Iran Vs Amerika Serikat

Donald Trump Ragu Iran Ajukan 14 Syarat Damai Akhiri Konflik Secara Permanen, Dunia Menahan Napas

Selain itu, Iran juga meminta ganti rugi perang serta pembentukan “mekanisme baru” untuk mengatur Selat Hormuz.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/KOLASE ISTIMEWA
Nama Mohammad Bagher Ghalibaf mencuat di tengah eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Sosoknya muncul dalam komunikasi tidak langsung dengan Washington. Mohammad Bagher Ghalibaf diduga diincar Presiden Trump untuk dijadikan sebagai pemimpin Iran. 

Di sisi lain, Amerika Serikat juga memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, memperparah ketegangan.

Akibatnya, konflik tidak hanya terjadi di meja diplomasi, tetapi juga berlanjut di laut melalui aksi saling cegat dan penangkapan kapal.

Analis: Ketidakpercayaan Jadi Hambatan Terbesar

Menurut Paul Musgrave, profesor di Universitas Georgetown, Iran sebenarnya telah menunjukkan sedikit pelunakan dalam proposalnya.

“Ada indikasi bahwa Iran mulai membuka ruang diskusi, termasuk kemungkinan mengesampingkan beberapa prasyarat awal,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Namun, ia menegaskan bahwa perbedaan soal nuklir masih sangat jauh. “Presiden Trump bersikeras bahwa Iran harus menyerahkan kemampuan nuklirnya,” tambahnya.

Sementara itu, peneliti Soufan Center, Kenneth Katzman, menilai bahwa masalah utama bukan hanya perbedaan kebijakan, tetapi juga krisis kepercayaan.

“Iran benar-benar tidak mempercayai Trump dan Amerika Serikat, dan tidak ingin memulai diskusi penuh sampai blokade dicabut,” katanya.

Blokade Dinilai Jadi Bumerang

Analis Trita Parsi menilai kebijakan blokade AS justru memperburuk situasi.

“Blokade ini tidak ada hubungannya dengan kehadiran Iran di meja perundingan. Justru, blokade ini menghambat kemajuan diplomatik,” kata Parsi kepada Al Jazeera.
Ia juga menyoroti dampak ekonomi global, terutama kenaikan harga minyak. Bahkan, menurutnya, harga energi saat ini lebih tinggi dibandingkan saat perang masih berlangsung aktif.

Meski gencatan senjata masih berlaku, situasi di lapangan tetap tegang. Korps Garda Revolusi Iran menyatakan tetap dalam “siaga penuh”, menandakan potensi eskalasi kapan saja.

Dengan proposal di tangan Washington, keputusan kini berada pada Donald Trump. Namun, dengan perbedaan yang masih tajam dan kepercayaan yang rapuh, dunia masih harus menahan napas menunggu apakah diplomasi akan menang, atau konflik kembali meledak.

(Tribun-Medan.com)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved