Hujan Meteor

Fenomena Hujan Meteor Lyrid, saat Puncaknya Ada 18 Meteor Per Jam Terlihat

Hari ini, Kamis 23 April 2026 menjadi puncak hujan meteor Lyrid yang akan berlangsung pukul pukul 22.08 WIB hingga sekitar 05.26 WIB.

Editor: Array A Argus
Pinterest
HUJAN METEOR- Ilustrasi hujan meteor Lyrid. 

TRIBUN-MEDAN.COM,- Bagi masyarakat Indonesia yang ingin menyaksikan hujan meteor Lyrid bisa melihatnya tanpa bantuan teleskop ataupun alat khusus.

Lyrid memiliki karakteristik istimewa yang selalu dinantikan para pengamat langit: kilatan cahaya yang sangat terang atau fireball.

Baca juga: Puncak Hujan Meteor Geminid 13 dan 14 Desember 2025, Berikut Pandangan Islam Soal Hujan Meteor

Astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo, menjelaskan Sepanjang 15 hingga 29 April setiap tahunnya, Bumi melintasi sisa-sisa debu yang ditinggalkan oleh komet kuno.

Fenomena ini memicu hujan meteor Lyrid, yang puncaknya pada tahun 2026 ini jatuh pada tanggal 23 April.

"Apabila dilihat dari Indonesia, maka meteor-meteor Lyrida seakan-akan berasal dari satu titik di langit utara," ujar Marufin, Kamis (23/4/2026) dikutip dari Kompas.com.

HUJAN METEOR- Ilustrasi hujan meteor Lyrid yang terjadi pada bulan April 2026.
HUJAN METEOR- Ilustrasi hujan meteor Lyrid yang terjadi pada bulan April 2026. (Pinterest)

Puncak Hujan Meteor

Observatorium Bosscha menyebutkan, bahwa puncak hujan meteor Lyrid tahun ini akan terjadi pada pukul 22.08 WIB hingga sekitar 05.26 WIB keesokan harinya.

Pada malam puncaknya, jumlah meteor yang bisa terlihat mencapai 10 hingga 18 meteor per jam.

Baca juga: Mengenal Hujan Meteor Eta Aquarids yang Bisa Diamati dari Langit Indonesia

Meskipun tidak setinggi saat ledakan hujan meteor Lyrid terjadi (yang bisa mencapai lebih dari 100 meteor per jam), tetap menjadi momen yang menarik untuk diamati, apalagi kondisi langit diperkirakan bebas dari gangguan cahaya Bulan karena berdekatan dengan fase Bulan baru.

"Inilah yang menyebabkan hujan meteor Lyrida memiliki banyak meteor-terang (fireball). Yang menyebabkan durasi keterlihatan meteor tersebut sedikit lebih lama (antara 3 hingga 5 detik) disertai jejak asap evaporasi (plume) khas meteor," jelas Marufin.

Marufin menyebutkan bahwa komet ini meninggalkan jejak debu seukuran pasir saat menyusuri lintasannya mengelilingi Matahari.

Baca juga: Jangan Lewatkan! Malam Ini Puncak Hujan Meteor Leonid, Bisa Dilihat dengan Mata Telanjang

Salah satu karakter khas dari komet Thatcher adalah kandungan butir pasirnya yang lebih banyak dibandingkan komet lainnya. Hal inilah yang membuat Lyrid menjadi pertunjukan yang spesial.

Pembentukan Meteor Lyrid

Live Science menyebut, bahwa hujan meteor Lyrids merupakan hasil dari debu dan puing-puing yang tertinggal di tata surya bagian dalam oleh Komet C/1861 G1 (Thatcher) yang mengorbit matahari setiap 415,5 tahun.

Baca juga: Fenomena Langit Supermoon 4 Desember 2025, Simak Penjelasannya Berikut Ini

Ketika Bumi melewati medan puing komet setiap tahun, hal itu menyebabkan meteor terbakar di atmosfer planet dan memberikan kesan "bintang jatuh" yang bergerak melintasi langit malam.

NASA mengatakan bahwa Komet Thatcher terakhir berada di tata surya bagian dalam pada tahun 186.

Komet tersebut diperkirakan tidak akan kembali hingga sekitar tahun 2276.

HUJAN METEOR- Ilustrasi fenomena alam hujan meteor Eta Aquarids yang dapat disaksikan dengan mata telanjang di Indonesia.
HUJAN METEOR- Ilustrasi fenomena alam hujan meteor Eta Aquarids yang dapat disaksikan dengan mata telanjang di Indonesia. (Pinterest/Scaut brown)

Persiapan Melihat Hujan Meteor Lyrid

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved