Iran Vs Amerika Serikat
Donald Trump Ragu Iran Ajukan 14 Syarat Damai Akhiri Konflik Secara Permanen, Dunia Menahan Napas
Selain itu, Iran juga meminta ganti rugi perang serta pembentukan “mekanisme baru” untuk mengatur Selat Hormuz.
TRIBUN-MEDAN.com - Donald Trump ragu dengan Iran yang kembali mengajukan langkah diplomatik dengan menyodorkan proposal 14 poin kepada Amerika Serikat (AS) sebagai upaya mengakhiri konflik secara permanen.
Proposal ini dikirim melalui mediator Pakistan di tengah gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung sejak 8 April.
Al Jazeera melaporkan bahwa proposal tersebut merupakan respons atas rencana sembilan poin dari Washington.
Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, Teheran kini menargetkan penyelesaian penuh dalam waktu 30 hari, bukan sekadar perpanjangan gencatan senjata.
Baca juga: Rumah Anisa Rahma Kebakaran, Keajaiban 3.500 Al Quran Tak Hangus, Mulai Banyak yang Membeli
Isi proposal mencakup sejumlah tuntutan strategis, seperti jaminan tidak adanya serangan di masa depan, penarikan pasukan AS dari sekitar Iran, pencabutan sanksi ekonomi, hingga pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Selain itu, Iran juga meminta ganti rugi perang serta pembentukan “mekanisme baru” untuk mengatur Selat Hormuz.
Iran juga menegaskan haknya untuk tetap melakukan pengayaan uranium sebagai bagian dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), sebuah poin yang langsung berbenturan dengan posisi Amerika Serikat.
Baca juga: Dumaris Sitio Tolak Ajakan Suami Keluar Rumah di Pagi Hari, Pilu Tewas Dirampok Menantunya
Trump Ragu, Ancam Lanjutkan Serangan
Menanggapi proposal tersebut, Donald Trump mengaku masih mempelajarinya, namun memberi sinyal skeptis terhadap peluang kesepakatan.
“Jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, ada kemungkinan hal itu bisa terjadi,” kata Trump kepada wartawan, merujuk pada kemungkinan dilanjutkannya serangan militer.
Dalam pernyataan lain, Trump juga menegaskan bahwa Iran belum membayar harga yang cukup atas tindakannya selama puluhan tahun, sehingga sulit membayangkan proposal tersebut akan diterima.
Ia tetap bersikeras bahwa Iran harus menghentikan blokade Selat Hormuz dan membatasi program nuklirnya, dua isu yang menjadi “garis merah” bagi Washington.
Baca juga: NASIB Carrick Usai Bawa Manchester United Kembali ke Liga Champions, Menuju Status Permanen
Selat Hormuz dan Nuklir Jadi Titik Bentur
Kebuntuan negosiasi terutama disebabkan oleh dua isu utama: pengayaan uranium dan kontrol atas Selat Hormuz. Jalur laut ini sangat vital karena dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia.
Blokade de facto Iran terhadap selat tersebut merupakan respons atas serangan AS dan Israel sebelumnya.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, memperparah ketegangan.
Akibatnya, konflik tidak hanya terjadi di meja diplomasi, tetapi juga berlanjut di laut melalui aksi saling cegat dan penangkapan kapal.
Analis: Ketidakpercayaan Jadi Hambatan Terbesar
Menurut Paul Musgrave, profesor di Universitas Georgetown, Iran sebenarnya telah menunjukkan sedikit pelunakan dalam proposalnya.
“Ada indikasi bahwa Iran mulai membuka ruang diskusi, termasuk kemungkinan mengesampingkan beberapa prasyarat awal,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Namun, ia menegaskan bahwa perbedaan soal nuklir masih sangat jauh. “Presiden Trump bersikeras bahwa Iran harus menyerahkan kemampuan nuklirnya,” tambahnya.
Sementara itu, peneliti Soufan Center, Kenneth Katzman, menilai bahwa masalah utama bukan hanya perbedaan kebijakan, tetapi juga krisis kepercayaan.
“Iran benar-benar tidak mempercayai Trump dan Amerika Serikat, dan tidak ingin memulai diskusi penuh sampai blokade dicabut,” katanya.
Blokade Dinilai Jadi Bumerang
Analis Trita Parsi menilai kebijakan blokade AS justru memperburuk situasi.
“Blokade ini tidak ada hubungannya dengan kehadiran Iran di meja perundingan. Justru, blokade ini menghambat kemajuan diplomatik,” kata Parsi kepada Al Jazeera.
Ia juga menyoroti dampak ekonomi global, terutama kenaikan harga minyak. Bahkan, menurutnya, harga energi saat ini lebih tinggi dibandingkan saat perang masih berlangsung aktif.
Meski gencatan senjata masih berlaku, situasi di lapangan tetap tegang. Korps Garda Revolusi Iran menyatakan tetap dalam “siaga penuh”, menandakan potensi eskalasi kapan saja.
Dengan proposal di tangan Washington, keputusan kini berada pada Donald Trump. Namun, dengan perbedaan yang masih tajam dan kepercayaan yang rapuh, dunia masih harus menahan napas menunggu apakah diplomasi akan menang, atau konflik kembali meledak.
(Tribun-Medan.com)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Selat Hormuz Dibuka, Harga Minyak Langsung Anjlok, Pasar Global Bereaksi Cepat |
|
|---|
| Hizbullah Serang Israel, Gempuran Roket Lebanon Dipakai untuk Balas Dendam |
|
|---|
| Sempat Dibuka, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Tuding AS-Israel Langgar Gencatan Senjata |
|
|---|
| Iran Makin Tak Gentar Diultimatum Trump Diminta Buka Selat Hormuz, Siapkan Pintu Neraka |
|
|---|
| Indonesia Pilih Gabung BoP, Iran Diduga Sakit Hati, Kapal Malaysia Bisa Lewati Selat Hormuz |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Mohammad-Bagher-Ghalibaf-DIINCAR-PRESIDEN-TRUMP.jpg)