Opini
Kolaborasi Pawn Triangle Menguatkan Transformasi UMKM Bank Sumut
Bank Sumut mencatatkan prestasi pada ajang Bisnis Indonesia Financial Award (BIFA) 2025 sebagai bank yang memberi pelayanan maksimal ke pelaku UMKM.
Penulis: Tommy Simatupang | Editor: Tommy Simatupang
TRIBUN-MEDAN.com - Raihan penghargaan yang diperoleh Bank Sumut pada ajang Bisnis Indonesia Financial Award (BIFA) 2025 tidaklah sekadar kemenangan dalam kompetisi. Tapi, bermakna sebuah harapan yang besar. Penghargaan ini memang layak disyukuri. Bank dengan label daerah bergerak agresif. Rasa bangga atas pencapaian, boleh, tapi sepantasnya cukup sebagai rasa syukur. Sebab, depan mata sudah berdiri anak tangga untuk naik tahapan. Tahapan yang menguji rasa sabar, daya kreativitas, dan kesetiaan untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Torehan prestasi sebagai Regional Development Bank with Product Service Innovation for MSMEs pada kompetisi BIFA 2025 bermakna tantangan. Pelaku usaha di Sumut menanti program selanjutnya untuk menyokong produk UMKM. Mereka menagih rencana terbaru yang makin inovatif, kreatif, dan mutakhir. Semua seiring dengan pencapaian akan pengakuan sebagai bank yang perhatian dengan pelaku UMKM. Tahun 2026 masih panjang, tampaknya perlu menyuguhkan daftar program yang segar untuk konsisten menghidupkan dunia usaha di Sumut.
Tantangan ini bukan sembarangan. Tantangan yang pastinya sudah dirasakan pihak perbankan. Penulis sependapat dengan pernyataan PT Bank Sumut setelah menerima penghargaan bergengsi itu, bahwa pelaku UMKM di Sumut perlu naik kelas. Bank tidak boleh diam, apalagi stagnan. Bank tidak boleh berhenti pada program penyaluran pembiayaan mudah dan praktis, melainkan mau "ikut campur" terutama pendampingan digitalisasi layanan dan peningkatan literasi keuangan. Penguatan di sisi digitalisasi UMKM perlu gencar untuk mendukung pelaku usaha bersaing dengan produk lain yang lebih luas. Digitalisasi memang bukan "barang baru" di era serba AI (artificial intelligence) ini. Tapi, masih menjadi tugas yang belum tuntas.
Fokus penguatan digitalisasi UMKM sejalan dengan misi Pemerintah Provinsi Sumut. Pemerintah Provinsi Sumut telah mengimbau para perbankan untuk berdiskusi soal digitalisasi UMKM. Berdasarkan data Juli 2025, bahwa masih 19 persen pelaku UMKM yang bertransformasi ke digital. Dan, yang tak disangka, cuma 3 persen yang terhubung dengan ekosistem digital. Pemerintah melihat ini sebagai angka yang sangat kecil. Ekosistem digital UMKM belum hidup. Gubernur Sumut, Bobby Nasution sudah menyenggol pihak perbankan untuk terlibat dalam pembinaan UMKM. Apalagi, produk UMKM di Sumut dipercaya mampu bersaing di pasar luas. UMKM unggulan Sumut didominasi sektor agrikultur dan kreatif, meliputi kopi dari wilayah Kabupaten Mandailing dan Kabupaten Dairi, produk olahan sawit, kerajinan wastra (ulos), kriya, dan kuliner telah menembus pasar ekspor dengan peningkatan produksi dan efisiensi. Namun, perbankan tak perlu canggung, pelaku UMKM sudah mulai didominasi anak-anak muda, generasi milenial, bahkan generasi-Z yang sejak bayi sudah mahir scrolling YouTube. Sehingga, cuma perlu sentuhan sedikit tapi paten.
Sebagian banyak UMKM telah masuk dalam pembinaan perbankan. Pembinaan bukan cuma penyaaluran modal, melainkan turut pemahaman digital. Misalnya, UMKM binaan Bank Sumut telah mendapatkan pendampingan terkait teknologi informasi. Kerangka kerja sebenarnya sudah tepat. Program kerja itu membuahkan hasil dengan predikat bank pembangunan dengan inovasi produk dan layanan untuk UMKM.
Bank Sumut sekarang bisa lebih fokus memberi edukasi penggunaan fasilitas pembayaran digital yang aman dan efesien. Mobile banking Bank Sumut yang bernama New SUMUT Mobile memiliki fitur yang mempercepat kerja pelaku usaha dalam transaksi; pocket untuk manajemen rekening; top up e-wallet; dan QRIS. Pada sisi keamanan, New SUMUT Mobile menjaga data riwayat transaksi hingga dua tahun, blokir ATM, dan mendukung proses log in menggunakan fingerprint dan password.
Fitur keamanan sangat penting bagi nasabah yang menggunakan aplikasi mobile banking. Tak bisa dipungkiri, nasabah memiliki kekhawatiran setelah mengunduh aplikasi layanan perbankan berbasis digital. Serangan pelaku penipuan untuk mencuri data nasabah lewat tautan aplikasi tiruan berserak masuk ke ponsel (skimming). Biasanya pelaku kejahatan mengaku dari pihak perbankan, meminta data pribadi, dan mengarahkan nasabah mengikuti instruksi. Dan, dalam hitungan kurang tiga detik saldo lenyap. Ini persoalan sangat serius.
Kabar baiknya, Bank Sumut telah mengantisipasi bentuk kejahatan pencurian dengan memperkuat sistem keamanan. Putusan bekerja sama dengan PT Multipolar Technology Tbk (Multipolar Technology) sudah tepat. Multipolar Technology merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan sistem teknologi informasi (TI). Keputusan ini bentuk ekspansi sekaligus solusi cepat menjawab kekhawatiran nasabah. Penerapan VisionDG modul Fraud Detection System (FDS) membentengi dari transaksi anomali. Tak cuma itu, sistem akan memberikan notifikasi secara real-time kepada nasabah melalui surel, telegram, atau whatsApp. Kerja sama dengan perusahaan teknologi merupakan langkah yang tepat. Bank Sumut tidak menganggap sepele aksi skimming ini. Nilai plusnya, inisiatif ini tidak cuma meningkatkan keamanan digital, tetapi melindungi reputasi Bank Sumut. Dengan penguatan keamanan digital, sepantasnya, bisa meningkatkan kepercayaan diri di hadapan para pelaku UMKM.
Perolehan prestasi di sektor pengembangan UMKM secara pasti menjadi tugas besar. Bukan terlena dalam momen euforia. Tapi, ini sebuah ujian naik kelas. Pengujian konsistensi mempertahankan gelar. Konsisten berperan dalam program Pemprov Sumut. Diharapkan, dengan pemahaman literasi keuangan, bisa menjadi garda depan soal ekosistem digital. Sistem-sistem yang dibangun ibarat susunan batu pondasi yang kokoh. Pondasi yang membuat rasa aman nasabah saat berada di dalam. Pelaku usaha memiliki rumah yang aman dan nyaman.
Terakhir, senjata pamungkas yang dikerahkan adalah kolaborasi. Bank Sumut bisa mengikuti slogan "Kolaborasi Sumut Berkah" yang digaungkan Gubernur Bobby Nasution. Formasi apik antara perbankan, pelaku UMKM, dan pemerintah bisa menghasilkan strategi "bukan kaleng-kaleng". Strategi ini memuluskan produk UMKM Sumut menyeruak ke pasar global. Kolaborasi yang terkoneksi ibarat pawn triangle formation atau taktik menyerupai segitiga pada pola permainan catur. Formasi ini bukan sekadar berani menantang, tetapi kokoh di pertahanan. Jika diiilustrasikan ke papan catur, pelaku UMKM maju jauh di kolom e4 bersiap menusuk masuk ke wilayah lawan, disusul pihak perbankan di kolom d3 melindungi (proteksi), dan pemerintah berdiri di kolom c2 memfasilitasi kebutuhan serangan. Taktik ini membuat produk UMKM tampil percaya diri, karena perlindungan kuat dari perbankan dan pemerintah.
Jadi, tak ada yang mustahil, Provinsi Sumut bisa semakin dikenal dunia lewat produk-produknya yang tersebar. Bahkan, penulis percaya, inovasi itu sesungguhnya sering lahir dari daerah. Sumut yang berada jauh dari Ibu Kota Negara punya potensi besar. Ini peluang strategis untuk menciptakan efisiensi dan mendorong daya saing. Semoga tahun 2026, Bank Sumut tetap komitmen menjaga prestasi di sektor UMKM. Apalagi, dengan perubahan jajaran direksi di awal tahun memperkuat lini bisnis, mempercepat digitalisasi, dan meningkatkan kualitas layanan Bank Sumut.(tmy/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Gubernur-Sumatera-Utara-sekaligus-Pemegang-Saham-Pengendali-Bank-Sumut.jpg)