Makan Bergizi Gratis

Skema Penyaluran MBG Berubah Lagi, Distribusi Cuma Hari Sekolah

Skema penyaluran MBG berubah lagi. Menu MBG kini hanya diberikan pada hari sekolah dan tidak lagi disalurkan saat hari libur

Editor: Juang Naibaho
Kompas.com
Menu MBG lele mentah yang ditolak SMAN 2 Pamekasan karena bau amis pada Senin (9/3/2026)(KOMPAS.COM/Fathor Rahman) 

TRIBUN-MEDAN.com - Skema penyaluran menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berubah lagi.

Bantuan tersebut kini hanya diberikan pada hari sekolah dan tidak lagi disalurkan saat hari libur.

Keputusan ini diambil setelah evaluasi lintas kementerian/lembaga dalam rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan di Jakarta, Kamis (2/4/2026). 

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengatakan, kebijakan sebelumnya yang tetap menyalurkan MBG saat hari libur dinilai kurang efektif. 

“Dalam rangka perbaikan, efektivitas pelaksanaan, kalau kemarin (MBG diberikan selama) 6 hari, hari libur dikasih juga. Nah, itu ternyata kurang efektif. Oleh karena itu kita putuskan MBG itu (diberikan saat) hari sekolah, (murid) datang 5 hari,” ujar Zulhas.

Ia mencontohkan, penyaluran MBG saat libur Lebaran tidak berjalan optimal karena siswa tidak berada di sekolah. 

“Kalau libur Lebaran, kan, kalau (diberikan MBG) juga tidak efektif. Jadi itu libur tidak ada lagi (penyaluran MBG ke siswa), hanya diberikan di hari sekolah,” lanjutnya. 

Baca juga: Mobil MBG Disalahgunakan, Dipakai Jemput di Bandara Lombok hingga Dipakai Piknik, BGN Telusuri

Meski demikian, pemerintah memastikan distribusi MBG tetap berjalan bagi kelompok rentan. 

Berdasarkan pedoman dari Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Keputusan Kepala BGN Nomor 52.1 Tahun 2025, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tetap menerima bantuan enam hari dalam sepekan, tanpa terpengaruh kalender libur sekolah. 

Sementara itu, siswa dan santri masih bisa memperoleh paket MBG selama libur, namun bergantung pada kesiapan sekolah atau pesantren dalam mengatur distribusi. 

Pemerintah juga memberikan perhatian khusus pada daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) serta wilayah dengan tingkat stunting tinggi. 

Menurut Zulhas, skema distribusi di wilayah tersebut bisa lebih fleksibel, termasuk kemungkinan penambahan hari pemberian bantuan.

“Tetapi yang 3T dan yang tinggi sekali stunting-nya, tentu ada penanganan khusus. Selain 5 hari sekolah, kalau diperlukan bisa saja ditambah lagi 1 hari,” jelasnya. 

Ia menegaskan, program MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tidak mengalami perubahan karena dinilai sudah berjalan baik dan krusial bagi masa depan generasi mendatang. 

“Perlu disempurnakan saat ini, iya. Tapi (MBG untuk) ibu hamil dan menyusui dan balita sangat penting, karena itu akan menentukan masa depan anak-anak kita yang pada akhirnya akan menentukan masa depan Indonesia. (Sejauh ini) Tidak ada perubahan apa pun,” kata Zulhas.

Hemat Rp 20 Triliun

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved