Berita Viral
Jangan Lewatkan! Malam Ini Puncak Hujan Meteor Leonid, Bisa Dilihat dengan Mata Telanjang
Mulai malam ini, Selasa (17/11/2020), hingga 18 November hujan meteor Leonid akan mencapai masa puncaknya atau hadir dengan intensitas tinggi.
TRIBUN-MEDAN.com - Mulai malam ini, Selasa (17/11/2020), hingga 18 November hujan meteor Leonid akan mencapai masa puncaknya atau hadir dengan intensitas tinggi.
Leonid adalah hujan meteor yang titik radian atau titik asal munculnya meteornya berada di konstelasi Leo.
Peneliti di Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Pangerang Hasanuddin mengatakan, meteor Leonid berasal dari sisa debu komet 55P/Temple-Tuttle.
Komet 55P/Temple-Tuttle ini mengorbit Matahari dengan periode 33,3 tahun.
Menurut Andi, hujan meteor Leonid ini merupakan salah satu di antara beberapa hujan meteor lain yang dinantikan setiap tahun, selain Geminid, Lyrid, Perseid dan Orionid.
Hal ini dikarenakan, intensitas maksimum hujan meteor ini berkisar 11-14 meteor per jam untuk wilayah Indonesia dikarenakan ketinggian titik radian saat transit bervariasi mulai 52-69 derajat.
Fenomena hujan meteor Leonid ini aktif sejak 6 November hingga 30 November dan intensitas maksimumnya terjadi pada 19 November pukul 04.15 WIB, 05.15 WITA, 06.15 WIT.
Puncak hujan meteor Leonid dapat disaksikan sejak pukul 00.30 waktu setempat hingga akhir fajar bahari atau sekitar 25 menit sebelum terbit Matahari besok, dari arah timur-timur laut hingga utara-timur laut.
Untuk dapat mengamatinya, Anda tidak membutuhkan alat bantu optik apapun, alias bisa dilihat dengan mata telanjang secara langsung.
Namun, pastikan medan pandang bebas dari penghalang, polusi cahaya dan awan saat mengamati hujan meteor ini.
"Tidak perlu menggunakan alat bantu apapun kecuali jika ingin merekamnya, dapat menggunakan kamera all-sky dengan medan pandang 360 derajat yang diarahkan ke zenit," kata Andi kepada Kompas.com, Sabtu (30/10/2021).
Ia menambahkan, fenomena puncak hujan meteor Leonid malam ini, akan terganggu oleh intensitas cahaya Bulan hampir purnama (iluminasi 99,6 persen - 99,7 persen) di sepanjang pengamatannya sehingga intensitas Leonid akan berkurang dari intensitas maksimumnya.
Bisa Dilihat dengan Mata Telanjang
Astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo mengatakan, hujan meteor pada dasarnya merupakan kumpulan meteor yang seakan-akan berasal dari satu titik radian di langit.
"Pada kenyataannya mereka memang berasal dari satu sumber yang sama, yakni remah-remah debu dan pasir yang dilepaskan suatu komet dalam perjalanannya mengelilingi Matahari," kata Marufin kepada Kompas.com, Senin (16/11/2020).
Kemudian, remah-remah tersebut lalu melintas di lingkungan dekat Bumi, sehingga masuk ke atmosfer menjadi meteor.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Jangan-Lewatkan-Malam-Ini-Puncak-Hujan-Meteor-Leonid-Bisa-Dilihat-dengan-Mata-Telanjang.jpg)