Perang AS dan Israel vs Iran

TERBARU Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Tuding AS Melanggar Janji Negosiasi

Komando militer gabungan IRGC pada Sabtu (18/4/2026) menutup kembali Selat Hormuz, dengan alasan AS melanggar janji negosiasi

Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN/WIKIMEDIA COMMONS
Komando militer gabungan Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Sabtu (18/4/2026) menutup kembali Selat Hormuz, dengan alasan Amerika Serikat (AS) melanggar janji negosiasi. 

TRIBUN-MEDAN.com - Polemik tentang pembukaan jalur maritim di Selat Hormuz, terus bergulir.

Komando militer gabungan Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Sabtu (18/4/2026) menutup kembali Selat Hormuz, dengan alasan Amerika Serikat (AS) melanggar janji negosiasi.

Penutupan ini dilakukan setelah jalur vital pengiriman minyak itu sempat dibuka oleh Iran, dalam rangka negosiasi dengan AS. 

Siaran stasiun televisi Pemerintah Iran yang dikutip AFP menyebutkan, Washington tetap melanjutkan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. 

“Situasi di Selat Hormuz akan tetap dikendalikan secara ketat,” demikian isi pernyataan tersebut, dikutip dari Al Jazeera. 

Komando militer IRGC juga menegaskan, kendali atas Selat Hormuz kini kembali ke keadaan semula. 

Menurut stasiun tv negara Iran IRIB, AS terus melakukan tindakan ilegal di Selat Hormuz, menuding Washington menjalankan pembajakan dan pencurian dengan kedok blokade. 

“Jalur air strategis ini sekarang berada di bawah pengelolaan dan pengawasan ketat oleh angkatan bersenjata,” lanjut kata IRGC.

“Status Selat Hormuz tetap dikendalikan secara ketat dan dalam kondisi semula, sampai Amerika Serikat memulihkan kebebasan navigasi bagi kapal-kapal. 

Selat Hormuz Sempat Dibuka 

Iran sempat membuka Selat Hormuz pada Jumat (17/4/2026), menyusul gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. 

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Selat Hormuz terbuka untuk semua kapal komersial selama periode gencatan senjata tersebut. 

“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata, pada rute terkoordinasi seperti yang diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran,” tulis Araghchi di X dilansir CNN. 

Namun, tak lama usai pengumuman Menlu Araghchi, keterangan berbeda disampaikan pemerintah Iran.

Iran menyampaikan kepada para mediator bahwa pembukaan Selat Hormuz masih bersifat terbatas.

Teheran tetap akan membatasi jumlah kapal yang melintas dan memberlakukan tarif tol, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Jumat (17/4/2026). 

Berdasarkan informasi dari sejumlah pejabat yang memahami situasi tersebut, setiap kapal yang melintasi jalur pelayaran vital itu wajib berkoordinasi dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). 

Pihak IRGC juga tetap memegang kendali untuk memblokir kapal-kapal yang berasal dari negara-negara yang dianggap musuh oleh Iran.

Detail mengenai pembatasan ini muncul tak lama setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengunggah pernyataan di media sosial X yang menyebut bahwa selat tersebut telah dibuka.

"Hanya beberapa kapal komersial yang akan diizinkan melewati Selat Hormuz dengan syarat membayar tol," ujar Mahmoud Nabavian, seorang anggota parlemen konservatif sekaligus anggota tim perunding dengan AS, melalui unggahannya di X. 

Senada dengan Nabavian, Ali Khezrian yang merupakan anggota Komisi Keamanan Nasional di Parlemen Iran, turut mengonfirmasi bahwa penarikan biaya atau tarif tersebut akan terus diberlakukan.

AS Tetap Blokade

Presiden AS Donald Trump juga sempat mengucapkan terima kasih dan menyambut baik pengumuman dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Namun, ia menambahkan, blokade militer AS di selat selebar 33 kilometer itu tetap berlaku untuk Teheran sampai terjadi kesepakatan final. 

Menurut laporan Al Jazeera, peluang AS mencabut blokade di Selat Hormuz memang tidak pernah tinggi. 

Trump melihatnya sebagai cara untuk memberikan tekanan lebih besar pada Iran. Sebab, presiden ke-47 AS itu merasa masih ada beberapa isu yang belum terselesaikan, termasuk poin utama memastikan Teheran tidak memiliki senjata nuklir. (*)

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved