Berita Viral

Pengakuan Guru SMKN 2 Garut Pangkas Rambut Siswi, Merasa Bersalah, Psikologis Terganggu

Kasus yang viral di media sosial itu kini membuka sisi lain dari sosok guru bimbingan konseling (BK) bernama Ai Nursaida.

Tayang:
Tangkapan layar
GURU POTONG RAMBUT - Guru SMKN 2 Garut, Ai Nursaida akhirnya mengaku salah membuat tindakan memangkas paksa rambut siswi berwarna. Pengakuan itu ia ceritakan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. 

TRIBUN-MEDAN.com - Guru SMKN 2 Garut, Ai Nursaida akhirnya mengaku salah membuat tindakan memangkas paksa rambut siswi berwarna.

Kasus yang viral di media sosial itu kini membuka sisi lain dari sosok guru bimbingan konseling (BK) bernama Ai Nursaida.

Di hadapan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Ai akhirnya mengakui bahwa dirinya sedang berada dalam kondisi psikologis yang buruk saat melakukan razia penampilan hingga berujung memotong rambut sejumlah siswi berhijab.

Pengakuan itu muncul setelah tindakannya menuai sorotan luas dan memancing perdebatan publik tentang batas kedisiplinan di sekolah.

Baca juga: Aniaya Lansia Hingga Harus Dioperasi, Oknum Brimob Hanya Divonis 5 Bulan Penjara, DPR RI Buka Suara

Guru BK Akui Sedang Tidak Baik Secara Psikologis

Dalam pertemuan bersama Dedi Mulyadi, Ai Nursaida menyadari tindakan yang dilakukannya telah melukai para siswi.

Ia mengaku emosinya saat itu dipengaruhi kondisi psikologis yang sedang tidak stabil.

"Saya psikologisnya lagi gak baik, digunting tapi gak semua, masih bisa diikat rambut. Iya pada akhirnya saya sadar dan menyadari saya salah besar," katanya.

Pernyataan itu menjadi titik pengakuan bahwa tindakan memotong rambut siswi bukan keputusan yang lahir dari situasi biasa. Di balik razia penampilan tersebut, tersimpan tekanan dan keresahan yang menurut Ai terus menumpuk dalam waktu cukup lama.

Baca juga: KPK Dalami Korupsi Proyek Infrastruktur di BBPJN dan Dinas PUPR Sumut, Periksa 14 Saksi

Berawal dari Keresahan soal Penampilan Siswa
 
Ai menjelaskan, razia itu dilakukan karena dirinya merasa resah dengan penampilan sebagian siswa di sekolah, terutama terkait penggunaan kosmetik berlebihan dan warna rambut yang dianggap mencolok.

Menurutnya, keluhan soal penampilan siswa sudah lama menjadi perhatian di lingkungan sekolah.

"Yang meresahkan kami baru-bari ini tentang penampilan siswa, berkerudung dalam hal kosmetik berlebihan," kata Ai ke Dedi Mulyadi.

Ia menyebut keresahan itu semakin besar karena banyak komentar dan aduan yang diterimanya, terutama soal ketimpangan razia antara siswa laki-laki dan perempuan.

Baca juga: Bus ALS yang Kecelakaan di Muratara Sumsel Ternyata Armada Berusia 24 Tahun, Beroperasi sejak 2002

Merasa Jadi Pihak yang Selalu Disalahkan

Di balik tindakan kontroversial tersebut, Ai juga mengaku selama ini sering menjadi sasaran kritik ketika ada siswa yang dianggap melanggar aturan penampilan sekolah.

Menurutnya, tekanan datang dari berbagai arah hingga akhirnya memengaruhi emosinya.

"Keresahan di masyarakat, anak-anak laki-laki biasanya. Bu kenapa kalau laki-laki panjang sedikit dirazia, kalau yang perempuan rambut merah dibiarin, keluar gerbang dibuka merah masih pakai seragam. mungkin bukan anak saya yang ini, ya akumulasi dari sana dari sini terus yang disalahkan biasanya anak-anak saya, itu anak bimbingan saya, saya kan sakit hati," katanya.

Ai menegaskan bahwa sebelumnya dirinya tidak pernah melakukan tindakan represif terhadap siswi yang dirazia kosmetik.

"Setiap ada rajia kosmetik, saya belum pernah merajia mereka. Saya belum pernah menghapus makeupnya, tapi saya dituduh seolah membiarkan mereka," katanya.

Siswi Disebut Tidak Bermasalah di Sekolah

Menariknya, Ai juga mengakui bahwa keenam siswi yang rambutnya dipotong sebenarnya tidak memiliki masalah dalam perilaku maupun akademik.

Mereka disebut rajin sekolah dan tidak pernah membuat pelanggaran berat.

"Keenam anak ini baik-baik aja secara perilaku baik. Akademis gak ada masalah, rajin sekolah," katanya.

Menurut Ai, persoalan penampilan sebenarnya masih bisa diselesaikan lewat teguran dan pembinaan biasa.

"Mungkin orang tuanya cukup uang, kan gak ada masalah. Penampilan menor, wajar, kan tinggal diingatkan," katanya.

Siswi Mengaku Sakit Hati dan Trauma

Di sisi lain, para siswi mengaku sangat terpukul setelah rambut mereka dipotong pendek di sekolah.

Salah satu siswi bahkan mengaku merasa seperti laki-laki setelah rambutnya dipotong.

"Kayak laki-laki. Sakit hati, trauma," katanya.

Para siswi mengatakan mereka berdandan hanya untuk tampil lebih rapi dan percaya diri di sekolah. Mereka juga membantah menggunakan riasan berlebihan.

"Biar cantik. Sunscreen, bedak, gak (tebal). Kalau tebal mah pakai," katanya.

Meski merasa sakit hati, para siswi akhirnya berjanji akan mengurangi penggunaan makeup selama tetap bisa bersekolah gratis.

"Boleh, mau. Make up tipis tapi gratis," katanya.

(Tribun-Medan.com)

Artikel ini telah tayang di Tribuntrends.com 

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved