menjual hasil panen ke tengkulak karena mendapatkan tawaran pinjaman modal awal tanam. Selain persaingan dengan tengkulak, Bulog juga harus menjangkau lokasi yang cukup jauh. 

“Seperti di Kecamatan Ujung Padang Simalungun, kan jauh itu, kita ke sana mulai dini hari. Lalu kita bantu petani itu melangsir padinya juga. Kita tetap pada prinsip menyerap hasil panen petani dengan harga yang wajar meski lokasi yang sangat jauh,”ungkapnya.

bulogdanpetanibahjambisdf
Bulog Pematangsiantar melakukan penjemputan gabah kering petani di Desa Bah Jambi, Kabupaten Simalungun, Sumut, Kamis (30/4/2026). Bulog Simalungun memperkuat penyerapan gabah ke seluruh petani secara merata.

Pencapaian serapan Bulog di Simalungun sejalan dengan ketersediaan beras di tingkat Sumut. Bulog Sumut memiliki stok beras mencapai 64.170 ton hingga akhir Mei 2026. Stok ini mampu menjawab keraguan jelang Idul Adha. Bulog mencatat total realisasi penyerapan gabah dari petani di Sumut saat ini telah mencapai 26.000 ton atau 12.967 ton setara beras. Penyerapan gabah itu di antaranya Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai, dan Kabupaten Tapanuli Selatan. Bulog Sumut memastikan stok beras Sumut tetap aman di Tengah ancaman El Nino

Sementara, menanggapi keluhan petani, Bupati Simalungun Anton Achmad Saragih mengungkapan sawah irigasi di wilayah Simalungun seluas 27.452,5 hektare dan yang belum dialiri irigasi seluas 240,7 hektare. Anton memastikan pada tahun 2026 ini akan melanjutkan program pembangunan irigasi untuk program swasembada pangan. Anton mengakui kekeringan sempat melanda 150 hektare sawah di Simalungun. Pemkab Simalungun melakukan koordinasi dengan kementerian untuk mengatasi kondisi ini di samping terus melakukan penyuluhan ke petani dan mendatangkan bibit unggul dari Indramayu. 

“Pemerintah terus berupaya mengamankan produksi pangan dengan program cetak sawah baru seluas 200 hektare dan alokasi bibit padi sawah seluas 5.000 hektare,”kata Anton saat diwawancarai di kantornya di Pematang Raya, Simalungun. 

Pemanfaatan Mulsa Organik

Pakar pertanian dari Universitas Sumatera Utara, Prof. Abdul Rauf memeberikan solusi dampak anomali cuaca yang terjadi saat ini. Prof Abdul Rauf menyarankan petani sawah untuk memanfaatkan penggunaan mulsa organik dari jerami padi atau daun kering untuk menghadapi suhu panas.  

Selain mulsa organik, penggunaan pupuk juga mempengaruhi hasil panen. Ia mengungkapkan penggunaan pupuk kandang dan pupuk kompos dapat meningkatkan kualitas tanah di sawah. Di samping itu, seleksi bibit yang kuat dengan suhu panas tidak boleh dilupakan. Menurut Prof Rauf, kombinasi ini bisa membuat petani tidak begitu khawatir lagi.   

“Jadi tanah yang mengandung bahan organik sekitar 2,5 persen lebih produktif. Umumnya tanahnya subur, tanah yang bisa tahan dengan anomali iklim ini. Kalau kondisi panas terik dia tidak terlalu kering atau air banyak tidak juga menyebabkan banjir,”ujar Prof Rauf saat dihubungi via seluler, Sabtu (16/5/2026). 

Terkait gagal panen seperti bulir padi yang kosong, berdasarkan analisis Prof Rauf ini bisa disebabkan oleh tiupan angin di musim panas. Intensitan angin yang tinggi berpotensi membawa serbuk sari sehingga tidak terjadi pembuahan. “Bulir kosong itu pada saat terjadi pembuahan, saat berbunga itu sedikit sekali organisme yang membantu penyerbukan. Atau karena faktor angin kencang juga menerbangkan serbuk-serbuk sari,”ujarnya. 

Sedikit informasi, suhu panas di Sumut pada Februari hingga awal Mei memang terpantau cukup tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah 1 Medan memantau suhu udara di siang hari bisa mencapai 35 derajat celcius. Lalu ditambah dengan dampak El-Nino yang menimbulkan hembusan angin. Namun, menurut PMG Madya BBMKG Wilayah I, Martha Manurung kondisi ini segera berlalu dan Sumut diprediksi memasuki musim hujan sebentar lagi. 

“Karena banyaknya suhu udara ke atas ini memicu pertumbuhan awan-awan konvektif. Saat ini dalam fenomena El Nino ada belokan angin. Belokan angin ini juga mengakibatkan hujan di malam hari. Bulan mei ini sebagai awal musim hujan pertama,”ujarnya.(tmy)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved