Berita Internasional

Perintah Donald Trump, Militer AS Tembaki Kapal Iran yang Pasang Ranjau Laut di Selat Hormuz

Donald Trump menegaskan bahwa personel militer AS tidak perlu ragu dalam mengambil tindakan terhadap pihak yang dianggap mengancam

Istimewa
DONALD TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pidato kenegaraan State of the Union, Selasa (24/2/2026). (WIKIMEDIA COMMONS/THE WHITE HOUSE) 

Seiring perkembangan situasi, pandangan tersebut tampaknya berubah.

Pemerintah AS kini mengakui bahwa ancaman tidak hanya datang dari kapal perang besar, tetapi juga dari armada kecil yang lincah dan sulit dideteksi. 

Dalam konteks ini, muncul istilah “mosquito fleet” atau “armada nyamuk” yang merujuk pada kumpulan kapal kecil dan cepat milik Iran.

Istilah “mosquito fleet” menggambarkan strategi militer yang mengandalkan jumlah banyak dan mobilitas tinggi, meskipun masing-masing unit memiliki ukuran kecil.

Kapal-kapal ini mampu bergerak cepat, menyerang secara tiba-tiba, dan kemudian menghilang sebelum sempat ditanggapi oleh lawan. Dalam beberapa kasus, taktik ini dinilai efektif untuk mengganggu kapal besar seperti tanker minyak atau kapal perang.

Menurut laporan terbaru, kapal-kapal kecil milik Iran diduga telah melakukan serangkaian serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir.

Setidaknya tiga kapal tanker dilaporkan menjadi target. Dari jumlah tersebut, dua kapal bahkan disebut telah dikawal secara paksa masuk ke perairan Iran, menambah ketegangan di kawasan tersebut.

Di sisi lain, pihak AS sebelumnya mengklaim telah menghancurkan sejumlah kapal perang utama milik Iran.

Namun, keberadaan armada kecil ini menunjukkan bahwa kemampuan militer Iran tidak sepenuhnya lumpuh.

 Justru, penggunaan kapal-kapal kecil menjadi strategi alternatif yang sulit diantisipasi oleh kekuatan militer konvensional.

Kondisi ini membuat situasi di Selat Hormuz semakin kompleks. Di satu sisi, AS berupaya menjaga keamanan jalur pelayaran internasional dan melindungi kepentingan ekonominya serta sekutu-sekutunya.

Di sisi lain, Iran menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kemampuan untuk memberikan tekanan melalui taktik asimetris, yaitu strategi yang tidak mengandalkan kekuatan besar, tetapi memanfaatkan kelemahan lawan.

Ketegangan ini juga berpotensi berdampak luas, tidak hanya di kawasan Timur Tengah, tetapi juga secara global.

Selat Hormuz merupakan jalur distribusi sekitar sepertiga dari total pasokan minyak dunia. 

Gangguan di wilayah ini dapat memicu kenaikan harga minyak, yang pada akhirnya berdampak pada inflasi dan stabilitas ekonomi di berbagai negara.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved