Iran Vs Amerika Serikat

Trump Menolak Proposal Damai Iran yang Minta Ganti Rugi Rp 4.000 Triliun, Timur Tengah Panas Lagi

Kini dunia menunggu arah berikutnya dari konflik yang berpotensi mengubah peta geopolitik global tersebut.

Tayang:
Pinterest
PRESIDEN AS- Gambar Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Amerika Serikat menolak proposal terbaru Teheran untuk mengakhiri perang yang selama beberapa bulan terakhir mengguncang kawasan Timur Tengah dan pasar energi global. 

Selain itu, Teheran meminta pencairan aset negara senilai 20 miliar dolar AS yang selama ini dibekukan akibat sanksi internasional.

Tuntutan tersebut dipandang sangat berat oleh Washington dan berpotensi menjadi salah satu penghambat terbesar dalam proses negosiasi.

“Ini Bukan Perundingan Damai”

Analis politik internasional sekaligus pendiri Off the Record Strategies, Mark Pfeifle, menyebut situasi saat ini bukan lagi perundingan damai biasa.

“Ini bukan perundingan perdamaian, ini adalah perundingan tekanan,” ujarnya.

Menurut Pfeifle, kedua pihak kini berusaha saling menekan hingga salah satu menyerah lebih dulu.

Amerika Serikat menggunakan:

Sanksi ekonomi,
Blokade laut,
Tekanan militer.
Sementara Iran menggunakan:

Ancaman terhadap Selat Hormuz,
Ketidakpastian pasar energi,
Tekanan ekonomi regional.
Pfeifle menilai Trump kini memainkan strategi “wait and see” sambil berharap tekanan ekonomi dapat memaksa Iran menyerah.

Namun kondisi di Iran juga belum menunjukkan tanda-tanda runtuh.

Ekonomi Iran Tertekan Berat

Iran memang menghadapi tekanan ekonomi besar.

Nilai tukar rial dilaporkan anjlok hingga sekitar 1,84 juta rial per dolar AS. Inflasi bahan pokok seperti roti dan minyak goreng bahkan disebut melampaui 200 persen.

Secara keseluruhan, inflasi nasional Iran diperkirakan mencapai sekitar 50 persen.

Meski demikian, bocoran intelijen AS menunjukkan Iran masih mampu bertahan selama beberapa bulan ke depan di bawah tekanan saat ini.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved