Berita Viral

KABAR Prodi Sosial Humaniora Dihapus, Budiman Sudjatmiko Sebut Pola Ajar Akan Diubah Mengarah ke AI

Kabar penghapusan program studi humaniora membuat resah mahasiswa dan dosen. 

Tayang:
KOLASE/TRIBUN MEDAN
Budiman Sudjatmiko 

TRIBUN-MEDAN.com - Kabar penutupan program studi humaniora membuat resah mahasiswa dan dosen. 

Alasan penghapusan ini dinilai terlalu dangkal karena demi sepenuhnya masuk dalam dunia industri. 

Presiden Prabowo membuat pernyataan yang kontroversial karena mengarahkan seluruh anak muda ke industri, sehingga prodi STEM lebih diutamakan. 

Terkait kabar ini, Budiman Sudjatmiko eks Aktivis 98 yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) menjelaskan bahwa pemerintah tidak berniat menghapus prodi humaniora. 

Ia memastikan bahwa Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi hanya ingin melakukan penyesuaian metode pengajaran dan penambahan mata kuliah baru yakni AI. 

Kata dia, mengubah pola pengajaran dilakukan untuk menyesuaikan beberapa aspek, yakni perkembangan zaman, penyerapan tenaga kerja, dan penciptaan lapangan kerja baru di era digital.

Terlebih, dengan adanya perkembangan teknologi dan AI (artificial intelligence atau Akal Imitasi). 

"Saya ada diskusi dengan Menristekdikti, beliau bilang tidak bermaksud menghapus, tapi mengubah pola pengajaran dan metode pengajaran masing-masing prodi yang ada, agar cocok dengan pertama, perkembangan zaman," kata Budiman dalam wawancara eksklusif dengan Tribun Network, Senin (4/5/2026).

"Kedua tentang penyerapan tenaga kerja, ketiga tentang penciptaan lapangan kerja baru yang terbuka, karena perkembangan teknologi, terutama teknologi digital yang paling dekat, adanya akal imitasi atau AI, artificial intelligence."

Baca juga: Uang Sewa Rp 14 Jutaan Per Bulan, Mobil Dinas Bupati Deliserdang Model Listrik Bergaya Off Road

Baca juga: Terjerat Kasus Kontrak Fiktif, Kejari Binjai Tetapkan Dody Alfayed sebagai DPO 

Ia menyebut AI telah menggantikan banyak jenis pekerjaan, tidak hanya yang bersifat fisik, berbahaya, dan rutin, tetapi juga pekerjaan analitis dan berpikir.

“Mulai dari sekretaris, resepsionis, jadi banyak kerjaan-kerjaan yang bukan cuma kerja fisik, bukan saja kerja rutin, bukan saja kerja berbahaya, tapi bahkan beberapa kerja analitis, kerja-kerja berpikir," ucap pria yang pernah menjadi bagian dari Aktivis '98 tersebut.

"Sekarang, AI sudah bisa memproduksi artikel, bisa memproduksi analisis. Apakah kita akan tetap dengan pola pengajar yang lama?"

Budiman yang lahir di Cilacap, Jawa Tengah 10 Maret 1970 itu memberikan contoh, bahwa di dunia jurnalisme AI juga sudah berpengaruh dalam pembuatan berita.

Apalagi, ada teknologi avatar atau representasi visual yang juga sudah bisa membaca berita, yang notabene hanyalah makhluk-makhluk AI yang realistis dan hanya eksis di dunia digital, bukan di dunia nyata.

"Bahkan, sekarang wartawan itu tinggal ngajukan pertanyaan, dibuatkan tuh skema beritanya. Contohlah dunia jurnalisme, kebayang nggak, dengan adanya generasi AI, kira-kira jurusan jurnalistik, itu gimana?" tutur Budiman.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved