Berita Internasional

Perintah Donald Trump, Militer AS Tembaki Kapal Iran yang Pasang Ranjau Laut di Selat Hormuz

Donald Trump menegaskan bahwa personel militer AS tidak perlu ragu dalam mengambil tindakan terhadap pihak yang dianggap mengancam

Istimewa
DONALD TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pidato kenegaraan State of the Union, Selasa (24/2/2026). (WIKIMEDIA COMMONS/THE WHITE HOUSE) 

Selain aspek ekonomi, situasi ini juga memunculkan kekhawatiran akan eskalasi konflik militer yang lebih besar.

Perintah langsung dari Presiden AS untuk menembak kapal yang memasang ranjau dapat meningkatkan risiko bentrokan terbuka antara kedua negara. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, konflik ini berpotensi meluas dan melibatkan lebih banyak pihak.

Dalam konteks hukum internasional, tindakan militer di perairan internasional seperti Selat Hormuz juga menjadi perhatian.

Setiap langkah yang diambil harus mempertimbangkan aturan yang berlaku, termasuk hukum laut internasional yang mengatur kebebasan navigasi dan penggunaan kekuatan di wilayah perairan internasional.

Meski demikian, Trump tampaknya ingin menunjukkan ketegasan dalam menghadapi ancaman yang dianggap membahayakan.

Dengan meningkatkan operasi militer dan memberikan instruksi langsung kepada pasukan di lapangan, ia berupaya memastikan bahwa AS tetap memiliki kendali atas situasi di kawasan tersebut.

Di tengah meningkatnya ketegangan, berbagai pihak internasional diharapkan dapat mendorong upaya diplomasi untuk meredakan konflik. Dialog dan negosiasi dinilai sebagai langkah penting untuk mencegah eskalasi lebih lanjut yang dapat merugikan banyak pihak.

Situasi di Selat Hormuz saat ini menjadi salah satu titik panas geopolitik dunia yang terus dipantau.

Dengan kepentingan ekonomi dan keamanan yang besar, setiap perkembangan di kawasan ini akan berdampak luas, tidak hanya bagi negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga bagi masyarakat global.

AS Perpanjang Gencatan Senjata, Iran Ogah Negosiasi, Ke Mana Arah Perang Ini? Ada 3 Skenario

Arah peperangan yang dimulai Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan menyerang Iran pada 28 Februari 2026 silam, menimbulkan banyak spekulasi tentang akhir dari konfrontasi.

Situasi saat ini terbilang menarik, di mana AS secara sepihak menyatakan memperpanjang gencatan senjata tanpa menetapkan batas waktu, di sisi lain Iran  menolak untuk terlibat dalam negosiasi dan diplomasi apa pun. 
 
Meski Amerika Serikat terus memberi tekanan ekonomi dan militer yang berkelanjutan untuk melemahkan rezim Iran, Iran tampaknya teguh pada pendirian menolak negosiasi.

Iran mengandalkan ketahanan internalnya dan penciptaan titik pengaruh baru di Selat Hormuz sebagai respons dari manuver AS tersebut.

Skenario ini membuka pintu menuju fase yang lebih kompleks dalam konflik saat ini antara AS, entitas Zionis Israel, dan Iran

Lebih kommpleks lantaran perhitungan regional dan internasional menjadi saling terkait, membuat kawasan tersebut menghadapi kemungkinan terbuka antara eskalasi militer (berlanjutnya perang) atau pencarian penyelesaian politik. 

Menerka Langkah Berikutnya Amerika, Perang Hibrida?

Sumber: Tribunnews
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved