Berita Viral

Juri LCC 4 Pilar Buat Geram Publik, Sekda Kalbar: Juri Terkesan Tak Memahami Materi

Cuplikan video kejadian itu kemudian menyebar luas di media sosial dan memancing kemarahan warganet. Penilaian juri merugikan peserta.

Tayang:
X @Opposisi6890
SASARAN NETIZEN- Dyastasita Widya Budi, atau Dyastasita WB, pejabat di Sekretariat Jenderal MPR RI jadi sasaran amukan warganet karena dianggap tidak adil saat menjadi juri LCC 4 Pilar di Kalimantan Barat. 

TRIBUN-MEDAN.com - Juri dari ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat memicu kemarahan publik, termasuk membuat Sekretaris Daerah (Sekda) Kalimantan Barat turut mengkritik.

Setelah video kontroversial penilaian juri viral di media sosial, Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, Harisson, ikut angkat bicara dengan nada tegas.

Ia mengaku geram melihat penilaian yang dianggap tidak adil terhadap peserta dari SMAN 1 Pontianak.

Menurutnya, persoalan ini bukan lagi sekadar soal lomba, melainkan sudah menyentuh rasa keadilan bagi para siswa yang berjuang membawa nama sekolah mereka.

Baca juga: LOMBA Cerdas Cermat MPR Viral Dugaan Kecurangan, MC Kena Mental, Protes ke Juri Tapi Tak Didengar

Video Viral Picu Kemarahan Publik

Polemik bermula dari babak final LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang digelar di Pontianak pada Sabtu (9/5/2026).

Tiga sekolah terbaik bertarung di babak akhir, yakni SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.

Namun suasana kompetisi berubah panas ketika jawaban dari salah satu peserta justru dinyatakan salah oleh dewan juri, meski belakangan jawaban serupa dari tim lain dianggap benar.

Cuplikan video kejadian itu kemudian menyebar luas di media sosial dan memancing kemarahan warganet. Banyak yang menilai penilaian juri tidak objektif dan merugikan peserta.

Baca juga: Sudah Cerai Permanen, Hubungan Suami Istri Pinkan Mambo dengan Arya Khan: Pisah Secara Mutlak

Harisson: Substansi Jawaban Sudah Benar

Sekda Kalbar Harisson menilai persoalan tersebut harus menjadi perhatian serius karena berkaitan dengan nilai keadilan dalam dunia pendidikan.

Ia menegaskan bahwa jawaban peserta yang dipermasalahkan sebenarnya sudah benar secara substansi dan bahkan sama dengan jawaban regu lain yang kemudian memperoleh nilai penuh.

Menurut Harisson, dewan juri diduga terlalu terpaku pada teks jawaban yang ada di perangkat penilaian mereka.

“Juri ini terkesan tidak terlalu memahami materi yang ditanyakan sehingga harus membaca jawaban yang ada di tab mereka lalu mencocokkannya dengan jawaban peserta,” ujar Harisson, dikutip Senin (11/5/2026).

Baca juga: Gencatan AS dengan Iran Masuk Fase Sekarat, Harga Minyak Dunia Langsung Naik

Penilaian Harus Objektif, Bukan Sekadar Hafalan Teks

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved