Berita Viral

AS Jatuhkan Bom Seberat 2,2 Ton, Hantam Fasilitas Rudal Bawah Tanah Iran di Dekat Selat Hormuz

Amerika Serikat menjatuhkan bom penghancur bunker seberat 5.000 pound atau 2,5 ton ke fasilitas rudal bawah tanah Iran di dekat Selat Hormuz.

Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN
ABK WNI HILANG - Tiga anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) dilaporkan hilang setelah mengalami insiden kapal meledak di Selat Hormuz. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Amerika Serikat melancarkan serangan besar ke wilayah Selat Hormuz sejak Selasa (17/3/2026) waktu setempat.

Serangan besar ini turut menjatuhkan bom penghancur bunker seberat 5.000 pound atau 2,5 ton ke fasilitas militer dan rudal bawah tanah Iran di dekat Selat Hormuz.

Serangan ini terjadi setelah pelayaran energi global terganggu dan membuat harga minyak melonjak tajam.

Otoritas militer AS menyebut target adalah situs rudal yang dinilai mengancam kapal internasional yang melintas di perairan Selat Hormuz.

Komando Pusat AS (CENTCOM) melalui pernyataan di platform X mengonfirmasi bahwa mereka menggunakan bomber GBU-72 seberat 5.000 pound atau 2,5 ton untuk penghancur bunker.

Bom itu dikabarkan menghantam fasilitas rudal Iran yang tersembunyi di bawah tanah di sepanjang garis pantai dekat Selat Hormuz pada Selasa (17/3/2026).

“Beberapa jam lalu, pasukan AS berhasil menggunakan sejumlah munisi penetrator dalam seberat 5.000 pound terhadap situs rudal Iran yang diperkeras di sepanjang garis pantai Iran dekat Selat Hormuz,” kata Komando Pusat AS (CENTCOM) melalui platform X. 

Kapal tanker China diizinkan Iran untuk melewati Selat Hormuz yang ditutup Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sejak 28 Februari 2026. @ChinaNow24,Rabu (4/3/2026).
Kapal tanker China diizinkan Iran untuk melewati Selat Hormuz yang ditutup Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sejak 28 Februari 2026. @ChinaNow24,Rabu (4/3/2026). (TRIBUN MEDAN/X @ChinaNow24)

CENTCOM menegaskan bahwa fasilitas tersebut menyimpan rudal jelajah anti-kapal Iran yang dinilai berbahaya bagi pelayaran internasional. 

“Rudal jelajah anti-kapal Iran di lokasi tersebut menimbulkan risiko terhadap pelayaran internasional di selat itu,” tambah pernyataan tersebut. 

Seorang pejabat AS mengungkapkan kepada CNN bahwa bom yang digunakan dalam operasi tersebut adalah GBU-72 Advanced 5K Penetrator, jenis bom canggih yang pertama kali digunakan pada 2021.

Bom ini dirancang khusus untuk menghancurkan target yang berada jauh di bawah tanah atau diperkuat dengan perlindungan tinggi.

Menurut keterangan Angkatan Udara AS, senjata tersebut dikembangkan untuk “mengatasi tantangan target yang diperkeras dan terkubur dalam, serta dirancang untuk digunakan oleh pesawat tempur maupun bomber.”

Serangan ini terjadi saat Selat Hormuz—jalur vital bagi distribusi energi dunia—praktis tertutup akibat blokade Iran.

Iran dilaporkan menggunakan ranjau laut, drone, dan kapal untuk menghambat lalu lintas di kawasan tersebut.

Akibatnya, sekitar 27 persen pengiriman energi maritim global terhenti, memicu lonjakan harga minyak hingga menembus lebih dari 100 dollar AS (sekitar Rp 1,6 juta) per barrel.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved