Berita Viral

RS Santa Elisabeth Medan Bantah Lakukan Malapraktik Atas Kematian Balita Jesicca Sipayung

Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan membantah melakukan Malapraktik, yang mengakibatkan seorang balita perempuan bernama Jesicca Sipayung.

Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/Fredy Santoso
Helmi Saragih (31) seorang ibu rumah tangga tak kuasa membendung air mata saat diwawancarai mengingat kepergian anaknya, Jesicca Sipayung, Senin (16/3/2026). Ia melapor ke Polda Sumut usai anaknya meninggal dunia diduga akibat malapraktik dokter di RS Santa Elisabeth Medan. 

Sesampainya di rumah sakit, dan diperiksa, demam Jesicca mencapai 40 derajat celsius, dan dilanjutkan diberi obat melalui anus. Usai diberikan obat demam yang semula tinggi mulai menurun.

Esok harinya, karena dianggap mulai membaik, Helmi menayangkan ke pihak rumah sakit apakah anaknya boleh pulang atau tidak.

Kemudian, lanjut Helmi, pihak rumah sakit melarang anaknya pulang, dan bilang kalau tetap mau pulang, fasilitas BPJS akan dinonaktifkan.

"Akhirnya kami mengikuti peraturan rumah sakit, dan kami percaya bahwa anak kami nanti bakalan sembuh."

Sekitar pukul 12:00 WIB, dokter bernama Nelly Saurma Simarmata menyampaikan kalau Jesicca terkena penyakit demam berdarah (DBD).

Lalu sore harinya, perawat disebut menyuntikkan cairan kepada Jesicca, dan bilang akan ada efek samping yaitu lemas.

"Setelah itu, sekitar sore, perawat ada menyuntikkan Jessica. Dia, perawat itu, ngomong gini, Bu, ini nanti efeknya lemas ya, Bu. Ibu jangan khawatir. Perawatnya ngomong gitu,"katanya menirukan.

Beberapa jam setelah disuntik, kondisi Jesicca mulai berubah. Awalnya dibilang ada efek samping lemas, malah sebaliknya. Anak 2 tahun itu justru gelisah, dan rewel.

Ketika Helmi menanyakan kepada pihak rumah sakit, disebut tidak ada jawaban. "Tapi, setelah beberapa lama prosesnya, ternyata yang dirasakan Jessica bukan lemas, malah sebaliknya. Dia gelisah, dia nggak bisa tidur, dia rewel terus gitu,"ucapnya.

"Dan, saat itu saya ngomong, "Suster, ini kenapa kok gini, mereka tidak ada jawaban,"sambungnya.

Esok harinya, tanggal 4 Januari, kondisi Jesicca disebut semakin memburuk. Ia seperti sesak nafas, wajahnya membengkak, juga bagian perutnya kembung.

Sampai akhirnya ia dipasang selang oksigen untuk bernafas. "Saat tanggal 4, perubahannya semakin memburuk, seperti kayak sesak bernafas, mukanya pun sudah bengkak-bengkak gitu, dan mereka tidak ada sama sekali mengatakan apapun dari pihak rumah sakit. Sehingga dipasanglah oksigen karena keadaannya seperti sudah mulai agak parah."

Selanjutnya, 5 Januari, Jesicca dirontgen dan pihak rumah sakit menyatakan ada cairan di dalam paru-parunya, lalu disarankan masuk ke ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Namun pihak Helmi tidak langsung menyetujuinya, dan minta waktu untuk berunding.

Di samping itu, Helmi menyampaikan bisa tidak anaknya ditemani karena kondisinya masih sadar. 

Tak lama kemudian, pihak keluarga menyetujui Jesicca dimasukkan ke ruangan. Dari dalam ruangan, anak 2 tahun itu menahan takut.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved