Berita Nasional

PRABOWO Balas Sindiran RI Bakal Kolaps Karena Nilai Tukar Rupiah Loyo, Bandingkan Negara Lain

Prabowo menegaskan bahwa kondisi pangan dan energi nasional saat ini berada dalam posisi yang aman. 

Tayang:
Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden
PRESIDEN PRABOWO - Presiden Prabowo Subianto menyindir pihak-pihak yang kerap meramalkan ekonomi Indonesia akan mengalami kehancuran atau kolaps akibat fluktuasi nilai tukar mata uang asing. 

TRIBUN-MEDAN.com - Presiden RI Prabowo Subianto menyindir pihak-pihak yang kerap meramalkan ekonomi Indonesia akan mengalami kehancuran atau kolaps akibat fluktuasi nilai tukar mata uang asing. 

Prabowo menyampaikan pernyataan itu saat meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026) pagi.

Sebagai informasi, nilai tukar atau kurs rupiah bahkan semakin loyo, di mana berdasarkan pantauan pada Jumat (15/5/2026) pukul 12.00 WIB, rupiah menyentuh 17.601 per dollar AS atau melemah 70 poin setara 0,40 persen.

Prabowo menegaskan bahwa kondisi pangan dan energi nasional saat ini berada dalam posisi yang aman. 

Baca juga: Roy Suryo Heran Polda Metro Jaya Doakan Berkas P21 Kasus Ijazah Jokowi, Pastikan Belum Final

Oleh sebab itu, ia meminta masyarakat tidak perlu panik dengan pergerakan mata uang dollar Amerika Serikat (AS) karena fundamental ekonomi riil di tingkat daerah tetap berjalan baik.

"Rupiah begini, rupiah begini, apa, dolar begini, dolar begini. Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya banyak negara panik, Indonesia masih oke. Kita banyak, banyak yang diberikan Yang Maha Kuasa," ujar Presiden Prabowo.

Lebih lanjut, Prabowo membandingkan ketahanan Indonesia dengan negara-negara lain yang saat ini sedang mengalami kepanikan akibat krisis geopolitik global. 

Menurutnya, situasi dunia memang menekan rantai pasok, namun Indonesia justru mampu bertahan bahkan mengekspor komoditas ke luar negeri.

Baca juga: JAM TAYANG Final Piala FA Malam Ini, Siapa Pantas Juara Chelsea atau Man City? Live TV Online

"Sekarang sudah terbukti banyak negara yang kesulitan, yang panik karena perang di Timur Tengah, Selat Hormuz ditutup. 20 persen BBM dunia lewat Selat Hormuz. Berarti pupuk terpengaruh, karena banyak pupuk berasal dari minyak dan gas, gas, gas. Pupuk dari urea ya, urea sangat dibutuhkan. Sekarang saya dapat laporan dari Menteri Pertanian, banyak negara minta pupuk dari Indonesia," kata Prabowo.

Ia menjabarkan sejumlah negara seperti Australia, Filipina, India, Bangladesh, hingga Brasil kini mengantre untuk membeli komoditas dari Indonesia, baik berupa pupuk urea maupun beras. Hal ini menjadi bukti bahwa sektor riil Indonesia berjalan di jalur yang benar. 

Namun, di tengah capaian positif tersebut, Prabowo memberikan peringatan keras kepada para unsur pimpinan di dalam negeri. Ia meminta para elit dan pemegang kekuasaan untuk tetap loyal dan fokus berpihak pada kepentingan rakyat Indonesia.

"Tapi, nah ini, tapi, para unsur pimpinan yang harus, harus setia kepada NKRI, bukan rakyat, rakyat pasti setia, enggak ada pilihan. Ini banyak unsur pimpinan teriak-teriak NKRI tapi enggak jelas begitu punya kekuasaan tidak berpihak kepada bangsa sendiri, tidak berpihak kepada rakyat Indonesia," tegasnya.

Baca juga: PILU Driver Ojol yang Tabrakan Saat Bonceng Ibu, Panggil Sri Hartini yang Terkapar, Keduanya Tewas

Menkeu Purbaya Minta Tak Panik

Tren pelemahan nilai tukar rupiah terus terjadi dan mencatat sejarah baru pada perdagangan Jumat (15/5/2026) di level Rp 17.614 per dollar AS.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik menyusul pelemahan nilai tukar rupiah.

Menurut dia, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih baik dibanding krisis moneter 1998.

Purbaya menilai fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat sehingga pelemahan rupiah diyakini bisa segera diperbaiki.

“Enggak perlu panik karena fondasi ekonomi bagus. Kita tahu betul kelemahannya di mana dan bisa kita betulin. Kita enggak akan sejelek seperti 98 lagi,” ujar Purbaya di Kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, dikutip Jumat (16/5/2026).

Purbaya mengatakan, upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah memang menjadi kewenangan bank sentral, yakni Bank Indonesia.

Meski demikian, Kementerian Keuangan juga menyiapkan langkah untuk membantu memperkuat stabilitas pasar keuangan domestik.

Salah satu fokus pemerintah saat ini ialah menjaga stabilitas pasar obligasi atau bond market agar arus modal asing tidak terus keluar dari Indonesia.

“Itu kan tugas bank sentral. Cuma kita sedang ambil langkah-langkah untuk membantu memperkuat juga dari sisi bond market. Mungkin kita coba lihat apakah kita bisa masuk untuk membantu apa enggak, tetapi pasti ke depan akan ada perbaikan, jadi jangan takut,” kata dia.

Purbaya menjelaskan, stabilitas pasar surat berharga negara menjadi penting untuk menjaga kepercayaan investor di tengah tekanan global terhadap pasar keuangan.

Menurut dia, ketika pasar obligasi stabil, investor tidak akan terburu-buru melepas aset karena khawatir mengalami capital loss atau kerugian akibat penurunan harga obligasi.

Sebaliknya, jika harga obligasi kembali menguat, investor justru berpotensi memperoleh capital gain sehingga dapat menarik kembali aliran modal asing masuk ke pasar domestik.

Ancam Kenaikan Harga Komoditas

Pelemahan nilai tukar rupiah memicu ancaman kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat, mulai dari tahu, tempe, hingga mi instan. 

Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan, dampak pelemahan rupiah paling terasa pada komoditas pangan yang masih bergantung pada bahan baku impor seperti gandum dan kedelai. 

Menurut dia, kenaikan harga bahan baku impor sudah mulai terjadi di tingkat produsen sejak akhir April 2026 dan berpotensi diteruskan ke konsumen dalam beberapa bulan ke depan. 

“Pada komoditas berbasis impor seperti gandum dan kedelai, harga akan naik. Ini berarti harga mi instan, roti, tahu, dan tempe berpotensi merangkak naik,” ujar Rahma, Jumat (15/5/2026) dilansir Kompas.com. 

Rahma menjelaskan, kenaikan harga tahu dan tempe akan sangat dirasakan kelompok masyarakat bawah karena kedua produk tersebut menjadi sumber protein utama dengan harga paling terjangkau. 

Sementara bagi kelas menengah, tekanan lebih terasa pada kenaikan harga makanan olahan dan biaya makan di luar rumah. 

Tak hanya pangan, tekanan juga mulai muncul dari sisi energi dan transportasi setelah harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan. 

Rahma menyoroti harga Dexlite yang kini mencapai Rp 26.000 per liter dan Pertamina Dex sekitar Rp 27.900 per liter. Kondisi ini berdampak langsung pada ongkos logistik dan distribusi barang. 

“Kenaikan harga BBM nonsubsidi meningkatkan ongkos angkut barang dari pelabuhan ke pasar. Akibatnya harga sayur-mayur lokal pun bisa naik meski bukan barang impor,” katanya. 

Menurut dia, dampak tersebut bersifat berantai karena kenaikan biaya transportasi akan diteruskan ke harga barang di tingkat konsumen. 

Rahma mengingatkan masyarakat kelas bawah juga berpotensi terkena tekanan tambahan dari naiknya biaya operasional angkutan umum dan ojek online akibat mahalnya suku cadang kendaraan yang mayoritas masih impor. 

Rahma menilai kelompok kelas menengah menjadi pihak yang paling rentan karena tidak memperoleh bantuan sosial, tetapi harus menghadapi kenaikan biaya hidup secara mandiri. 

“Kalau harga pangan dan energi tidak terkendali, risiko penurunan kelas ekonomi dari menengah ke bawah akan sangat besar,” katanya.

(*/tribunmedan.com)

Artikel ini sudah tayang di Tribunnews/Kompas.com

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter   dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved