Berita Nasional

Sentilan Ekonom untuk Prabowo: Kalau Dolar Naik, Orangutan Juga Kena

Sindiran itu muncul setelah Rupiah kembali menyentuh titik terlemah baru terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026),

Tayang:
TRIBUN MEDAN/YouTube Sekretariat Presiden
PIDATO PENUTUPAN RETRET: Presiden Prabowo Subianto saat memberikan pidato di retret Ketua DPRD seluruh Indonesia di Akmil Magelang, Sabtu (18/4/2026).(YouTube Sekretariat Presiden) 

TRIBUN-MEDAN.com - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal warga desa yang “tidak memakai dolar” justru memantik kritik tajam dari ekonom Prof. Ferry Latuhihin di tengah melemahnya nilai tukar Rupiah.

Ferry menilai dampak penguatan dolar Amerika Serikat tetap dirasakan seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga pedesaan yang sehari-hari tidak pernah memegang mata uang asing.

"Salah Pak, kalau dolar naik semua orang kena, Pak. Orangutan juga kena, Pak," kata Ferry, dikutip dari video yang diunggah di akun media sosial X (dulu Twitter) milik founder lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) Hendri Satrio, @satriohendri, Sabtu (16/5/2026), dilansir Tribunnews.com.

Sindiran itu muncul setelah Rupiah kembali menyentuh titik terlemah baru terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026), yakni di level Rp17.601 per dolar AS.

Sebelumnya, Rupiah juga sempat ditutup di angka Rp17.529 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026), menjadi salah satu level terendah sepanjang sejarah.

Di tengah kekhawatiran publik soal tekanan ekonomi, Prabowo sebelumnya mencoba menenangkan situasi saat berpidato dalam peresmian Museum Marsinah.

Ia menilai kondisi pangan dan energi Indonesia masih aman dibanding banyak negara lain.

"Saya yakin sekarang ada yang selalu, itu apa saya nggak mengerti ya, sebentar sebentar Indonesia akan kolaps, akan chaos, akan apa, iya kan?" ujar Prabowo saat berpidato dalam peresmian Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026) pagi.

"Rupiah begini, rupiah begini, apa, dolar begini, dolar begini. Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?"

"Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke. Kita banyak, banyak yang diberikan Yang Maha Kuasa."

Namun menurut Ferry, logika tersebut tidak tepat karena pelemahan Rupiah akan memengaruhi harga barang, biaya produksi, hingga kebutuhan pokok yang menggunakan komponen impor.

Artinya, masyarakat desa tetap ikut menanggung efeknya meski tidak bertransaksi langsung menggunakan dolar AS.

Kenaikan kurs dolar biasanya berdampak pada harga bahan bakar, pupuk, pangan impor, obat-obatan, hingga biaya distribusi barang yang akhirnya merembet ke harga kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, Ferry menilai persoalan nilai tukar tidak bisa dianggap jauh dari kehidupan masyarakat kecil.

Sorotan terhadap nilai tukar Rupiah sendiri terus menguat dalam beberapa hari terakhir, seiring munculnya kekhawatiran publik terhadap tekanan ekonomi global dan kondisi fiskal nasional.

Bergantung Pada Impor

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved