Berita Viral

TAK TERIMA Dipecat Gegara Absen 181 Hari, Guru Yogi Kritik Fasilitas Sekolah dan Absensi Manual

Guru ASN di Jombang Yogi Susilo dipecat setelah tidak kerja selama 181 hari. Namun pemecatan ini mendapatkan perlawanan dari Yogi.

Tayang:
TRIBUN MEDAN
ASN JOMBANG DIPECAT - Guru aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Jombang, Yogi Susilo, resmi diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri (PDH) setelah tercatat tidak masuk kerja selama 181 hari sepanjang 2025 (kiri) dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang Wor Windari (kanan) 

TRIBUN-MEDAN.com - Guru ASN di Jombang Yogi Susilo dipecat setelah tidak kerja selama 181 hari. Namun pemecatan ini mendapatkan perlawanan dari Yogi. 

Ia menyebut kondisi kesehatan serta persoalan sistem absensi menjadi faktor utama di balik ketidakhadirannya.

Yogi mengaku mengalami gangguan tulang belakang akibat kecelakaan pada 2016.

Kondisi saraf terjepit yang dideritanya membuat ia harus menghindari aktivitas berat, termasuk perjalanan jauh menuju sekolah.

"Dokter bilang ini tidak bisa sembuh total,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (29/4/2026).

Sejak 2023, Yogi ditugaskan sebagai pelaksana tugas kepala sekolah di SDN Jipurapah 2, Kecamatan Plandaan.

Lokasi sekolah yang berada di wilayah perbukitan dengan akses sulit membuat perjalanan menjadi tantangan tersendiri.

Setiap hari, ia harus menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam melalui jalur berkelok dan berbatu.

“Ini bukan sekadar rutinitas, tapi ujian fisik,” katanya.

Baca juga: Sidang KDRT di Deliserdang, Terdakwa Ngaku Alami Kekerasan Mantan Suami

Baca juga: Sosok Sertu MB Oknum TNI Cabuli Bocah SD Kabur Saat Diperiksa, Kondisi Korban Sangat Memprihatinkan

Ia mengaku tetap berusaha menjalankan tugas mengajar, meski harus menghadapi keterbatasan fisik.

Permohonan mutasi yang diajukan berulang kali tapi tidak pernah mendapat tindak lanjut.

Soroti Sistem Absensi dan Kritik Fasilitas

Selain faktor kesehatan, Yogi juga menyoroti sistem absensi manual yang digunakan sekolah saat itu.

Ia menilai sistem tersebut tidak akurat dan tidak mencerminkan kondisi kehadiran sebenarnya.

“Saya ingin sistem yang transparan, seperti face recognition,” ujarnya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved