Berita Internasional

Inilah 10 Syarat Iran dalam Gencatan Senjata dengan AS, Keputusan Selat Hormuz hingga Nuklir

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa jika AS dan Israel menghentikan serangan, Iran juga akan menangguhkan operasi

Kompas.com
Kepala Intelijen Garda Revolusi Iran Majid Khademi wafat dalam serangan AS-Israel, Senin (6/4/2026).(Wikimedia Commons/Khamenei.ir) 

TRIBUN-MEDAN.com - Militer Amerika Serikat menghentikan serangan terhadap Iran setelah Presiden Donald Trump mengumumkan persetujuan gencatan senjata selama dua minggu.

Gencatan senjata adalah kesepakatan penghentian sementara aktivitas militer untuk memberi ruang bagi diplomasi dan perundingan damai.

Trump menyebut proposal gencatan senjata yang diajukan Pakistan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan energi dunia.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa jika AS dan Israel menghentikan serangan, Iran juga akan menangguhkan operasi pertahanan selama periode tersebut. 

Araghchi, yang dikenal sebagai veteran negosiasi nuklir, menegaskan militer Iran akan tetap mengendalikan jalur Selat Hormuz meski lalu lintas kapal dikordinasikan selama gencatan senjata.

Klaim Kemenangan Kedua Pihak

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt memuji gencatan senjata tersebut dan menyebutnya sebagai kemenangan bagi Amerika Serikat.

"Keberhasilan militer kita menciptakan pengaruh maksimal, memungkinkan Presiden Trump dan timnya terlibat dalam negosiasi sulit yang kini membuka peluang bagi solusi diplomatik dan perdamaian jangka panjang," katanya.

Iran pun mengklaim kemenangan dalam perang yang dimulai sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari, dan menyatakan telah berhasil memaksa Amerika Serikat menerima rencana 10 poinnya, termasuk pencabutan sanksi dan penerimaan program pengayaan nuklirnya.

Dalam sebuah pernyataan, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan rencana gencatan senjata mensyaratkan kendali Iran yang berkelanjutan atas Selat Hormuz, penerimaan pengayaan nuklir, dan pencabutan semua sanksi primer maupun sekunder.

Tuntutan utama lainnya dalam rencana tersebut, yang ditawarkan melalui mediator di Pakistan, meliputi penarikan militer AS dari Timur Tengah, penghentian serangan terhadap Iran dan sekutunya, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta resolusi Dewan Keamanan PBB yang menjadikan kesepakatan apa pun bersifat mengikat.

"Pengesahan resolusi tersebut akan menjadikan semua perjanjian ini mengikat di bawah hukum internasional dan akan menjadi kemenangan diplomatik yang signifikan bagi bangsa Iran," kata Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dalam pernyataannya.

Rencana tersebut juga menyerukan perluasan kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur bagi sekitar seperlima minyak dunia yang secara efektif telah terblokir untuk lalu lintas maritim sejak dimulainya konflik lima minggu lalu.

"Tuntutan yang Dapat Dilaksanakan"

Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump mengatakan bahwa ia telah menerima proposal gencatan senjata 10 poin dari Iran.

"Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan — yang meminta saya untuk menahan kekuatan destruktif yang dikirim malam ini ke Iran — dan dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui PEMBUKAAN LENGKAP, SEGERA, dan AMAN Selat Hormuz, saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu. Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah!" kata Trump, Rabu (8/4/2026) pukul 05.32 WIB.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved