Berita Viral

ALASAN Jusuf Kalla Pakai Istilah Syahid Dalam Ceramah: Kalau Pakai Istilah Martir, Jamaah Tak Tahu

Jusuf Kalla mengatakan penggunaan kata 'mati syahid' di masjid UGM memiliki alasan yang kuat. 

Tribunnews.com
KASUS IJAZAH JOKOWI - Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla usai melaporkan dugaan pencemaran nama baik di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Jusuf Kalla meyakini jika ijazah milik Jokowi sendiri sejatinya asli. Untuk itu, ia menyarankan agar Jokowi segera memperlihatkan ijazahnya. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUN-MEDAN.com - Jusuf Kalla mengatakan penggunaan kata 'mati syahid' di masjid UGM memiliki alasan yang kuat. 

Pernyataan Jusuf Kalla tentang 'mati syahid' menimbulkan kegaduhan. Jusuf Kalla menyebut umat Kristen dalam konteks konflik Poso di Ambon juga punya prinsip mati syahid

Hal inilah yang membuat kegaduhan dan sejumlah organisasi melaporkannya ke Polisi. 

Namun, Jusuf Kalla punya alasan yang logis.  

Dalam konferensi pers di kediamannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Sabtu (18/4/2026) siang ini, Jusuf Kalla mulanya menyampaikan permintaan maaf karena baru bisa klarifikasi, sedangkan polemik potongan ceramahnya sudah mencuat sejak awal pekan.

Penyebabnya, Jusuf Kalla baru pulang dari Jepang pada Sabtu subuh tadi.

"Pertama saya minta maaf, karena baru hari ini saya dapat menjelaskan masalah-masalah yang viral sekarang ini. Karena saya baru subuh tadi pulang dari Jepang," ujar JK.

"Sehingga, saya tidak bisa cepat memberikan tanggapan mengenai masalah-masalah yang timbul dewasa ini."

Baca juga: Harga Bright Gas Naik, Pertamina Sumbagut Pastikan Harga LPG Subsidi 3 Kg Tetap Normal

Baca juga: NASIB 4 Siswa di Jabar Putus Sekolah Demi Jadi Tulang Punggung Keluarga, Publik Senggol Dedi Mulyadi

Kata politisi kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan 15 Mei 1942 itu, dirinya meminta agar publik memahami bahwa ceramah yang ia sampaikan adalah ceramah Ramadan yang digelar di masjid kampus, artinya hanya dihadiri oleh umat muslim dan intelektual, dengan lingkungan terbatas.

Dalam ceramahnya, karena tema yang diangkat adalah tema perdamaian, Jusuf Kalla membahas berbagai konflik di dunia, mulai dari konflik di Eropa, lalu Perang Dunia I, hingga beragam konflik di Indonesia.

Konflik-konflik di Indonesia, kata dia, terjadi karena berbagai faktor, seperti konflik ideologi, konflik wilayah, dan konflik agama.

Lalu, JK pun membahas singkat konflik Poso (1998-2001) dan Ambon (1999-2002) sebagai contoh konflik agama di Indonesia. 

"Satu menit saja, saya jelaskan konflik karena agama, itu antara lain Ambon," ucapnya.

Lantas, Jusuf Kalla menjelaskan makna kata 'mati syahid' yang ia pakai saat membahas akar utama konflik berdarah di dua daerah tersebut.

Mulanya, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) periode 2024-2029 ini menyebut, dirinya tahu betul, bahwa penyebab konflik itu adalah penggunaan narasi agama untuk melakukan kekerasan.

Sebab, ia mengambil risiko untuk hadir dalam menjalankan misi perdamaian dan melihat langsung konflik Poso dan Ambon

Kata JK, masing-masing pihak yang bertikai, yakni pemeluk agama Islam dan Kristen, sama-sama memegang erat pemahaman tentang berani mati membela agama.

"Saya pertaruhkan jiwa saya, dengan Hamid [Hamid Awaluddin, mantan Menteri Hukum dan HAM RI], masuk ke daerah konflik tadi, tidak ada Presiden Gus Dur, jenderal-jenderal, tokoh2 Maluku tokoh2 militer, tidak bisa mendamaikan," tutur JK.

JK menerangkan, di agama Islam, mati membela agama disebut 'mati syahid', sedangkan di agama Kristen, sebutannya adalah 'martir'.

"Saya datang tanpa pengawal, masuk ke daerah itu. Dan saya tahu, kenapa dia berbuat begitu. Karena dia pikir, ini perang agama. Siapa yang meninggal akan syahid, untuk Islam, di Kristen, namanya martir," kata JK.

Namun, karena lokasi ceramahnya ada di masjid dan hanya dihadiri umat Islam, jadi JK menggunakan istilah 'syahid' agar dapat dipahami oleh para jamaah.

Lebih lanjut, JK menyebut, maksud dari dirinya membahas konflik Poso dan Ambon adalah untuk memberikan pesan tegas, agar generasi Indonesia selanjutnya, tidak menjadikan agama untuk alat politik dan memicu konflik.

Segala konflik, termasuk yang berakar dari agama, hanya akan menimbulkan pertumpahan darah yang fatal, seperti konflik Poso yang menelan 2.000 korban jiwa, dan konflik Ambon yang menyebabkan 5.000 orang tewas.

"Tapi, saya berada di masjid, dan tidak mengerti istilah 'martir' sehingga saya katakan 'syahid'. Hampir sama dalam artinya, syahid' dan 'martir'. Cuma bedanya caranya. Syahid, mati karena membela agama, 'martir' juga sama, mati karena membela agama. Jadi hanya istilah saja," jelas JK.

"Tapi, karena saya di masjid, maka saya pakai kata 'syahid', karena kalau saya pakai kata 'martir', jamaah tidak tahu."

"Untuk menjelaskan 'jangan sekali-sekali memakai agama untuk berkonflik', jangan!"

"Anda calon-calon pemimpin semuanya, musti adil, tidak boleh pakai agama ke unsur-unsur politik. Ini akibatnya [konflik agama], 7.000 orang meninggal dalam tiga tahun."

"[Konflik] Aceh, 30 tahun, meninggal 15.000. Artinya, di Aceh, tiap tahun 500 orang meninggal. Ini [konflik Ambon dan Poso], 7.000 orang meninggal dalam tiga tahun, tiap tahun 1.000 orang meninggal."

Baca juga: NASIB Dua Bos Sritex Dinilai Lakukan Pencucian Uang, Dituntut 16 Tahun Penjara, Negara Rugi Rp1,3 T

(*/tribun-medan.com)

Artikel sudah tayang di tribunnews.com

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved