Berita Nasional

Imbas Perang Israel vs Iran, 2 Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Bahlil: Bukan Masalah

Bahlil Lahadalia mengatakan, dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang terjebak di Selat Hormuz

Tangkapan layar TV Parlemen DPR RI
MARAH - Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Kompleks Senayan, Jakarta, Rabu (3/7/2025). Bahlil murka marahi dirjen hingga Dirut PLN 

TRIBUN-MEDAN.com - Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus berlanjut hingga saat ini, dengan konflik yang tak kunjung mereda.

Situasi kian memanas menyusul serangkaian serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Serangan udara tersebut bukan sekadar menghancurkan infrastruktur penting dan menimbulkan sejumlah korban sipil, tetapi juga berdampak pada struktur kepemimpinan tertinggi Iran.

Dalam insiden tersebut, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas setelah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di kompleks kediamannya di Teheran.

Kabar kematian Khamenei kemudian disampaikan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui unggahan di platform Instagram.

Trump pun mengutarakan penilaian kerasnya terhadap figur Khamenei, menyebutnya sebagai salah satu sosok paling jahat dalam sejarah.

"Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah meninggal," tulis Trump.

Pecahnya perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel turut membawa dampak bagi dunia internasional.

Pasalnya Iran telah menutup Selat Hormuz yang selama ini dikenal sebagai salah satu jalur transit minyak dunia.

Lantas, bagaimana nasib Indonesia terkait kondisi tersebut?

Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia

Menteri Energi dan Sumber Daya (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang terjebak di Selat Hormuz terus diupayakan untuk bisa keluar dari wilayah konflik tersebut.

Menurutnya, pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) tengah menempuh jalur diplomasi untuk mengeluarkan kapal yang mengangkut minyak mentah (crude) tersebut.

"Kami lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan," ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Namun, dalam skenario terburuk jika kedua kapal tidak bisa keluar, maka perlu dilakukan pembelian minyak mentah dari wilayah yang pengirimannya tidak melewati Selat Hormuz.

Langkah ini untuk memastikan pasokan energi nasional tetap aman di tengah gejolak global.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved