Berita Viral

Pengakuan Korban Pelecehan Kiai Ashari, Sering Menangis hingga Jijik, Calon Suami Paham Kondisi

Sampai saat ini mereka masih trauma ketika mengenang peristiwa memilukan yang dialami selama lima tahun.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/KOMPAS.com/ Kafi
UNJUK RASA: Warga membawa spanduk dalam aksi demonstrasi di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Sabtu (2/5/2026). 

TRIBUN-MEDAN.com - Nasib pilu dirasakan para korban pelecehan seksual yang diduga dilakukan Kiai Ashari, pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo, Pati, Jawa Tengah.  

Sampai saat ini mereka masih trauma ketika mengenang peristiwa memilukan yang dialami selama lima tahun.

Salah satu korban yang kini menginjak usia 21 tahun, mengaku mengalami pelecehan seksual sejak kelas VIII SMP hingga lulus Madrasah Aliyah (MA)  

Kondisi korban diungkap Kepala Dinas Perempuan dan Anak (DP3AP2KB) Jawa Tengah, Ema Rachmawati saat dikonfirmasi pada Kamis (7/5/2026).

Dikatakan Ema, korban masih sering menangis secara spontan setiap kali memori kelam masa lalunya muncul kembali.

“Saya tanya, ‘Kalau mengingat kejadian itu apa yang kamu rasakan?’ Dia bilang nangis. Kalau mengingat masih nangis, masih jijik, masih takut,” ujar Ema saat dikonfirmasi, Kamis (7/5/2026).

Selama masa sekolah, korban memilih memendam sendiri penderitaannya. Ketakutan yang luar biasa membuatnya tidak berani mengadu kepada siapa pun.

KIAI PATI CABUL - Ashari, kiai pondok pesantren di Pati tersangka pencabulan 50 santriwati belum ditahan, diduga kabur dan mangkir demi hindari pemeriksaan.
KIAI PATI CABUL - Ashari, kiai pondok pesantren di Pati tersangka pencabulan 50 santriwati belum ditahan, diduga kabur dan mangkir demi hindari pemeriksaan. (IST)

Keberanian untuk bersuara baru muncul setelah korban menyelesaikan pendidikannya dan meninggalkan lingkungan pesantren.

“Baru setelah lulus dia berani cerita ke ayahnya,” jelas Ema.

Saat ini, korban tengah menjalani pendampingan psikologis intensif melalui UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Pati.

Upaya ini dilakukan untuk membantu korban memulihkan tekanan psikologis, terutama menjelang babak baru dalam hidupnya.

Ema menyebut korban sudah bekerja dan berencana akan menikah dalam waktu dekat.

“Calon suaminya juga perlu memahami kondisinya,” tambahnya.

Korban Lain Menarik Kembali Pengakuannya

Ema menilai kasus ini merupakan fenomena gunung es di lingkungan pesantren. Berdasarkan pendekatan yang dilakukan timnya, sejumlah santri lain sempat mengaku mengalami hal serupa.

Namun, kuatnya relasi kuasa dan tekanan sosial membuat para korban lainnya memilih menarik kembali pengakuan mereka.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved