Berita Nasional

3 Kriteria Menteri yang Diprediksi Didepak Prabowo, Isu Reshuffle Kabinet Kembali Mencuat

Ia berpendapat terdapat tiga faktor yang menentukan pertimbangan Prabowo dalam melakukan reshuffle kabinet.

Tribunnews.com/Taufik Ismail
Presiden Prabowo Subianto melakukan foto bersama Kabinet Merah Putih di depan Istana Merdeka Jakarta, Senin (21/10/2024). Foto tersebut merupakan yang perdana setelah para menteri dilantik. 

TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Prabowo Subianto disebut akan mengganti sejumlah pembantunya di dalam kabinet, di tengah isu reshuffle kabinet kembali mencuat belakangan hari ini.

Analis komunikasi politik Hendri Satrio atau yang akrab disapa Hensa, menilai sejatinya reshuffle kabinet merupakan hak prerogatif Presiden Prabowo Subianto.

Namun ia menilai publik sebenarnya wajar ingin mengetahui kapan reshuffle dilakukan.

"Dalam pemerintahan, presiden paham dan punya kewenangan penuh untuk menentukan siapa yang masuk dan keluar kabinet, meski begitu wajar juga rakyat ingin tahu reshuffle kabinet akan dilakukan," ujar Hensa kepada wartawan, Sabtu (18/4/2026).

Baca juga: TAK Lagi Semua Anak, MBG Bakal Dibagikan Hanya ke Anak Kurang Gizi dan Kurang Mampu

Ia berpendapat terdapat tiga faktor yang menentukan pertimbangan Prabowo dalam melakukan reshuffle kabinet.

Di antaranya subjektifitas like and dislike, objektifitas terkait kinerja, dan faktor politis.

"Ada tiga menurut saya yang menentukan presiden melakukan reshuffle yaitu subjektifitas alias suka atau tidak suka, objektifitas terkait kinerja, dan yang paling penting politis dalam arti mengganggu soliditas kabinet atau tidak," kata Hensa.

Di sisi lain, Hensa pun mengingatkan para pejabat menyadari pentingnya meritokrasi di dalam pemerintahan agar birokrasi bisa tercipta secara profesional.

Baca juga: Guru Besar Unpad Diduga Buat Chat Mesum, Mahasiswi Exchange Diminta Kirim Foto Bikini

"Buat pejabat, ini penting buat pejabat di sini, kalau emang tidak bisa di bidang itu, jangan diterima kerjaan itu, jadilah pejabat yang meritokrasi," kata Hensa.

Hensa pun menilai terkadang para pejabat di Indonesia tidak menyadari persoalan meritokrasi ini.

Banyak pejabat yang menjalankan suatu jabatan tanpa mengerti tugas dan bidang dari jabatan tersebut.

"Semisal contoh, Nadiem misalnya, kalau tidak bisa jadi menteri pendidikan ya jangan diambil (jabatannya), atau misalnya siapa lah, kalau tidak bisa jadi menteri kehutanan, jangan diambil, yang susah tuh rakyat," ujar Hensa.

Founder Lembaga Survei KedaiKOPI ini berharap kepada semuanya agar lebih memahami perannya masing-masing agar pekerjaan serta hasilnya dapat terlihat dan sejalan.

Baca juga: Sosok Rizal Guru Honorer Syok Mendadak Jadi Pemilik Ferrari Rp4,2 M, Foto KTP Dipalsukan

"Setiap orang punya perannya sendiri-sendiri, saya juga punya peran sendiri, jadi harus hormati peran itu," ujar Hensa.

Saat ditanya mengenai siapa-siapa saja yang akan di-reshuffle, Hensa menjawab bahwa dirinya bukan Presiden Prabowo Subianto yang tahu siapa dan kapan reshuffle itu akan dilakukan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved