Berita Sumut
Bulog dan Petani Simalungun Menjaga Pangan di Tengah Sengatan Matahari dan Cuaca Tak Menentu
Sengatan matahari pada siang hari menjadi tantangan bagi masa depan tanaman sawah di Simalungun.
Penulis: Tommy Simatupang | Editor: Tommy Simatupang
TRIBUN-MEDAN.com - Wajah Supadi (73) tampak cemas menatap sawahnya yang menghadapi cuaca tak tentu. Cuaca yang tidak normal ini membuat resah. Sengatan matahari pada siang hari menjadi tantangan bagi masa depan tanaman sawah di Simalungun. Supadi duduk di pondok. Seperti biasa, jika terlalu panas, Supadi memilih duduk di pondok sembari menunggu cahaya matahari sedikit redup. Dia khawatir bibit padi yang baru ditanamnya sebulan lalu. Ditambah, sawahnya hanya mengandalkan air hujan, tidak ada sistem pengairan. Tak Cuma kualitas, Supadi risau dengan jumlah hasil panen nanti. Namun, Supadi tetap menyimpan harapan besar ke sawahnya yang kecil itu, cuma 800 meter persegi di Desa Sigodang Timur, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun, Sumut.
Saat berbincang dengan wartawan pada Sabtu (9/5/2026), Supadi tidak tergoda untuk mengalihfungsikan lahannya menjadi tanaman lain. Dia merasa perlu menjaga eksistensi Simalungun sebagai sentra produksi gabah meski harus terus berjuang menghadapi iklim tak bersahabat mulai Maret 2026 dan diperkirakan hingga Juni 2026.
“Cuaca panas yang tinggi ini memang sulit bagi petani sawah seperti kami. Tapi, semua ini bisa disiasati dengan penggunaan pupuk dari urea ke pupuk ZA. Karena kalau urea di musim panas nitrogennya terbang, jadi tinggal ampas,”ujarnya sambil tersenyum.
Pengetahuan Supadi tentang khasiat pupuk cukup banyak. Dia mendapatkan pembekalan dari penyuluh pertanian dan sosialisasi Bulog. Supadi yang akhir-akhir ini menyelesaikan masa panen dengan hasil 200 kilogram padi menceritakan pengalamannya jika menghadapi suhu panas tinggi. Menurut pengamatannya, musim panas yang panjang bisa mengakibatkan bulir padi kosong atau gagal buah.
Petani lain yang sawahnya bersebelahan dengan Supadi, Nasib (65) mengaku sering mendapatkan solusi dari pemerintah dan pegawai Bulog terkait ancaman kekeringan dan anomali cuaca. Nasib merasakan dampak dari fenomena El Nino ke sawahnya seluas 1.200 meter persegi. “Kita sering cerita-cerita dengan pegawai Bulog dan dapat banyak informasi. Mereka bisa kasih solusi dan kita kerjakan," ucapnya.
Nasib mengatakan petani sekarang tidak bisa lagi mengandalkan ramalan cuaca secara tradisonal. Sebab, cuaca yang tiba-tiba panas dan hujan ini tidak bisa lagi diprediksi dengan konsep tradisional. Kondisi cuaca inilah menurut Nasib membuat petani sawah beralih ke tanaman lain, yang lebih kuat. “Kami lahir di sini. Kenapa terjadi alih fungsi lahan sawah? Iya semua bermula dari kurangnya air. Tapi kan belum tentu tanaman darat banyak hasilnya dari sawah," ujarnya sembari mengharapkan ada teknologi penyiraman sawah dari pemerintah daerah.
Sebagai lumbung padi di Sumut, Simalungun belum kehilangan regenerasi petani sawah. Petani Gen-z, Azlan Hanafi (24), misalnya. Dia mengelola 1.600 meter persegi sering berkoordinasi dengan Bulog untuk penyerapan padi. Dia juga turut menjembatani petani dengan Bulog. Sebagai sarjana pertanian dan bekal pengetahuan dari ayahnya, Azlan menceritakan bahwa menjaga ketahanan pangan perlu melibatkan banyak sektor mulai petani, Bulog, dan pemerintah daerah.
Azlan memastikan pertanian sawah masih menguntungkan. Ia mengilustrasikan seperti panennya pada awal tahun 2026, dari luas sawahnnya itu bisa menghasilkan Rp 12.500.000 selama hari setelah tanam (HST) atau sekitar kurang dari 4 bulan. Azlan bangga kampung halamannya sebagai sentra gabah di Sumut. Kata Azlan penyerapan gabah dari Bulog turut memberikan kepastian bagi petani sawah. Kendati demikian, dia menaruh harapan ke pemerintah agar memikirkan dampak anomali iklim yang kemungkinan bisa mempengaruhi serapan gabah di Simalungun.
Keluhan petani sawah ini nyatanya sudah menjadi pembahasan oleh Bulog Kota Pematangsiantar yang meliputi 6 wilayah yakni Siantar, Simalungun, Toba, Samosir, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan. Kepala Perum Bulog Cabang Kota Pematangsiantar, Berdian Waradika Damanik menjelaskan ada sejumlah langkah menghadapi risiko akibat cuaca buruk. Langkah yang diambil seperti menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah untuk pemetaan potensi panen, informasi lokasi serap, serta koordinasi tingkat harga jual gabah, dan beras di tingkat petani secara berkala.
“Sebenarnya tidak ada tugas Bulog dalam meningkatkan atau pun menjaga agar ketersediaan gabah di kalangan petani selalu terjadi. Namun tetap kita lakukan sosialisasi ke petani agar tanaman bisa terawat baik dan hasil panen stabil atau melimpah. Kami jalin komunikasi ke Poktan dan Gapoktan perihal kualitas gabah dan beras sampai dengan mekanisme penyerapan, dan menyampaikan harga pembelian. Dengan adanya kerja sama tersebut, diharapkan kualitas hasil panen petani semakin baik, distribusi pangan semakin lancar, dan ketahanan pangan daerah tetap terjaga,”ujar Berdian di temui di kantornya di Jalan Asahan, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun.
Berdian mengakui petani sawah tengah dalam kesulitan menyiasati cuaca yang tak tentu berdampak pada kuantitas. Apalagi pada lokasi yang belum ada pembangunan irigasi sawah. Namun Berdian memastikan Bulog ikut mendampingi petani menghadapi situasi ini.
“Dalam menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu, seperti musim kemarau panjang yang berdampak pada irigasi dan produksi sawah, Perum Bulog merasakan hal itu. Kita berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memetakan potensi,”ujarnya seraya mengatakan berkoordinasi dengan rekan-rekan penyuluh pertanian dan Babinsa.
Berdasarkan data pada tahun 2015, Bulog Siantar menyerap gabah dan beras dari petani di Simalungun sekitar 5.740 ton. Jumlah ini meningkat signifikan pada tahun sebelumnya. Sementara pada tahun ini, mulai Januari hingga Februari 2026 telah mencapai sekitar 2.376 ton dari total target sekitar 13.500 ton.
“Capaian tersebut menjadi awal baik dalam mendukung program stabilisasi pasokan dan harga beras di tingkat petani. Untuk kontribusi terbesar dalam penyerapan gabah memang berasal dari Kabupaten Simalungun. Sekitar 50 persen dari target penyerapan berasal dari Simalungun,”ungkapnya.
Mekanisme penyerapan gabah dilakukan melalui pembelian langsung. Berdian mengatakan petugas Bulog akan menemui para petani terkait jadwal panen, volume produksi, serta pengecekan kualitas gabah atau beras sebelum proses pembelian dilakukan. Setelah memenuhi persyaratan, hasil panen akan diserap sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk harga pembelian pemerintah (HPP) mengikuti ketentuan yang berlaku, yakni sebesar Rp 6.500 per kilogram dan beras (medium) sebesar Rp 12.000 per kilogram.
| Alasan Polda tak Menahan Wakil Ketua DPRD Deliserdang, Hamdani Syahputra Berstatus Tersangka |
|
|---|
| Daftar 4 Kapolsek Diganti Kapolres Langkat, Termasuk Kapolsek Besitang, Kabag Ops, Kasi Propam |
|
|---|
| Daftar Nama 5 Pejabat Baru Dilantik Kapolres Tanjungbalai, Kabaops hingga Kapolsek |
|
|---|
| Hasil Seleksi Pejabat Pemko Siantar, Berikut Daftar Nama ASN Lolos Tahap Administrasi |
|
|---|
| 7 Camat di Simalungun Diperiksa Jaksa, Dugaan Korupsi Pelatihan Hanpang dan BUMDes |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/petanidisimalungusdfg.jpg)